<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646</id><updated>2011-07-30T12:19:44.893-07:00</updated><category term='Resensi'/><category term='Blog'/><title type='text'>Tokoh Buku</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-6312364941512859699</id><published>2009-04-22T03:50:00.001-07:00</published><updated>2009-04-22T03:52:03.321-07:00</updated><title type='text'>Ramya Hayasrestha, Penulis Cilik yang Hasilkan Banyak Buku</title><content type='html'>Ramya Hayasrestha Sukardi merupakan contoh gadis cilik yang dikaruniai talenta menulis luar biasa. Di usianya yang masih 10 tahun, dia telah menulis lima buku cerita anak. Salah satu bukunya berjudul Dunia Es Krim bahkan telah lima kali naik cetak dan masuk daftar buku terlaris.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh: Raka Mahesa Wardhana, Wartawan Jawa Pos&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MARCAPADA Sukardi tak pernah menyangka kalau hadiah ulang tahun yang dia berikan kepada undangan yang hadir dalam pesta ulang tahun anaknya, Ramya Hayasrestha, menjadi awal karir sang buah hati di dunia menulis. "Waktu itu saya cuma kumpulin cerpen yang dia buat lalu saya jadikan buku untuk ulang tahunnya yang kedelapan," ujar CEO perusahaan trading di Jakarta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat perayaan hari bahagia anaknya itu, Marcapada memang sengaja mempersiapkan suvenir yang berbeda untuk undangan yang hadir. Yakni, kumpulan cerpen karya Ramya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana ceritanya, setelah suvenir itu berada di tangan teman-teman Ramya, ada salah satu yang sampai di meja penerbit. Akhirnya, penerbit itu tertarik untuk memperbanyak kumpulan cerpen yang kemudian diberi judul Petualangan Ramya itu. Isinya cerita-cerita dan pengalaman pribadi Ramya sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesukaan Ramya menulis memang bukan datang tiba-tiba. Sebab, di keluarga Marcapada, menulis menjadi hal wajib yang dilakukan sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu kebiasaan yang selalu dilakukan keluarga Marcapada. Yaitu, menyurati semua anggota keluarga setiap minggu. Karena anggota keluarga Marcapada terdiri atas lima orang, tiap satu orang harus menulis empat surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramya yang merupakan anak tertua, harus menulis surat berisi ucapan terima kasih dan pujian untuk kedua adik dan orang tuanya. Mengetahui kebiasaan tersebut, saudara sepupu Ramya memberikannya setumpuk kertas. "Kasihan kertasnya daripada nggak dipakai," ujar Ramya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kertas menumpuk tersebut, mulailah Ramya menuliskan setiap aktivitas yang dilakukan. Meski hanya cerita aktivitas sehari-hari, Ramya memiliki tokoh yang diberi nama Anabelle yang juga seusia dengannya. Dengan gayanya sendiri, Ramya mencoba bercerita tentang Anabelle dan segala tingkah lakunya. Tokoh fiktif ini murni hasil imajinasi Ramya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, Ramya mulai membuat kisah lebih bebas. Dia tak lagi berkutat dengan kejadian yang dialami, tapi jauh mengeksplorasi imajinasinya secara bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari imajinasinya itu, terbitlah beberapa buku lagi. Misalnya, buku berjudul Dunia Es Krim yang bercerita tentang seorang gadis kecil yang terjebak ke dalam dunia penuh es krim. Petualangan sang gadis cilik untuk terbebas dari jebakan es krim dia ceritakan dengan menarik, khas anak kecil. Buku lainnya berjudul My Piano, My Best Friend yang bercerita tentang seorang gadis kecil yang memiliki teman baik sebuah piano yang bisa berbicara. Juga bukunya berjudul Magic Crystal yang berisi tentang kisah kristal ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kisah yang dia tulis itu memang tak lepas dari aktivitas Ramya sehari-hari. Dia gemar makan es krim dan main piano. Dari kegemaran itu, gadis kelas lima SD ini mengembangkannya menjadi sebuah kisah yang penuh dengan warna-warni dunia anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita pendeknya memang tak hanya dalam bentuk buku. Beberapa di antaranya sempat dimuat media cetak ibu kota. Kebiasaannya membaca yang diperkenalkan ayahnya sejak kecil membentuk tulisannya sedemikian rupa. Bahkan, ketika kali pertama bukunya diterbitkan, sang penerbit tak bisa langsung percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini tulisan sudah jadi, tidak mungkin anak SD bisa buat ini," ujar Marcapada menirukan kata-kata sang penerbit ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Marcapada, Ramya berkenalan dengan buku sejak masih bayi. "Saya kasih buku, walaupun digigit-gigit tidak apa-apa," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ramya sudah bisa mendengar dan tertarik dengan cerita, setiap sebelum tidur, Marcapada dan istri berusaha mendongengkan sebuah cerita pengantar tidur. Cerita itu dikarang sendiri oleh Marcapada dan istri. Banyaknya cerita kadang membuat sang ayah lupa ketika ditagih untuk menceritakan kembali apa yang pernah didongengkan. "Saya sering lupa dengan cerita saya sendiri," ujarnnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi Rabu, 22 April 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-6312364941512859699?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/6312364941512859699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=6312364941512859699' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/6312364941512859699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/6312364941512859699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2009/04/ramya-hayasrestha-penulis-cilik-yang.html' title='Ramya Hayasrestha, Penulis Cilik yang Hasilkan Banyak Buku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-1455321768547917266</id><published>2009-04-18T11:17:00.000-07:00</published><updated>2009-04-18T11:20:09.227-07:00</updated><title type='text'>Haryoto Kunto: Menjaga Arwah Bandung dengan Buku</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunto memang tak seterkenal Charles Prosper Wolff Schoemaker—dosen arsitek Belanda dan sekaligus dosen Soekarno sewaktu kuliah di ITB Bandung. Nama Schoemaker sama terkenalnya dengan Herman Thomas Karsten yang tercetak di balik dinding-dinding tua bangunan bersejarah masa silam Indonesia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya, “kekuasaan” Karsten merentang di banyak kota seperti Semarang, Bandung, Batavia, Magelang, Malang, Buitenzorg, Madiun, Cirebon, Jatinegara, Yogya, Surakarta, dan Purwokerto, sementara Schoemaker “hanya” menguasai Bandung Raya. Tangan dingin Schoemaker masih bisa dilihat di Gereja Kathedral di Jln. Merdeka, Gereja Bethel di Jln. Wastukencana, Masjid Cipaganti, Bioskop Majestic, Hotel Preanger, Gedung Asia Afrika, dan Gedung PLN Bandung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Kunto tahu bagaimana mengawetkan bangunan tua itu menjadi narasi yang berdenyut. Disusunnya dua buku yang kemudian menjadi sangat terkenal dan terlengkap yang berkisah tentang narasi Bandung pada sebuah masa lewat: Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984) dan Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986). Dua buku itu adalah dua album kolase; sepasang mata yang terus menjaga warisan Bandung dari aksi pemugaran pemerintah kota yang kerap berpikiran pendek dan cekak. Sepasang album itu juga yang kemudian menahbiskan nama Kunto sebagai “juru kunci” kota yang pernah bernama Negoriij Bandoeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumnus jurusan Tata Pembangunan Daerah dan Kota (Planologi) ITB ini memang menjadi “alamat” bagi siapa saja yang ingin mengetahui hal-ihwal Bandung pada masa lewat. “Gelar istimewa” ini diperolehnya justru karena ia penggila buku-buku sejarah, terutama ihwal perkotaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga ia wafat pada 4 September 1999 di usianya yang ke-59, Kunto telah menjadikan rumahnya sebagai gudang dari 30 ribu judul buku, 50 set ensiklopedia, dan ratusan judul makalah yang dipungutnya sepanjang hayat dikandung raga sejak usia 7 tahun. Koleksi Kunto umumnya buku berbahasa Inggris (45%), sekira 35% berbahasa Indonesia, dan sisanya berbahasa Belanda. Dan kebanyakan koleksi itu tergolong antikuariat karena usianya sudah lebih dari seabad, seperti karya Dr FJ Veth, Dr F de Haan, HA van Hien, Dr HH Juynboll, Clive Day, Dr FDK Bosch, Dr B Schrieke, W Ruin Mees, Dr J Gonta, maupun CC Berg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minat Kunto atas buku-buku antikuariat ihwal Bandung itu membuncah justru dipicu energi negatif yang dihembuskan oleh perpustakaan-perpustakaan publik yang dikelola ambtenaar (pegawai negeri) yang tak becus mengurusi buku. Betapa prihatinnya Kunto, misalnya, dengan nasib perpustakaan Gedung Sate Bandung. Sebelumnya, perpustakaan ini adalah perpustakaan teknik terlengkap se-Asia Tenggara. Tapi kenangan itu tinggallah puing karena semua buku antikuariatnya sudah lenyap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tak usah juga ditanya perpustakaan kotamadya. Hanya dua lembar saja yang ditemukan Kunto yang bercerita soal sejarah Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keprihatinan itu yang kemudian menyalakan semangatnya. Mesti ada daya maksimum yang menyelamatkan Bandung dari kepunahan historisnya. Seorang diri dikerahkannya daya kecintaannya yang meluap-luap untuk menyusur sehasta demi sehasta sumber-sumber yang berkisah tentang Bandung. Dana yang tak seberapa dalam tabungan keluarga dikurasnya habis-habisan untuk berkelana mencari buku. Sampai-sampai istrinya mengeluh. Jika ditegur sang istri, dengan diplomatis ia selalu menjawab: "Sudahlah Mah, nanti juga kan kembali lagi uangnya, dari tulisan Bapak di koran. lagipula buku bisa untuk amal ibadah bagi orang yang perlu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat baik dan kegigihan tanpa pamrih khas relawan selalu bersambut. Dari cicilan tulisannya tentang Bandung di masa lewat di harian Pikiran Rakyat, simpati masyarakat yang peduli Bandung bermunculan. Bahkan kerap buku-buku antikuariat datang sendiri karena si empu buku yakin Kunto layak dipercaya untuk mengurus dan mengawetkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan rumahnya, museum pengawetan itu kini berdiri. Justru setelah Kunto tiada. [dikutip dari pelbagai sumber]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-1455321768547917266?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/1455321768547917266/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=1455321768547917266' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/1455321768547917266'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/1455321768547917266'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2009/04/haryoto-kunto-menjaga-arwah-bandung.html' title='Haryoto Kunto: Menjaga Arwah Bandung dengan Buku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-7355015123059357966</id><published>2008-05-20T18:14:00.000-07:00</published><updated>2008-05-20T18:16:26.983-07:00</updated><title type='text'>Rian Hamzah, Mengayuh Minat Baca dari atas Sadel</title><content type='html'>Sepeda mini abu-abu berkeranjang merek Polygon itu sudah kusam. Di beberapa bagian bahkan tampak agak ringkih. Berbeda dengan sepeda lainnya, buku-buku memenuhi keranjang dan boncengannya. Bendera merah-putih pada sebilah kayu dipasang di boncengan sepeda itu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemiliknya, Rian Hamzah, 34 tahun, menamainya Perpustakaan Keliling Sepeda Pintar. Sehari-hari Rian mengamen dengan membaca puisi di kendaraan umum. Sambil “bekerja”, ia menggunakan sepeda yang dibelinya awal tahun lalu seharga Rp 500 ribu itu untuk menularkan kegemaran membaca kepada anak jalanan. Saban hari ia mengayuh sepeda dari halte ke halte, dari lampu merah ke lampu merah, membawakan bacaan kepada anak-anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah yang ia bawa tak banyak, kurang dari 50 buku dan majalah sekali angkut. Rute tetapnya Jatinegara, Pramuka di Jakarta Timur, Proklamasi, Imam Bonjol, hingga Bundaran Hotel Indonesia di jantung Jakarta. "Jalan-jalan itu biasa saya lewati," kata penduduk Jatinegara itu, Rabu lalu. Di rute itu ia sudah punya pelanggan. Tapi tak jarang ia bersepeda sampai ke Cibitung, Bekasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati koleksi Sepeda Pintar itu tentu saja gretong, tanpa bayar. "Mereka mau membaca saja sudah syukur," ujar lulusan Sekolah Pembangunan Pertanian di Sumedang, Jawa Barat, itu. Tapi ia mengaku tak kesulitan mendapatkan penggemar. Sepedanya kerap memancing keingintahuan anak jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling digemari bocah-bocah itu bacaan yang bergambar. Ada juga yang melihat-lihat buku umum dan menanyakan isinya kepada Rian jika tak paham. Meski sebenarnya berminat, mereka paling lama membaca sekitar 15 menit, saat lampu hijau. Kalau lampu merah menyala, mereka melempar lagi bacaan ke sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rian memulai perpustakaan kelilingnya dari Sanggar Teater Alam Kita di Kampung Melayu Kecil, Jakarta Timur, lima tahun lalu. Di sanggar itu ia dan beberapa temannya kerap bertukar bahan bacaan. Makin lama buku dan majalah yang terkumpul makin banyak. "Lalu terpikir kenapa nggak dibawa keliling pas lagi ngamen." Dengan berkeliling, buku dan majalahnya bisa dinikmati lebih banyak pembaca. Tapi tak semua koleksi dibawa berkeliling, sebagian di sanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rian membeli sebagian besar bahan bacaan itu dengan uang hasil mengamen puisi, mendongeng, atau honor bermain teater. Untung, istrinya tak pernah memprotes dan malah mendukung. "Yang penting dapur tercukupi," ujar ayah dua anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kerap dijanjikan bantuan jika diundang mendongeng di acara-acara Pemerintah DKI Jakarta. Tapi bantuan tak pernah datang. Proposal permintaan bantuan bukunya juga tak pernah disetujui. Satu-satunya yang memberinya bantuan sekitar 200 buku adalah seorang ibu, istri polisi. Ada buku, juga majalah. Kebanyakan bergambar, tentang rambu lalu lintas. ENDRI KURNIAWATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Koran Tempo Edisi 21 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-7355015123059357966?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/7355015123059357966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=7355015123059357966' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/7355015123059357966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/7355015123059357966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2008/05/rian-hamzah-mengayuh-minat-baca-dari.html' title='Rian Hamzah, Mengayuh Minat Baca dari atas Sadel'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-533137845932177451</id><published>2008-05-17T17:47:00.000-07:00</published><updated>2008-05-17T17:50:10.058-07:00</updated><title type='text'>Para 'Pesohor' Publik Ngomongin Buku</title><content type='html'>Sejumlah figur publik mengungkapkan judul buku memberi pengaruh besar kepada mereka tentang paham kebangsaan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu abad kebangkitan nasional seperti menjadi keniscayaan untuk sebuah selebrasi besar-besaran di sekujur negeri. Diskusi dan seminar digelar, serangkaian acara dirancang, lintasan sejarah kembali dikaji ulang: benarkah bangsa ini sudah betul-betul bangkit seperti diikhtiarkan sejak seratus tahun silam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempo secara acak menghubungi sejumlah figur publik dari kalangan musisi, penyanyi, atlet, dan pekerja profesional untuk mengetahui buku apa yang membuat mereka lebih melek tentang wawasan keindonesiaan. l Yophiandi Kurniawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SHERINA MUNAF&lt;br /&gt;Penyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sherina bersyukur bahwa sekolahnya mewajibkan pembacaan karya sastra klasik, seperti Belenggu karya Armijn Pane. "Banyak ide progresif sekaligus kritik terhadap diri sendiri dalam buku itu," katanya seraya menyebut kumpulan puisi Joko Pinurbo sebagai karya yang membuatnya "berpikir".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, buku yang diakuinya membuka wawasannya tentang kebangsaan adalah Burung-Burung Manyar karya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Dengan fasih, mantan penyanyi cilik ini bisa mengurai plot karya Romo Mangun tersebut dengan detail, termasuk tokoh yang ragu apakah Indonesia akan lebih baik seandainya merdeka dari Belanda atau tidak. "Sekarang pun kondisinya hampir sama," katanya. "Indonesia masih dijajah. Memang bukan fisik, melainkan globalisasi yang menyerang gencar," ujar murid kelas III SMP British International School, Jakarta Selatan, ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak baca chick-lit lazimnya para pelajar sekarang, Sher? "Aku sudah banyak baca komik, jadi tak baca chick-lit lagi," katanya tangkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DITA AMAHORSEYA&lt;br /&gt;Profesional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dita Amahorseya, Vice President Corporate Affairs Head Citibank, memiliki klub buku bersama teman-teman ekspatriatnya. Setiap anggota wajib memberi rekomendasi buku tertentu yang harus dibaca. "Dan harus dalam bahasa Inggris," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bukan buku-buku dalam bahasa Inggris, apalagi yang ditulis sastrawan Barat, yang membantunya memahami problem kebangsaan, melainkan buku-buku karya kakeknya, Sutan Takdir Alisjahbana, dan pengarang angkatan 1930-an lainnya. "Mereka berpikir maju sekali untuk zaman itu," katanya seraya mencontohkan Layar Terkembang sebagai karya yang menginspirasi persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Dita menilai Laskar Pelangi karya Andrea Hirata menjadi contoh inspirasi yang bisa dibangun untuk Indonesia ke depan. "Memang tak seheboh karangan Abdul Muis, Armijn Pane, kakek saya, Pram, atau Mochtar Lubis," katanya. "Tapi masak kita melihat nama-nama itu terus yang bukan potret masa kini, Indonesia modern?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADE RAI&lt;br /&gt;Atlet&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaib. Semangat keindonesiaan I Gusti Rai Agung Kusuma Yudha justru muncul saat ia membaca biografi Bruce Lee, jagoan kungfu pencipta aliran jeet kune do. Lee berjuang hingga bisa menjadi orang Asia yang menaklukkan hati publik Amerika. "Sebelum Lee, Asia tak dianggap di Amerika, walau dia lahir di Amerika," ujar Ade Rai--nama populernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Ade, yang dilakukan Bruce Lee dalam banyak kisah biografinya, antara lain Bruce lee: Biography karya Robert Clouse dan The Bruce Lee Story yang ditulis sendiri oleh sang legenda, membuat dirinya ikut terpantik untuk mengikuti cara Lee dengan menunjukkan kebesaran Indonesia di luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caranya? Sama seperti Lee, yang melakukannya dengan dana terbatas, Ade pun memilih tak mengeluh dengan dana yang cekak. "Yang penting mengefisienkan dana supaya tampil di publik internasional, bukan mengeluhkan minimnya dana," katanya sembari menyayangkan citra Indonesia yang kini terpuruk di mata internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GIRING NIDJI&lt;br /&gt;Penyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bawah Bendera Revolusi akan selalu diingat Giring Ganesha Djumaryo, vokalis grup Nidji, sebagai penyemangat untuk membuktikan dirinya bisa berkontribusi terhadap nama Indonesia. Buku yang sering diceritakan ayahnya saat ia kecil dulu itu membuatnya tertarik untuk mengetahui lebih jauh sosok proklamator Indonesia, Soekarno. "Ternyata beliau hebat sekali," ujar Giring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memimpin negara yang masih muda, menurut Giring, Soekarno sudah membuat Indonesia sejajar dengan negara adidaya, seperti Uni Soviet dan Amerika Serikat, pada 1950-an. Bahkan ide Soekarno membuat persatuan negara Asia-Afrika sulit ditemukan tandingannya. "Terlepas dari kekurangannya dalam menjalankan ekonomi," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, sebagai mahasiswa jurusan hubungan internasional di Universitas Paramadina, Jakarta, bacaan favorit Giring tentu bertambah. Salah satunya buku yang berkait dengan pemikiran Henry Kissinger. "Orang-orang yang bervisi seperti inilah yang sulit dicari dalam jajaran politikus sekarang," katanya. Bagaimana kalau dijadikan tema lagu saja, Ring?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Koran Tempo Edisi 18 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-533137845932177451?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/533137845932177451/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=533137845932177451' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/533137845932177451'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/533137845932177451'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2008/05/para-pesohor-publik-ngomongin-buku.html' title='Para &apos;Pesohor&apos; Publik Ngomongin Buku'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-8823944251569736390</id><published>2008-05-17T17:42:00.000-07:00</published><updated>2008-05-17T17:44:33.192-07:00</updated><title type='text'>Empat Kutubuku Nongkrong di Kafe</title><content type='html'>Luangkan waktu sejenak untuk mengamati sekeliling Anda, terutama di tempat-tempat keramaian seperti mal, kafe, atau selasar pusat belanja. Kerumunan massa tenggelam dalam keasyikan memencet tombol telepon seluler atau memelototi layar komputer jinjing. Membaca buku? Di tengah kepungan peranti digital seperti sekarang? "Emang gue pikirin!," jerit manja penyanyi Maia Estianty dalam sebuah lagu yang berkumandang dari sepotong sudut kafe, seolah-olah memberi jawaban spontan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam kaitan bulan buku, Tempo mengunjungi sejumlah tempat publik secara acak. Hasilnya? Sejumlah kutu buku, species yang tahan banting di segala zaman, ternyata masih ditemukan. Alhamdulillah. Mereka ada di setiap cuaca. Bukan cuma di tempat-tempat yang nyaman untuk membaca, juga di tempat cuci kendaraan. Mereka mungkin bukan figur yang kita kenal. Tapi sungguh, ini bukan sebuah kisah tentang pepesan kosong. Apa saja yang mereka baca?Yophiandi Kurniawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hesti Wiriatmadja&lt;br /&gt;Gagap tapi Berkhotbah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca dan Hesti Wiriatmadja, 32 tahun, adalah dua sisi dari sebuah koin. Di mana pun, kapan pun, buku novel detektif James Patterson, atau jurnal kehidupan seorang rohaniwan, selalu tersedia di dalam tasnya. Saat dipergoki Tempo di kafe Starbucks, Kemang, alamak, Reporting Manager Federasi Internasional Perkumpulan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah itu terlihat seperti di rumah sendiri. Duduk selonjoran separuh berbaring. "Ini memang gaya favorit saya," ujarnya seraya memperlihatkan The Anointing karya Benny Hinn, seorang pendeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekagumannya pada jurnal hidup sang rohaniwan, menurut Hesti, karena buku itu menjelaskan bahwa Hinn "bertemu" dengan Sang Pencipta, bahkan seakan-akan berbicara tatap muka. "Dia seorang gagap, tapi bisa berkhotbah, bagaimana bisa menjelaskan itu?" tutur alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini. Dia "menemukan" Hinn lewat sebuah acara kesaksian di gereja. Selisik punya selisik, rupanya Hinn lumayan sering datang ke Indonesia. Klop. Maka Hesti pun dengan cepat menjadi pengagum baru Pak Pendeta. Satu buku Hinn lainnya sudah masuk jalur antrean untuk segera dibaca: Good Morning Holly Spirit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan Sulistiawan&lt;br /&gt;Banyak tapi Biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan Sulistiawan, 39 tahun, punya cara cespleng untuk mengusir rasa bosan saat menunggu sepeda motornya dicuci: membaca. Bukan berita di koran, atau cerpen, melainkan novel seperti Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang, pengarang perempuan yang tinggal di Surabaya. Novel ini pernah dipentaskan Iwan di kampus tempatnya mengajar, Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA (Lembaga Indonesia Amerika), di kawasan Pengadegan, Jakarta Selatan. Siapa peserta teaternya? Ternyata para mahasiswanya sendiri yang memanggil Iwan dengan nama singkat: Bung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Februari lalu dia kembali mementaskan Perempuan Kembang Jepun pada sebuah acara ulang tahun mailing-sastra di Jakarta. "Tapi saat itu saya baca novel ini dengan cepat," ujar magister kajian wilayah Amerika dari Universitas Indonesia ini. Saat ini koleksinya karya fiksinya sudah ratusan judul. "Tapi itu bukan hal hebat. Biasa saja karena memang saya butuhkan untuk mengajar sastra," ujar dosen creative writing ini sambil tertawa. Diam-diam Iwan ternyata juga penulis cerpen yang cukup produktif. Sejumlah cerpennya pernah muncul di harian The Jakarta Post. "Saya memang lebih syur menulis dalam bahasa Inggris," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astri Wulandari&lt;br /&gt;Kera tapi Ganteng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain Hesti, lain Astri Wulandari. Meski sama-sama suka nongkrong di kafe, tempat favoritnya adalah di Oh la la, Sarinah, pada pagi hari. "Sepi, enak banget buat baca," katanya memberi alasan. Kalau sudah begitu, karyawan staf hubungan masyarakat Visi Anak Bangsa tersebut bisa lupa waktu karena larut dalam karya-karya penulis favoritnya: Seno Gumira Ajidarma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kepiawaian Seno mengemas rincian tempat dan tokoh yang ditampilkan itu membuat kisah sangat hidup," ujarnya memberi alasan. Ia, misalnya, mengaku kepincut habis-habisan pada Hanoman, yang digambarkan Seno dalam Kitab Omong Kosong. "Walaupun digambarkan berfisik kera, saya membayangkannya ganteng sekali," katanya terkakak-kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dipo Siahaan&lt;br /&gt;Lambat tapi Misterius&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah kafe di Plaza Senayan, Tempo bersirobok dengan Dipo Junjungan Siahaan, 29 tahun. Pria bertubuh tonjang ini terlihat larut dalam alur No Reason for Murder yang sedang di tangannya. "Ini karya novelis Jepang, Ayako Sono," ia menjelaskan. "Tempo ceritanya lambat lazimnya novel-novel Jepang, tapi asyik karena cara pengemasan misteri berbeda dengan para penulis Barat," ujar Program Officer The Japan Foundation, Jakarta, ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini novel Jepang yang sudah dikoleksi Dipo sekitar 30 judul. Pengarang Jepang favoritnya adalah Haruki Murakami, sastrawan yang konon termasuk sebagai kandidat peraih Nobel Sastra 2007. "Novel-novel Murakami lebih condong bernuansa Barat, meski unsur Jepang modernnya masih terasa," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Koran Tempo Edisi 11 Mei 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-8823944251569736390?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/8823944251569736390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=8823944251569736390' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/8823944251569736390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/8823944251569736390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2008/05/empat-kutubuku-nongkrong-di-kafe.html' title='Empat Kutubuku Nongkrong di Kafe'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-2249934317232261158</id><published>2008-03-22T19:46:00.000-07:00</published><updated>2008-03-22T19:54:11.015-07:00</updated><title type='text'>Habiburrahman El Shirazy, Penulis Novel "Mega Bestseller" Ayat-Ayat Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R-XGJl4bHcI/AAAAAAAAANY/TTiWLDGDWJo/s1600-h/habiburrahman+shirazy.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R-XGJl4bHcI/AAAAAAAAANY/TTiWLDGDWJo/s200/habiburrahman+shirazy.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5180764814449515970" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah karya bisa mengubah seseorang dari bukan siapa-siapa menjadi siapa dengan "S" besar (baca: terkenal, Red). Kini, siapa tidak kenal novelis Habiburrahman El Shirazy?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat karyanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ayat-Ayat Cinta &lt;/span&gt;(AAC), saat ini dia menjadi salah seorang novelis yang cukup ternama di negeri ini. Kang Abik, demikian dia biasa disapa, sebenarnya bukan penulis baru. Cukup banyak novel yang telah ditulis dan diterbitkannya. Rata-rata karyanya bernuansa agamis sesuai background-nya sebagai santri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum AAC yang melambungkan namanya, Kang Abik menulis &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bercinta untuk Surga, Di Atas Sajadah Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Dalam Mihrab Cinta&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketika Cinta Bertasbih&lt;/span&gt; jilid satu dan dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, karya AAC telah menarik hati sutradara muda berbakat Hanung Bramantyo untuk menyuguhkannya dalam karya sinematrogarafi. Hasilnya, film AAC dibintangi beberapa artis terkenal, seperti Fedi Nuril, Rianti Catwright, Saskia Mecca, dan Mellisa Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film AAC laku keras di masyarakat. Tak kurang dari 2,5 juta orang telah menonton film tersebut. Bukan hanya remaja, film itu juga ditonton orang-orang terkenal di negeri ini. Sebut saja, mantan Presiden RI B.J. Habibie harus antre tiket demi menonton film tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan AAC memang terletak pada jalinan cerita. Kemelut percintaan antara mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Al-Azhar, Kairo, Mesir, dengan empat wanita itu, ternyata, membuat orang tak kuasa membendung air mata. "Isinya biasa saja kok. Ceritanya juga biasa. Tidak ada yang istimewa dalam novel ini," ujar Kang Abik merendah saat berdiskusi di konter toko buku Gramedia, Ambarukmo Plaza, Jogjakarta, Sabtu (15/3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya filmya yang laku keras. Novel yang diterbitkan 2005 itu juga menjadi best seller dalam waktu cukup singkat. Hingga saat ini, lebih dari 450 ribu eksemplar terjual di pasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang juga membanggakan, novel tersebut ternyata tidak hanya menggebrak di Indonesia. Di negara jiran, seperti Brunei, Malaysia, dan Singapura, novel itu sangat digemari. Bahkan, novel AAC telah dijadikan karya sastra perbandingan di salah satu peruguran tinggi (PT) di Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Kang Abik, "keriuhan" yang ditimbulkan AAC itu tidak seperti orang membalikkan tangan. Dia harus melewati lorong panjang nan sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Abik mengenal dunia tulis-menulis sejak anak-anak. Dia belajar menulis mulai di bangku SD. Pria kelahiran 30 September 1976 tersebut tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren. Karena itu, wacana pesantren sangat kental dalam pemikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merupakan lulusan pesantren di Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Di pesantren itulah, bakat menulis mulai terasah. Dia banyak belajar syi’ir-syi’ir Arab dan ilmu balaghoh (sastra Arab, Red) yang mengasah kemampuannya menuangkan ide dalam tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu mulanya saya berkenalan dengan sastra. Kemudian, terdukung ketika belajar di madrasah program khusus di Surakarta. Di sana saya mendirikan teater bersama beberapa teman. Saya sebagai penulis skenario dan sutradara," ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, bakat sastranya terus terasah saat belajar di Al Azhar University, Kairo, Mesir. Di sana, dia banyak mempelajari karya dan literasi karya ulama terkenal dari berbagai dunia. "Banyak yang saya dapat saat saya belajar di Mesir," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang dari Mesir, dia meneruskan hobi di bidang sastra. Kang Abik menulis beberapa cerpen yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul Kisah-Kisah Islami. Selain menulis, Kang Abik mengajar di Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) MAN 1 Jogjakarta. "Pada waktu itu, gaji saya hanya Rp 100 ribu," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sebuah kecelakaan yang terjadi pada 2003 menjadi titik balik hidupnya. Saat akan pulang ke rumahnya di Semarang, dia mengalami kecelakaan di Magelang. Kaki kanannya patah sehingga dia tidak bisa mengajar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sakit itulah, Kang Abik menumpahkan waktu untuk menulis novel. "Saat itulah, saya menulis Ayat-Ayat Cinta dalam kondisi yang memang saya tidak bisa ke mana-mana. Siang malam saya nulis novel ini," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengaku inspirasi AAC itu berasal dari ayat Alquran Surat Al-Zuhruf ayat 67. Dalam surat tersebut, Allah SWT berfirman bahwa orang-orang yang saling mencintai satu sama lain pada hari kiamat akan bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jatuh cinta dan saling mencintai tetap akan bermusuhan juga pada hari kiamat, kecuali orang yang bertakwa. Jadi, hanya cinta yang bertakwa yang tidak mengakibatkan orang bermusuhan. Itu yang kemudian menjadi renungan saya. Saya pengin juga menulis novel tentang cinta, tapi yang sesuai dengan ajaran Islam, yang menurut saya benar," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Abik mengakui, setiap karyanya merupakan perpaduan antara sastra dan pesantren. Dia banyak mengambil literasi dan rujukan karya ulama terdahulu. "Rujukan saya adalah karya para ulama dulu. Pedoman menulis saya adalah Alquran. Dengan Alquran, Insya Allah orang akan selamat dan sukses," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa kiat suksesnya dalam menulis karya sastra? Pertama, harus punya niat yang kuat. Kedua, berani menulis. "Banyak orang yang punya niat tapi tidak berani menulis. Kiat lainnya adalah menulis, menulis, dan menulis," sarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siapkan Kelanjutan AAC&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebohan novel dan film Ayat-Ayat Cinta (AAC) tidak membuat Kang Abik besar kepala. Dia mengaku belum puas dengan hasil karyanya itu. Demikian pula karya filmnya yang dibesut sutradara Hanung Bramantyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada beberapa pesan dalam novel yang tidak muncul di film," katanya ketika ditanya alasan merasa tidak puas. "Saya juga merasa ada beberapa pemain yang kurang pas memerankan karakter. Sebab, setelah saya tanya, ternyata belum pernah membaca novelnya," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganjalan serupa dia rasakan saat membaca kembali novelnya. Bahkan, Kang Abik sangat ingin mengoreksi bagian-bagian dalam novel dengan setting cerita di Mesir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ditanya puas atau tidak, saya jawab belum. Saya justru ingin memberedeli novel ini dan menyempurnakan," ujar Kang Abik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, banyak desakan dari pembaca yang ingin mengetahui kelanjutan cerita di novel dengan tokoh Fahri dan Aisha itu. "Banyak yang meminta saya menulis kelanjutannya dan membawa sosok Fahri ke Indonesia sehingga tidak mengawang-awang di Mesir," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sedikit membocorkan novel barunya itu. Alur akan dimulai saat Fahri membawa istrinya, Aisha, pulang kampung. Fahri mengajak sang istri hidup di kampung dan tinggal di rumah berdinding bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, untuk buang hajat, Aisha harus menggali tanah di belakang rumah. "Cerita selanjutnya si Aisha tidak bisa tidur karena ghedeg (dinding bambu, Red) rumah suaminya jarang-jarang dan banyak nyamuk lagi," ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Abik mengungkapkan, karyanya itu bukan sesuatu yang luar biasa. Dia mengatakan, semua orang bisa berkarya seperti dirinya. Bahkan, bisa melebihi karya yang dihasilkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asal mau mencoba dan nggak takut mencoba, bisa menghasilkan karya yang baik. Kalau para mahasiswa terus bisa berkarya, Indonesia akan maju," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, dengan menulis novel, orang bisa menuangkan ide maupun pesan yang akan disampaikan. Pesan itu, lanjut dia, dapat memberikan manfaat bagi para pembaca sehingga bisa menjadi benteng moral yang kuat dalam menghadapi perkembangan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, cinta dalam novel-novelnya bukan sekadar cinta. "Cinta hanyalah kemasan agar kisah dalam buku ini menjadi indah (menarik, Red)," tegasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Menulis Melawan Pornografi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia tulis-menulis, tampaknya, akan mengambil bagian terbesar dalam perjalanan hidup Kang Abik. Sukses novel Ayat-Ayat Cinta kian menggelorakan gairah untuk terus berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulusan Al Azhar University, Kairo, Mesir, itu bahkan menargetkan bisa menghasilkan karya minimal 400 buah. "Saya ingin meneladani para ulama terdahulu, yakni bisa menulis empat ratus karya sebelum meninggal. Saya harap bisa terwujud di bawah bimbingan Allah SWT," ungkap alumnus pesantren Mranggen, Demak, itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak berputra dua tersebut mengakui bahwa caranya berdakwah memang melalui media tulisan. Menurut dia, tulisan bisa membuat orang sadar dengan kondisi dan realitas masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya mengkritik lewat karya sastra. Lewat karya inilah, orang tersadar akan kondisi dan realitas yang terjadi," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tujuannya menulis adalah untuk melawan maraknya pornografi. Saat ini, tidak sedikit buku atau majalah yang menjurus dan mengarah pada eksploitasi pornografi sebagai upaya meraih keuntungan. "Nah, lewat karya sastra yang bermutu, pornografi akan terkikis dengan sendirinya," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan pemilihan tema cinta dalam karya-karyanya, Kang Abik mengaku itu merupakan pilihan sadar. Menurut dia, manusia diciptakan dan hidup dengan cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cinta itu seperti makan dan minum, sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Jadi, akan selalu menjadi topik yang menarik dan diminati," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya, tema cinta tidak akan mengungkung kemerdekaannya untuk memilih tema-tema lain. Suami Muyasarotun Saidah itu juga ingin mengangkat tema keteladanan dan kepahlawanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Abik mengaku tertarik pada sosok Bung Tomo. Bahkan, belum lama ini dia datang ke Surabaya, Jawa Timur, untuk mendengarkan pidato Bung Tomo sebelum perang melawan Belanda pada 10 November 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pidato tersebut sangat menyentuh. Bagaimana seorang anak muda yang minta izin kepada ibunya untuk maju perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin ketika ini diangkat menjadi novel akan lebih heboh daripada Ayat-Ayat Cinta," tegasnya. (syukron muttaqien/jpnn/ib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi Ahad 23 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-2249934317232261158?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/2249934317232261158/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=2249934317232261158' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/2249934317232261158'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/2249934317232261158'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2008/03/habiburrahman-el-shirazy-penulis-novel.html' title='Habiburrahman El Shirazy, Penulis Novel &quot;Mega Bestseller&quot; Ayat-Ayat Cinta'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/R-XGJl4bHcI/AAAAAAAAANY/TTiWLDGDWJo/s72-c/habiburrahman+shirazy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-3555520073244674830</id><published>2008-03-17T00:53:00.000-07:00</published><updated>2008-03-17T00:54:21.955-07:00</updated><title type='text'>Nh Dini, Novelis Spesialis Cerita Kenangan</title><content type='html'>Satu-satunya perempuan pengarang Indonesia yang masih sangat produktif sampai berusia 72 tahun (Jumat, 29 Februari 2008), siapa lagi jika bukan Nh Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin). Setahun yang lalu, dalam peluncuran cerita kenangan La Grande Borne di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, tidaklah berlebihan apabila Prof Eko Budihardjo, Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah sekaligus mantan rektor Undip, khusus membacakan sebuah puisi yang dipersembahkan kepada Nh Dini dan merasa tertantang dan menantang para dosen sastra, karena jumlah bukunya masih sangat jauh di bawah angka karya-karya Nh Dini. Dini telah menerbitkan 33 buku (31 di antaranya karangan asli) dalam bentuk kumpulan cerpen, novel, biografi, cerita kenangan, dan novel terjemahan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari novel-novelnya ada sebelas cerita kenangan yang menarik untuk dibaca ulang oleh para mahasiswa Fakultas Sastra yang ingin meneliti mata air (meminjam istilah almarhum Prof Th Sri Rahayu Prihatmi) karya-karyanya. Di samping itu, di tengah-tengah berondongan sinetron Indonesia yang penuh teriakan, umpatan, dan horor yang dijejal-jejalkan di ruang keluarga kita oleh stasiun televisi swasta, membaca kembali cerita kenangannya serasa mengail di atas sampan dengan semilir angin dan gelombang. Sembari menanti datangnya ikan yang terpancing, kita disuguhi deskripsi panorama alam dengan sangat detail, sosio-budaya keluarga Jawa yang kental, berikut kisahan sepihak tokoh-tokoh perempuan tentang masa lalu yang mengalir hadir sangat lancar, nyaris tanpa riak, dan tahu-tahu kita sudah berhenti, serta diharap melakukan pelayaran kembali pada cerita kenangan berikutnya. Atau, dengarkan kesaksian Prof Teeuw (1989: 193-194), Dini menulis dengan suara yang sangat tertahan, sangat lancar dan ringan, serta enak dibaca. Tokoh-tokoh wanitanya sederhana dan lembut, memiliki harga diri yang kuat, penyegan, sopan, lembut, tanggap terhadap kebaikan dan kelembutan, tetapi terguncang, dan jijik terhadap kekerasan, serta berpihak pada segala yang benar dan layak menurut ukuran-ukuran Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kronologis, cerita kenangan ini dapat diklasifikasikan menjadi masa kecil (Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979); masa remaja (Sekayu (1981), Kuncup Berseri (1982), Kemayoran (2000); dan dewasa (Jepun Negerinya Hiroko (2001), Dari Parangakik ke Kampuchea (2003), Dari Fontenay ke Magallianes (2005), La Grande Borne (2007), serta untuk sementara diakhiri dalam Argenteuil (2008). Betapa tebalnya jika cerita kenangan ini disatukan, paling tidak akan mencapai 3.500 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini mengawali kisah masa kecilnya di sebuah rumah yang teduh, sebagai putri bungsu keluarga Jawa, pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Sejak kecil sifat tokoh ’aku’ ini suka berterus terang, berani, bahkan tatkala saudara-saudaranya berebut sisa makanan dari kakek Kiai Wiryobesari yang konon mengandung tuah, dengan entengnya ’aku’ kecil ini menganggapnya sebagai sesuatu yang memuakkan (Sebuah Lorong di Kotaku, hal 52 dan 59). Pada masa penjajahan Jepang, Dini kecil mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan dan mengerikan. Ia kaget dengan munculnya lima serdadu Jepang yang tidak sopan, dengan suara gaduh membabat bilah bambu dan tanaman yang menjadi pagar rumahnya (Padang Ilalang di Belakang Rumah). Jatuhnya penguasa Jepang dan disusul mendaratnya tentara Sekutu memunculkan peristiwa-peristiwa yang menyedihkan: kekurangan makanan, musim yang kering, keadaan yang memprihatinkan, dan fitnah yang diderita ayahnya yang menyebabkannya masuk tahanan dan menderita sakit (Langit dan Bumi Sahabat Kami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, setelah remaja, ia tak suka diatur oleh lawan jenisnya. Ini tampak ketika salah seorang temannya ”menasihati” agar dia tidak naik sepeda laki- laki, tidak mengenakan celana panjang seperti laki-laki, tidak memotong rambut, dan sebagainya (Sekayu, hal 87). Di sekolah pun ia termasuk gadis yang menjunjung harga dirinya sebagai perempuan, peka perasaannya, dan bahkan berani ’menantang’ gurunya yang melecehkan muridnya (Kuncup Berseri). Meninggalnya sang ayah justru menantang Dini menjadi remaja yang kreatif. Karya kreatifnya bukan hanya terbatas mengisi siaran sandiwara secara rutin di RRI Semarang, remaja ini mengawali debutnya sebagai penulis cerpen Pendurhaka yang diterbitkan di majalah sastra Kisah, dan yang kelak diterbitkan dalam kumpulan cerpen Dua Dunia. Masa remajanya diakhiri dengan kelulusannya dari SMA, bekerja sebagai pramugari GIA, dan dipinang Yves Coffin, seorang diplomat Perancis (Kemayoran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun sebelum menikah ia banyak berkorespondensi dengan HB Jassin Dalam Surat-Surat 1943-1983 (1984: 139) terdapat surat Jassin tertanggal 31 Agustus 1957 yang mengomentari karya-karya awalnya, dan problem dirinya, ”Saya mengerti Saudara masih terikat segala macam ikatan, tapi kalau terus mengikat diri, kapan akan dewasa sebagai pribadi? Kedewasaan pribadi seorang pengarang sangat diperlukan. Saudara kelihatannya takut akan pengalaman. Akhirnya hanya sampai pada fantasi, rasa- merasa, duga-dugaan, bayang- bayangan yang sentimental, tidak berpijak di atas tanah. Begitu juga sifat-sifat karangan Saudara. Sangat kurang pengalaman, fantasi yang banyak, perasaan dijadikan dasar, terasa sedikit sentimental….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dikatakan Jassin masih bermunculan dalam cerita kenangan sejak Jepun Negerinya Hiroko sampai Dari Fontenay ke Magallianes. Pernikahannya dengan Yves Coffin, Konsul Perancis di Kobe, Jepang, ternyata menjadi titik awal kerunyaman yang terus-menerus dipaparkan dalam cerita kenangan berikutnya. Harga dirinya sebagai perempuan diuji saat ia mengidam makan apel berkulit merah sebagai sarapan paginya. Suaminya berujar ketus, ”Kalau begini terus-terusan aku akan menjadi miskin, karena setiap hari kau harus kubelikan satu buah impor yang mewah!” (hal 30). Ia juga terganggu dengkur suaminya, dan kebiasaan Yves mendengarkan musik dengan sangat keras (hal 93). Kalau pembantu rumah tangganya berbuat kesalahan, suaminya langsung membentak dan berteriak memarahinya dengan suara yang keras. Akibatnya, begitu banyak pembantu yang datang dan pergi (hal 116).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemburuan menyeruak pada saat piknik, suami dan kedua tamunya itu asyik memotret, tidak memerhatikan anak dan istrinya. Kesabaran tokoh aku meledak saat ia dan bayinya harus duduk di jok belakang, bukan di depan bersama suaminya (hal 209).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesebalan terus berlanjut saat menghadiri penyerahan piagam di Fukuoka. Resepsi dimulai pukul enam sore, mereka berdua memasuki ruang yang telah penuh tamu pukul tujuh kurang lima menit. Ia gemetar, hampir menangis tatkala dengan entengnya sang suami berbisik kepada tuan rumah, ”Maafkan kami. Istri saya mendapatkan kesulitan membikin sanggul. Maklum, di sini tidak ada salon yang dapat membantunya ...” (hal 229). Di samping itu, novel Namaku Hiroko ternyata ditulis secara kucing-kucingan. Dikerjakan saat suaminya berada di kantor. Suaminya akan marah-marah kalau melihat istrinya sedang menyelesaikan novelnya (hal 326).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita kenangan berikutnya Dari Parangakik ke Kampuchea, Dini semakin intens mengisahkan bagaimana perilaku seorang suami dari Barat terhadap istrinya yang berasal dari Timur. Sikap suaminya yang jauh berubah membuatnya semakin tertekan. Apalagi ketika ia harus menyesuaikan diri dalam keadaan yang serba kekurangan di Perancis. Keluh kesah dan problematika pernikahannya terakumulasi dalam Dari Fontenay ke Magallianes. Ia banyak melukiskan perasaannya tentang peristiwa liburan, tinggal bersama dengan satu keluarga sahabat Perancis dalam satu rumah, berbagai makanan yang disajikan berikut rasanya, kehamilan keduanya yang tak terduga dan tak diharapkan, dan ... perselingkuhan yang menggetarkan dengan Bagus sang kapten (hal 115-117). Dalam La Grande Borne, Dini nyaris sudah pisah ranjang dengan suaminya. Hubungan suami istri yang sudah membusuk dari dalam ini, ditambah penyakit yang nyaris merenggut nyawanya, dan sesekali masih melanjutkan hubungannya dengan Bagus, Dini seolah menemukan pencerahan kembali pada spiritualisme Timur, dengan menjalani lelaku seperti yang dikenal dalam adat Jawa. Dan perselingkuhan yang menggetarkan ini pun menjadi terpupus di ujung, saat Dini menyatakan pengin berpisah dengan suaminya, Bagus keburu meninggal karena kecelakaan (Argenteuil, hal 35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak yang dapat dibaca dan dipetik manfaatnya tentang bagaimana si tokoh ’aku’ mengurus perceraiannya, mulai menata kehidupannya sendiri, dan hidup terpisah dari anak bungsunya, Pierre Louis Padang, yang ketika itu baru berumur 8 tahun, dan anak sulungnya yang bernama Marie-Claire Lintang yang mengikuti ayahnya. Dini akhirnya berpisah dengan suaminya, Yves Coffin, pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta. Dan, bagaimana kisah-kisah Dini setelah ia kembali jadi warga negara Indonesia, kita tunggu saja kelahirannya dalam tahun-tahun mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapapun banyak kritikus yang menyoal bahwa Nh Dini sebagai pengarang yang terus- menerus menyuarakan kemarahannya kepada kaum laki-laki (Budi Darma), ’kebawelan yang panjang’ (Putu Wijaya), atau karya-karya Dini hanya terfokus pada masalah pribadi tokoh-tokohnya, dan sulit untuk melakukan perubahan yang mendasar pada situasi yang ada (Tineke Hellwig, 1994); Nh Dini adalah satu dari sedikit perempuan pengarang yang penting di negeri ini. Karya-karyanya sangat representatif bagi banyak persoalan perempuan yang dikungkung oleh tradisi kebudayaan lelaki. Selamat ulang tahun yang ke-72 Eyang-Ibu Dini. Semoga panjang umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;B Rahmanto&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dosen Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tidak Merasa Tua Menuju Usia 80&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua perbedaan mencolok yang dirasakan perempuan novelis Nh Dini sewaktu memperingati hari ulang windu (8 tahunan) terakhir, yakni saat peringatan 8 windu atau 64 tahun dan 9 windu atau 72 tahun yang jatuh pada tanggal 29 Februari 2008 lalu. Perasaan takut, kaget menghadapi masa tua, tidak dirasakan Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, nama lengkap Nh Dini, di usianya saat ini. Perasaan itu justru muncul pada saat peringatan ulang tahun ke-64 pada tahun 2000 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang saya 72 tahun, kok merasa lebih tenang. Yo wis-lah kalau tambah setahun yo ra po-po (ya tidak apa-apa),” ujar Dini. Perasaan lebih tenang dengan bertambahnya umur ini sudah ia sadari sejak memasuki usia 70 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang kaget, justru sewaktu ulang windu sebelum ini, saat umur 64 tahun. Kaget saya! Rupanya saya sudah tua, tapi saya kok tidak merasa tua,” kata Dini menambahkan. Kala itu ada perasaan bersalah dan penyesalan dalam dirinya terhadap semua yang pernah ia lakukan sebelumnya. Bahkan untuk menebus kesalahan yang pernah ia jalani itu terbersit di pikirannya untuk bisa kembali ke zaman dulu dan mengulang semua hal yang pernah terjadi dengan hal-hal yang menurutnya lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa penyesalan dan bersalah tersebut telah berlalu justru dengan bergulirnya waktu. ”Ya sudah, dilakoni saja. Jadi, tidak ada perasaan sedih, ndak ada perasaan merasa tua menuju 80 tahun. Saya enggak merasa bahwa ini suatu beban, jalani saja satu langkah lagi ke depan,” papar Dini. Menurut Dini, situasi mirip seperti ini tergambar dalam bukunya terakhir yang diluncurkan bersamaan dengan peringatan 9 windu yang berjudul Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ibu saya pernah membisikkan kata-kata yang membikinku sekali lagi ’pasrah’ sewaktu ada perasaan penyesalan yang mendalam dan menggugat keputusan Yang Kuasa karena sahabatku Anis meninggal: éling Ndhuk, éling! Apakah kita ini! Hanya manusia yang masing-masing diberi jatah dan ragam kehidupan menurut kuasa-Nya. Dia sudah memperhitungkan semua lakon dan usia setiap makhluk bagaikan penulis skenario andal,” kata Dini. Mendengar bisikan ibunya itu Dini akhirnya merasa harus menuruti garis hidupnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertambahnya usia ternyata tidak menyurutkan Dini untuk terus menulis dan menulis. Buku terakhirnya Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri yang kembali diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama merupakan kelanjutan dari rangkaian buku seri Cerita Kenangan sebelumnya. ”Jadi, ini bukan novel. Saya buat serangkaian seri kenangan yang pura-puranya tokoh utamanya saya,” jelas Dini. Ia juga menolak kalau Seri Kenangan disebut sebuah riwayat hidup atau otobiografi. Menurut Dini, Cerita Kenangan tidak bercerita melulu mengenai dirinya, melainkan juga tentang kejadian dan manusia-manusia di lingkungannya selama ia hidup yang mengandung arti suvenir atau kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya pertama seri Cerita Kenangan berjudul Sebuah Lorong di Kotaku (1986). Buku ini ditulis Dini sewaktu bekerja sebagai perawat Tuan Willm di kota Argenteuil, Perancis. Isinya bercerita mengenai berbagai peristiwa dalam perjalanan hidup Dini dan keluarganya di kawasan atau lingkungan di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Sebuah rumah di gang kecil yang pada kedua sisinya dialiri selokan dalam di pojok Kampung Sekayu di Kota Semarang, Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya menyusul buku cerita kenangan lain seperti, Padang Ilalang di Belakang Rumah (1987), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1987), Kuncup Berseri (1996), hingga yang terbit tahun 2007 berjudul La Grande Borne. Buku seri Cerita Kenangan yang sudah diterbitkan hingga saat ini seluruhnya berjumlah 11 buku, termasuk yang baru diterbitkan tahun ini Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri (2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argenteuil mengisahkan kehidupan Dini saat pertama kalinya hidup memisahkan diri lepas dari suaminya, Yves Coffin, seorang diplomat Perancis. ”Nah, ini merupakan periode hidup menyendiri lagi dalam berumah tangga,” kata Dini. Berbeda dengan karya sebelumnya, La Grande Borne, yang isinya penuh dengan kepedihan, pada Argenteuil Dini bisa lebih lancar dalam menuliskannya. ”Rasanya ada kepuasan hidup tanpa pendamping yang begitu menekan. Ya, ada semacam ...(menghela napas) lepas dari beban yang berat,” ujar Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode Nh Dini memisahkan diri dari keluarga ini lantaran suaminya, Yves Coffin, mendapat tugas baru menjadi Konsul Jenderal Perancis di Detroit, Amerika Serikat. Hubungan suami istri yang semakin memburuk di antara keduanya pada saat itu membuat Dini memutuskan untuk tidak ikut ke AS. Hanya suami dan anak laki-laki bungsunya, Pierre Louis Padang, yang saat itu masih berumur 8 tahun yang berangkat ke Detroit, sementara ia dan putri sulungnya, Marie Claire Lintang, tetap tinggal di Perancis karena Lintang masih harus menyelesaikan sekolahnya untuk mendapatkan ijazah Bacalaureat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argenteuil adalah sebuah kota kecil yang letaknya kurang lebih 10 kilometer barat laut Perancis. Di sinilah Dini mulai kembali hidup sendiri dengan bekerja sebagai wanita pendamping (dame de compagnie) seorang laki-laki tua, Tuan Willm, di sebuah rumah besar yang sebelumnya pernah ditinggali Karl Marx. ”Hidup sendiri tapi tidak kesepian,” kata NH Dini. Lintang hanya di akhir pekan saja tinggal bersamanya karena Lintang harus tinggal di asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa pedih dan bosan hidup berumah tangga seperti yang diceritakan Nh Dini dalam La Grande Borne sudah tidak tampak dalam buku terbarunya ini. Kesedihan yang mendalam akibat ditinggal ’kekasih’-nya yang meninggal karena kecelakaan, yakni Maurice si Kapten Bagus, juga sudah hilang. Nh Dini justru merasa berbahagia karena ia akhirnya bisa bertemu dengan keluarga Kapten Bagus, bahkan mendapat kesempatan mengunjungi rumah masa kecil tempat kekasihnya dibesarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obsesi keliling dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, Nh Dini menikmati masa tuanya dengan tenang di Wisma Lansia Langen Werdhasih di kaki Gunung Ungaran, 30 km sebelah selatan Kota Semarang. Ia di sana sejak akhir 2006. Raut wajahnya yang terlihat lebih muda seolah menyembunyikan usianya. ”Mungkin ini juga, karena ya, hidup tinggal menjalani saja. Memang banyak orang melihat saya kelihatan lebih muda, terutama kalau tidak melihat saya jalan. Soalnya, saya kalau jalan lebih pede (percaya diri) pakai teken (tongkat). Sudah dua tahun ini saya terkena osteoarthritis,” jelas Dini. Untuk mengatasi sakitnya itu, ia rutin mengonsumsi vitamin D, vitamin khusus untuk tulang rawan dan tusuk jarum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya sudah 30 tahun ini tusuk jarum ke Pak Tjiong di Jagalan. Saya dan dia bahkan sudah angkat saudara. Jadi, enggak perlu bayar, papar Dini sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-harinya kini masih dilewatkan dengan menulis buku serta sesekali diundang menjadi pembicara atau berceramah, baik di dalam maupun di luar negeri. Pada bulan November 2007 lalu, ia sempat mewakili Indonesia untuk menghadiri ”Jeounju 2007 Asia-Africa Literature Festival” di Korea Selatan. Naskah buku seri Cerita Kenangan periode setelah Argentieul yang diberi judul Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang sudah ia selesaikan namun tidak akan diterbitkan dulu. ”Ada sekitar 200 halaman. Tapi karena ada dua atau tiga orang yang saya harus ganti namanya. Sebenarnya, orangnya sendiri enggak masalah, tapi lingkungannya yang mungkin belum bisa menerima. Jadi terpaksa saya lompati langsung ke Pondok Baca periode saya sudah tinggal kembali di Semarang,” jelas Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati sudah merasa lebih tenang menghadapi masa tua, masih ada kegelisahan dalam dirinya karena ia masih menyimpan dua obsesi yang belum tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pertama, saya kepengin keliling dunia ke berbagai universitas di dunia yang ada jurusan Sastra Indonesia. Saya ingin ketemu muka dengan mereka yang belajar Sastra Indonesia. Kenapa mereka mau belajar Sastra Indonesia. Atau paling tidak bisa keliling daerah-daerah di Indonesia, keliling ke SMA-SMA, dialog di aula dengan wakil murid-murid, sharing soal sastra, kenapa saya menggeluti sastra, dan sebagainya,” kata Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegelisahan yang kedua adalah ia ingin pemerintah daerah atau perusahaan swasta ada yang mau memberi dana abadi untuk kesehatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Saya ingin hidup santai dan enggak perlu lagi menghitung duit terus untuk urusan kesehatan. Di Malaysia kan para pengarang juga mendapatkan hal itu dari pemerintah atau kerajaan,” tambah Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ia juga gelisah melihat perkembangan dunia sastra di Tanah Air saat ini. Menurut Nh Dini, karya sastra anak muda sekarang cenderung dangkal. ”Mereka itu hanya memaparkan fisik saja, kedalamannya enggak ada,” tutur Dini. Hal ini disebabkan karena sastrawan-sastrawan muda sekarang kurang riset dan kurang bacaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Orang muda kita ini membaca tidak, melihat ya... hanya melihat begitu saja, mendengar juga tidak, karena mereka hanya ingin omong sendiri. Cuma memuaskan diri saja. Akibatnya, deskripsinya enggak ada kedalaman, hanya tampangnya saja,” kata Dini menambahkan.(Anung Wendyartaka/ Litbang Kompas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt; Edisi Pustakaloka Senin 17 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-3555520073244674830?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/3555520073244674830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=3555520073244674830' title='8 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/3555520073244674830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/3555520073244674830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2008/03/nh-dini-novelis-spesialis-cerita.html' title='Nh Dini, Novelis Spesialis Cerita Kenangan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-3212236462709957751</id><published>2008-03-14T14:44:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T14:46:10.196-07:00</updated><title type='text'>Sartono Kartodirjo dan Asketisme Intelektual</title><content type='html'>Biografi sejarawan Prof Dr Aloysius Sartono Kartodirdjo, Jumat (14/3), diluncurkan di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Membuka Pintu Bagi Masa Depan: Biografi Sartono Kartodirdjo&lt;/span&gt; itu ditulis oleh sejarawan muda, M Nursam. Buku itu tidak hanya menggambarkan pergumulan intelektual dan sikap hidup asketis, tetapi juga sumber inspirasi dan teladan dalam membangun peradaban bangsa tanpa melupakan sejarah. Melupakan sejarah berarti menutup pintu bagi masa depan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asketisme intelektual&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asketisme menjadi pilihan dan hidup Sartono. Bagi Sartono, orang yang menjalani asketisme ialah mereka yang melakukan latihan untuk menjadi ”orang olah jiwa” moral dan religius. Artinya, semua usaha itu untuk menghilangkan keinginan atau nafsu jasmaniah. Ia sadar, tiap pilihan hidup memiliki risiko. Namun, ia telah membuktikan, dengan kerja keras, kreativitas, kejujuran, disertai kedisiplinan tinggi, seseorang bisa berhasil dan berkarya di bawah cahaya asketisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gemuruh pembangunan dan dampaknya—pragmatisme, materialistik, hedonis, dan serba mendewakan materi— Sartono kukuh pada pilihannya sebagai intelektual, tidak tergerak sedikit pun untuk terjun ke dunia birokrasi dan politik praktis, meski memiliki kesempatan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh dan bentukan dari nilai-nilai kejawen, yang merupakan struktur sosial budaya dan nilai-nilai Kristiani di mana Sartono dibentuk, melekat dan membentuk pandangan hidupnya sebagai manusia Jawa. Hal itu menempatkan hidup prihatin sebagai bagian watak budaya dan kelak berperan besar dalam pergumulan intelektualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap asketis Sartono bertolak belakang dengan kenyataan bangsa ini, apalagi jika melihat perilaku pejabat dan elite politik negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pergumulan Sartono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia wayang amat dekat dengan kehidupan Sartono sebagai orang Jawa dan ada dalam atmosfer budaya abangan. Dunia wayang membentuk perasaan moral dan kesadaran estetiknya sebagai anak Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum memasuki pendidikan formal, Sartono mendapat pendidikan informal dalam keluarga dan lingkungannya. Ayahnya, Tjitrosarojo, berperan besar dalam pergulatan awal pendidikan Sartono. Dalam ruang budaya Jawa itulah Sartono menjalani sosialisasi pada tahap awal kehidupan. Selain sebagai pegawai, Tjitrosarojo juga mempunyai apresiasi besar terhadap sejarah dan sastra Jawa. Nilai-nilai itu berpengaruh terhadap pandangan dan tindakan yang menjadi acuan dalam mendidik anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski pendidikan formal memperkenalkan Sartono kepada budaya Barat, ia tak melupakan budaya Jawa. Ia mulai dari HIS, MULO, dan HIK. Perpindahannya ke HIK merupakan titik kisar pertama dalam perjalanan hidupnya. Di HIK, Muntilan (1936-1941), ia menampilkan sosok Sartono Kartodirdjo yang berbeda dengan sebelumnya. Sartono ingin membaktikan hidupnya untuk Tuhan, menjadi bruder, tetapi gagal. Itulah awal pergumulan batin Sartono. Mengingat kondisi ekonomi orangtuanya, Sartono memilih menjadi ”guru”, profesi yang digeluti hingga akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat Sartono dalam studi begitu tinggi. Ia seakan tak peduli dengan berbagai interupsi. Sakit tak mematahkan semangatnya untuk memburu ”harta karun” ilmu pengetahuan meski dengan segala keterbatasannya. Ia telah membuktikan mampu melewatinya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kerja keras&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sartono menggeluti sejarah dari jurusan sejarah Universitas Indonesia, Universitas Yale di AS, hingga Universitas Amsterdam. Itulah hidup penuh kerja keras, ketekunan, ketelitian, ketuntasan, dan kesempurnaan. Ia membalutnya dengan kedisiplinan dan keprihatinan hingga akhirnya membentuknya menjadi ”begawan sejarah Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sartono telah membuka pintu dan arah bagi historiografi Indonesia. Dalam disertasinya, T&lt;span style="font-style:italic;"&gt;he Peasants Revolt of Banten in 1888, It’s Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Social Movements in Indonesia&lt;/span&gt;, ia menggambarkan, petani atau wong cilik juga bisa menjadi aktor utama sejarah. Dalam sejarah kolonial wong cilik hanya dipandang sebelah mata. Sartono adalah sejarawan yang ”memihak” wong cilik, yang juga aktor penting dalam sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remmelink, kolega Sartono, mengatakan, bagi dunia sejarawan Indonesia, peran Sartono tak ternilai tingginya. Tulisan-tulisannya ”obyektif dan ilmiah”. Ia melihat apa yang telah dihasilkan Sartono tidak ada hubungannya dengan metode penelitian atau pendekatan ilmiah. Namun, semuanya berakar pada karakter dan sifat Sartono. Tampaknya, karakter itu tidak terlepas dari sikap hidup asketisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun nilai-nilai Kristiani ikut membentuk pribadinya, Sartono tidak pernah tersekat-sekat dalam masalah rasial/keagamaan. Bagi Sartono, agama adalah urusan manusia dengan Tuhannya. Sikap itulah yang menjadi nilai sosialnya dalam bergumul di dunia intelektual yang plural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergumulan intelektualnya, Sartono menghasilkan banyak karya amat penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan sejarah dan sosial di Indonesia. Tentu pergumulan itu bukan tanpa hambatan. William F Frederick, kolega Sartono di Universitas Yale, berkata, ”Ketika di Yale, dengan keterbatasan fasilitas, Sartono tidak pernah mengeluh untuk menghasilkan tulisannya meski di ruang sempit ditemani mesin ketik manual.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Multiperspektif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia bukan halangan bagi Sartono untuk terus bergumul dengan tulisan-tulisannya, meski sejak 1957 harus bekerja dengan sebelah mata. Karya-karya besar terus lahir. Pada usianya yang ke-80 (2001), ia masih menerbitkan buku, Indonesian Historiography. Tentu semua itu berkat dorongan keluarga, terutama istrinya, Sri Kadaryati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sartono juga tidak tersekat dalam sebuah disiplin ilmu. Ia tidak hanya bergulat dengan ilmu sejarah disiplin utamanya, tetapi juga melibatkan diri dengan aneka persoalan kebangsaan dan kemanusiaan. Maka, karya-karyanya dilakukan dengan pendekatan multiperspektif. Itu semua terbukti saat menjadi Kepala Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan (1973—1981), karyanya amat beragam, seperti aneka persoalan pembangunan, demokrasi, kemiskinan, konflik bersenjata, dan masalah kemanusiaan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sartono adalah cendekiawan Indonesia! Karakteristik cendekiawan melekat dalam pribadinya. Ia amat ekspresif, vokal menyuarakan aneka pemikirannya, kritis, mengidentifikasi masalah dalam konteks sosial-budaya, melakukan analisis tajam, membuat perumusan kesimpulan, dan menyusun program masa depan berdasarkan perspektif historis yang komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;@Dewi Puspitasari&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rimbawati; Tinggal di Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas &lt;/span&gt;Edisi 15 Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-3212236462709957751?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/3212236462709957751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=3212236462709957751' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/3212236462709957751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/3212236462709957751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2008/03/sartono-kartodirjo-dan-asketisme.html' title='Sartono Kartodirjo dan Asketisme Intelektual'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-2494826476604226714</id><published>2008-02-29T17:47:00.000-08:00</published><updated>2008-02-29T17:52:26.795-08:00</updated><title type='text'>Antonia Johanna Dragt: Terinspirasi Masa Kecil di Indonesia</title><content type='html'>Kendati hanya numpang lahir dan menghabiskan sebagian besar masa kecil dan remaja di Indonesia, khususnya di Batavia (Jakarta), sebelum akhirnya kembali ke negeri Belanda tanah air orangtuanya, hal itu ternyata memberi kenangan masa remaja yang indah bagi Tonke Dragt.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis buku cerita anak terkenal dari negeri Belanda, pengarang buku Surat untuk Raja atau judul aslinya dalam bahasa Belanda, De brief voor de koning, yang bernama asli Antonia Johanna Dragt ini bahkan di usianya yang ke-13 tahun pernah mengalami masa buruk. Di usianya itu, ia hidup di kamp pengasingan Jepang di daerah Cideng, Jakarta, bersama ibu dan kedua saudara perempuannya. Namun, hal tersebut tidak menodai kenangan indah masa remajanya di Indonesia. Bahkan, yang terjadi adalah di kamp inilah Tonke Dragt untuk pertama kalinya menulis sebuah buku cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bersama-sama dengan teman sepantaran. Kami berdua. Dan saya yang menggambar ilustrasinya. Kami berdua doyan sekali membaca, tetapi karena di kamp bukunya sedikit sekali, kami memutuskan untuk membuat saja buku sendiri,” kata Tonke dalam surat pribadi yang dibuatnya menyambut peluncuran buku Surat untuk Raja versi terjemahan Indonesia di Kedutaan Besar Belanda, 1 Desember 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, di Kamp Cideng inilah awal karier kepenulisan Dragt dimulai. ”Walaupun pada saat itu saya belum tahu bahwa itu akan menjadi profesi saya. Namun, saya menyadari betapa asyiknya mengisahkan cerita, secara lisan maupun tulisan, dan dengan cara itu memikat perhatian orang,” jelas Dragt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal kertas seadanya, bahkan dengan menggunakan buku tulis sekolah bekas yang sudah ditulisi yang kemudian dihapus hingga bersih, buku pertama Dragt yang ia tulis bersama temannya tersebut benar- benar rampung. Menurut Dragt, isi ceritanya sendiri sebenarnya biasa-biasa saja alias tidak orisinal. Namun, sarat petualangan dan jauh di kemudian hari ia menyadari bahwa jika para jagoannya (si tokoh cerita) tertangkap, mereka selalu bisa lolos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tonke Dragt lahir di Jakarta pada 12 November 1930. Ia menjalani masa remaja di Indonesia bersama dengan keluarganya karena ayahnya warga Belanda yang bertugas di Indonesia atau Hindia Belanda. Seusai Perang Dunia II tahun 1945, Tonke bersama ibu dan saudari-saudarinya pindah ke Belanda, sementara ayahnya masih tinggal di Indonesia. Sempat kembali sebentar ke Jakarta sebelum akhirnya tahun 1950 menetap di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana keluarga Hindia Belanda lainnya, keluarga Tonke mendapat sambutan dingin dari masyarakat di negeri Belanda. Di sana Tonke menyelesaikan sekolah menengah (HBS) dan menyelesaikan studi di Academie voor de Beeldende Kunsten (Akademi Seni Rupa) di kota Den Haag. Setelah lulus sempat menjadi guru menggambar di sebuah sekolah menengah di kota Rijswijk, tidak jauh dari Den Haag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, cerita-ceritanya diterbitkan dalam majalah anak- anak Kris Kras, baru pada tahun 1961 buku pertamanya berjudul Verhalen van de tweelingboers (Hilayat Si Kembar) terbit. Tahun berikutnya, yakni 1962, terbit buku De brief voor de koning (Surat untuk Raja). Buku ini pada tahun 1963 di Belanda dinobatkan menjadi buku anak-anak terbaik tahun 1962. Setelah 40 tahun, buku ini dan lanjutannya yang berjudul Geheimen van het wilde woud (Rahasia Hutan Anggara) hingga kini masih menjadi bukunya yang paling laris di pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1976 Tonke mendapat anugerah Staatsprijs voor kinder-en jeugdliteratuur (Hadiah Negara untuk Literatur Anak dan Remaja) dari Pemerintah Belanda sebagai penghargaan atas karya-karyanya. Puncaknya, pada 5 Oktober 2004 buku De brief voor de koning ditetapkan sebagai buku anak-anak terbaik Belanda sepanjang 50 tahun terakhir (1955-2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;De brief voor de koning sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa, yakni Jerman, Dansk (Denmark), Esti (Yunani), Cek (Ceko), Spanyol, Perancis, Italia, dan terakhir ke dalam bahasa Indonesia (Surat untuk Raja). Saat ini De brief voor de koning sedang diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar yang diperkirakan akan selesai pada pertengahan tahun ini.(Anung Wendyartaka/ Litbang Kompas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Mengidolakan JRR Tolkien&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan peluncuran buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;De brief voor de koning&lt;/span&gt; terjemahan bahasa Indonesia, Pustakaloka Kompas berkesempatan melakukan wawancara dengan penulisnya, Tonke Dragt. Wawancara jarak jauh ini difasilitasi Liesbeth ten Houten dari penerbit Leopold Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut petikan wawancara tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang mendorong Bu Tonke untuk menulis buku cerita anak-anak, bukan buku cerita untuk dewasa atau yang lain?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tonke tidak melakukan pembedaan antara pembaca dewasa dan anak-anak. Ia sering memulai dengan suatu citra, dan suatu ilustrasi. Kebetulan tidak seperti buku orang dewasa, tetapi lebih seperti buku anak-anak berilustrasi. Tonke pernah berprofesi sebagai guru menggambar. Sebagian besar bukunya adalah untuk semua umur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa yang menarik dari dunia anak-anak atau remaja menurut Bu Tonke sehingga banyak menulis buku cerita untuk kalangan anak-anak dan remaja ini? Apakah terkait dengan pengalaman masa lalu atau sebab yang lain?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tonke menulis buku tentang membuat pilihan, dan kemudian tokoh utamanya menjadi terlibat dalam petualangan. Yang ia tanyakan adalah ”what happens if...”. Dan petualangan pun terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah dorongan menulis buku cerita anak juga didorong oleh situasi eksternal atau kondisi buku cerita anak yang ada waktu itu di Belanda? Misalnya ingin memberi warna lain terhadap buku-buku cerita anak yang sudah ada waktu itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, ia tidak berpikir ke arah sana. Ia menyukai cerita yang mengambil tempat di abad pertengahan, tetapi menulis buku tentang membuat pilihan dan akibat-akibat dari pilihan itu juga bisa menjadi buku fiksi ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apakah pengalaman masa kecil di Jakarta berpengaruh terhadap tulisan atau cerita-cerita yang dibuat Bu Tonke? Apakah ada buku yang ber-setting Jakarta atau Indonesia?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iya, masa remajanya di Indonesia amat sangat penting. Lingkungan tropis sering kali menjadi latar belakang, dan Tonke mulai bercerita dan membuat buku (bersama seorang teman) pada masa perang di kamp pengungsi di Indonesia. Di tempat pengungsian itu ia menjadi tahu bahwa ia pandai membuat cerita; di sana ia mulai menggunakan daya imajinasi. Di sana ia ternyata bisa membuat orang-orang lain melupakan keadaan susah yang dihadapi, rasa lapar mereka: semua cerita memiliki happy ending, penuh acara makan-makan besar, dan tokoh-tokohnya selalu bisa kabur melarikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bagaimana pendapat Bu Tonke terhadap perkembangan buku cerita anak masa kini di Belanda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagus! Dan sungguh luar biasa bahwa efek Harry Potter menjadikan buku-buku tebal digandrungi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siapa pengarang buku idola dan paling dikagumi Bu Tonke?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali, salah satunya JRR Tolkien, pengarang The Lord of the Rings.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Apa buku cerita anak paling disukai, paling hebat, menurut Bu Tonke?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit untuk mengatakannya. Tonke menyukai banyak sekali buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hingga saat ini Surat untuk Raja sudah dicetak hingga berapa eksemplar?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Belanda, sekitar 400.000 eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Yang terakhir, obsesi yang belum terlaksana saat ini terutama berkaitan dengan buku yang ingin ditulis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tonke ingin menulis dan menyelesaikan sekuel buku Aan de andere kant van de deur (The other side of the door). Saat ini 75 persen telah rampung dan semua ilustrasi telah siap.(WEN/Litbang Kompas)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nilai Janji yang Terucap&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penggambar dan penulis, saya gemar membuat peta dan tulisan mengenai negeri-negeri yang saya karang atau, tepatnya, saya temukan. Barangkali karena saya menjadi bagian dari dua negara yang berbeda, yang dua-duanya saya cintai, namun yang di satu pun saya tidak pernah benar-benar merasa betah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian bunyi penggalan surat yang dikirimkan Tonke Dragt kepada pembaca di Indonesia terkait dengan peluncuran salah satu bukunya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. De brief voor de koning, karya Tonke Dragt, yang terbit tahun 1962 akhirnya dapat dinikmati publik Indonesia. Penerbit Pena Wormer, yang mengkhususkan diri pada karya penulis Belanda, meluncurkan edisi bahasa Indonesia dengan judul Surat untuk Raja, awal Desember 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1963—setahun setelah penerbitannya—anugerah buku anak terbaik disabet Surat untuk Raja. Empat puluh tahun kemudian karya itu belum kehilangan geregetnya. Cetakan ke-19 terbit pada tahun 2002. Capaian tertinggi diraih dua tahun kemudian saat buku anak itu dinobatkan sebagai Buku Anak Terbaik di Belanda sepanjang lima puluh tahun terakhir (1955-2004). Suatu pencapaian yang luar biasa dari sebuah karya yang seolah tak lekang dimakan usia. Oplahnya tidak boleh dipandang sebelah mata: sejak 1962, jutaan eksemplar telah terjual dan berbagai toko buku di Belanda setiap tahun menjual lebih dari 15.000 buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita dalam Surat untuk Raja berlatar waktu saat para ksatria masih berjaya. Tokoh utamanya adalah seorang pemuda berusia enam belas tahun bernama Tiuri, seorang calon ksatria yang harus menempuh ujian terakhir sebelum diangkat menjadi ksatria. Pada malam menjelang pengangkatan, bersama empat calon ksatria lainnya, Tiuri bertirakat dan menyepi di sebuah kapel di wilayah kerajaan Baginda Dagonaut. Dua puluh empat jam lamanya dia harus menahan kantuk, lapar, dan keinginan berinteraksi dengan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam yang menentukan itu, dia mendengar ketukan di pintu kapel. Seorang lelaki tua misterius meminta pertolongannya untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Ksatria Hitam Laskar Perisai Putih. Si lelaki tua menyerahkan surat dan mengatakan bahwa seekor kuda hitam akan membawa Tiuri menemui ksatria yang dimaksudkan. Mengikuti kata hatinya, Tiuri menafikan semua larangan dan mempertaruhkan nasibnya. Menembus gelapnya malam, calon ksatria itu berkuda mengantarkan surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu tugas yang teramat berat dan penuh bahaya untuk dilaksanakan. Dalam sekejap dia menjadi barid, seorang pengantar surat. Jalan panjang ditempuh menuju Kerajaan Unawen. Dalam perjalanan Tiuri harus menghadapi Laskar Pusu Pengendara Merah dari negeri Eviellan yang sedang berperang dengan Kerajaan Unawen. Laskar itu berkepentingan mencegah surat itu sampai di tangan Raja Unawen. Tiuri juga harus berhadapan dengan ksatria yang tergabung dalam Pusu Ksatria Kelabu, yang menuntut balas kematian Ksatria Hitam laskar Perisai Putih. Nantinya terbukti bahwa Ksatria Kelabu berada di pihak yang sama seperti Tiuri, mereka membela kepentingan Raja Unawen. Para Ksatria Kelabu menuturkan bahwa Ksatria Hitam Perisai Putih yang terbunuh adalah Edwinem dari Forestera, ksatria Raja Unawen yang paling setia dan digdaya, yang gugur karena dijebak Laskar Pusu Pengendara Merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pertapaan Menaures, sang petapa memperkenalkannya pada Piak, penunjuk jalan di pegunungan. Pada Piak, Tiuri menemukan sosok seorang sahabat. Rintangan demi rintangan dilalui kedua pemuda dalam melaksanakan tugas mengantar surat rahasia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai kebajikan dalam kemasan sederhana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Tiuri yang berlatar negeri antah berantah dan bermain di masa yang mengingatkan orang pada Abad Pertengahan patut mendapat acungan jempol. Pendapat pemerhati buku anak di Belanda—yang menilai buku ini sebagai karya abadi yang memiliki semua hal yang semestinya dipenuhi sebuah buku anak yang baik—dapat dibenarkan. Setelah lebih dari dua puluh enam tahun, tidak ada satu nilai kebajikan yang diusung dalam cerita ini ketinggalan zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur fiksi yang dihadirkan menjadikan kejadian dalam cerita tetap terterima sampai saat ini. Dragt berhasil menggabungkan fantasi dan kenyataan, dunia yang diciptakannya terasa begitu nyata. Penggambaran latar tempatnya membuat pembacanya terseret dan mulai membayangkan keindahan hutan dan bengawan, pekatnya malam di hutan atau sulitnya perjalanan melalui pegunungan. Kepiawaiannya menggambar—dia membuat sendiri ilustrasi buku-bukunya—barangkali berperan dalam pembentukan gambaran latar yang memikat. Penggambaran latar bersifat universal sehingga memudahkan pembaca menghayatinya. Struktur cerita yang jelas dengan alur maju pastinya tidak akan menyulitkan pembaca muda menangkap benang merah kisah petualangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini mengusung nilai-nilai kebajikan dalam kemasan sederhana. Terkadang pesan yang penuh perenungan diungkap, bukan lewat tindakan heroik para ksatria, tetapi misalnya ujaran tokoh sampiran. Tokoh Tirillo, pelawak penghibur di Negeri Unawen, berulang kali mengemban tugas menyampaikan perenungan itu. ”Seseorang tidak perlu mengusung pedang dan perisai untuk menjadi ksatria” (hal 459). Makna yang terkandung dalam pendapat si badut itu teramat dalam. Atau barangkali yang lebih menarik. Bagian berikut ini tak kalah memikat, saat si pelawak diminta menyanyi untuk menghibur hati, Trililo menolak dan justru mengatakan, ”Aku tidak bisa menghilangkan kesedihan hati kalian. Sekali-kali kau harus merasakan kesedihan agar bisa lebih menghargai kegembiraan. Sama seperti hujan yang mesti turun di antara sinar matahari” (hal 449).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenuhan janji yang telah terucap, kentara ditekankan dalam Surat untuk Raja. Berkali-kali dalam cerita disuguhkan bagaimana tokoh utama dan beberapa tokoh lain jungkir balik berupaya memenuhi janji. Bahwa mereka harus mengalahkan rintangan dan berbagi beban dalam menghadapi berbagai kendala yang menghadang, memperkuat pesan yang hendak disampaikan. Dan bila semua rintangan dan kendala terlewati, tugas dan janji terpenuhi, imbalan yang layak menanti. Dus bukanlah lidah tak bertulang, lain di bibir lain di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna persahabatan dijunjung tinggi, bersama teman kesulitan lebih mudah dihadapi, kebahagiaan dan kemenangan menjadi jauh lebih bermakna. Nilai seorang teman sejati diungkap dalam kisah ini, berkorban, menimbang rasa, besar artinya dalam sebuah relasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan yang dilakukan Tiuri sejalan dengan tema yang sering diangkat Dragt. Untuk menyampaikan surat penting, Tiuri menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Di akhir perjalanan Tiuri becermin dan melihat sebuah sosok baru: seorang calon ksatria telah menjadi ”ksatria” sesungguhnya, seorang pemuda menjadi lelaki dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ragam dalam satu kemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh bukan pekerjaan mudah untuk menuturkan kembali kisah petualangan Tiuri yang luar biasa ini ke dalam bahasa Indonesia. Dalam mengalihbahasakan Surat untuk Raja, Laurens Sipahelut menggabungkan dua ragam bahasa. Kentara ada upaya dari penerjemah untuk membuat buku ini terterima di kalangan pembaca muda. Ragam keseharian dipilih dan dihadirkan melalui dialog. Kehadiran kata-kata yang tidak ”resmi” seperti enggak, ’lah buset’, ’larinya enggak ada matinya’, tos gambar, ditengarai dapat menjadi ”pencair” keseriusan cerita. Sayangnya, terkadang pilihan kata semacam ini mengganggu keasyikan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edisi bahasa Indonesia ini juga berhasil menunjukkan kehebatan Dragt bercerita. Di samping ragam keseharian, Sipahelut menghadirkan ragam tinggi, dengan pilihan kata yang elok. Mungkin saja ini untuk memperlihatkan kedahsyatan kisah petualangan Tiuri. Efek kehadiran kata-kata ”berdaya” seperti barid, biduanda, juak-juak, sipangkalan sangat mencengangkan. Kata-kata yang tidak ”lumrah” dan jarang didengar—untungnya untuk kata semacam itu selalu diberikan penjelasan makna—menimbulkan sensasi keindahan yang luar biasa. Dampak gabungan dua ragam itu menciptakan ”kemegahan” yang terasa begitu ”membumi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sipahelut juga bereksperimen menciptakan kata-kata baru, yang barangkali terasa asing di telinga pengguna bahasa Indonesia, seperti pekuda, mengendala, mencenangkan. Beberapa kata bahkan tidak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tetapi pemaknaannya mengalir saja. Kenyamanan membaca justru terganggu karena masih banyaknya pekerjaan penyuntingan yang harus dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembira rasanya menyaksikan bahwa ranah buku anak di Indonesia diperkaya dengan edisi bahasa Indonesia karya Tonke Dragt ini. Di Negeri Belanda, Surat untuk Raja disejajarkan dengan karya besar penulis buku anak kelas dunia seperti CS Lewis The Chronicle of Narnia dan The Lord of the Ring milik JRR Tolkien. Hanya sedikit sekali buku anak karya bahasa Belanda dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia. Untuk menyebut beberapa di antaranya, Perjalanan Menembus Waktu karya Thea Beckman (Teraju, 2005) dan Minoes karya Annie MG Schmidt (Gramedia, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualangan Tiuri belum berakhir, kisah perjalanannya dapat diikuti dalam buku karya Tonke Dragt lainnya. Siapa tahu Pena Wormer atau penerbit lain masih akan menerbitkan edisi bahasa Indonesia petualangan Tiuri berikutnya. Kita tunggu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Christina Suprihatin&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pengajar Susastra dan Terjemahan pada Program Studi Belanda FIB Universitas Indonesia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas &lt;/span&gt;Edisi Pustakaloka 25 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-2494826476604226714?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/2494826476604226714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=2494826476604226714' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/2494826476604226714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/2494826476604226714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2008/02/antonia-johanna-dragt-terinspirasi-masa.html' title='Antonia Johanna Dragt: Terinspirasi Masa Kecil di Indonesia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-8878358354966476729</id><published>2008-02-23T18:00:00.000-08:00</published><updated>2008-02-23T18:04:03.835-08:00</updated><title type='text'>Sony Adi Setyawan, Penulis Skenario dan Pemrograman Multimedia</title><content type='html'>Teknologi sering menunjukkan pencapaian prestasi tinggi anak manusia. Tapi, hal itu juga bisa mendorong perilaku (moral) anak manusia ke titik nadir. Karena itu, perlu adanya keseimbangan sehingga pencapaian teknologi tinggi tidak mengakibatkan dekadensi moral.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, keseimbangan itu sulit dicapai. Kemajuan teknologi sering menggerus fondasi-fondasi moral. Contohnya, teknologi handphone, kamera, dan internet yang belakangan bersinergi meruntuhkan norma-norma agama dan sosial (moral).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, muncullah cuplikan tayangan film perilaku seksual melalui handphone yang tiap hari terus bertambah. Bahkan, hingga saat ini, 500 lebih cuplikan video porno beredar luas di internet. Yang lebih memasygulkan, rata-rata pemeran utama dalam video tersebut adalah para remaja yang berlatar belakang mahasiswa dan pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraknya perilaku pembuatan klip video (porno) dari HP dan kamera itulah yang memantik kegelisahan Sony Adi Setyawan. Melalui kampanye Jangan Bugil Depan Kamera (JBDK), Sony berupaya menyadarkan masyarakat luas tentang bahaya perilaku menyimpang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini perilaku seks menyimpang bukan lagi ancaman, melainkan sudah menjadi fakta yang terpampang. Hampir setiap hari, karya cuplikan film porno yang menggambarkan hubungan seks orang Indonesia yang dibuat dengan menggunakan handphone dan video kamera muncul di situs porno internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tayangan video berformat 3GP itu, 90 persen adegan diperagakan anak muda SMA dan mahasiswa. Delapan persen pemerannya adalah prostitusi, pejabat negara, dan pemerintah (DPR dan pegawai negeri) serta dua persen adalah cuplikan kamera pengintai yang mencuri gambar para wanita muda yang sedang bugil tanpa sadar di toilet atau di kamar hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kondisi ini semakin menunjukkan buruknya perilaku penyimpangan seksual yang dilakukan. Pemeran film ini tidak menyadari akibat dari perilakunya yang merugikan, baik bagi dirinya maupun pihak-pihak yang berhubungan dengannya," ujar Sony ketika ditemui Radar Jogja (Grup Jawa Pos) di Jogjakarta Rabu (13/2) pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sony mengungkapkan, meningkatnya karya video porno itu merupakan dampak perkembangan teknologi ponsel (handphone). Selain berdampak positif, perkembangan teknologi kamera ponsel berefek buruk pada terjadinya penyalahgunaan teknologi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengungkapkan, hingga saat ini lebih dari 500 cuplikan film porno dan ribuan karya gambar porno beredar luas di internet. "Baik yang disengaja maupun tidak disengaja, atau hasil perilaku kejahatan, seperti pemerkosaan, penistaan, dan pelecehan," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lulusan Jurusan Ekonomi Manajemen UNS Solo itu memaparkan, para pemeran tersebut tidak menyadari bahwa kegiatan coba-coba itu akan beredar luas di masyarakat dan berdampak buruk. Namun, sebagian lain "terpaksa" melakukan perbuatan tersebut karena permintaan pasangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entah itu karena tuntutan ekonomi atau lantaran terbuai rayuan sang pacar. Tapi, sebagian pasangan melakukannya karena kelainan seksual atau ingin mengejar popularitas," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengungkapkan, yang paling dirugikan dalam kegiatan tersebut tetap kaum perempuan. Apalagi mereka yang masih di bawah umur atau tidak berstatus pasangan resmi. Hal itu, lanjut Sony, disebabkan belum ada hukum di Indonesia yang melindungi remaja atau pasangan pacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang ada di Indonesia hanya aturan tentang kekerasan dalam rumah tangga. Bagi wanita yang dalam masa pacaran, belum ada (aturan, Red). Ini membuat para pelaku tidak bisa dijerat dengan aturan hukum," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu, kata dia, berbeda dengan Amerika Serikat. Di sana ada national dating violence abuse protocol. Aturan itu diberlakukan pada remaja mulai usia 14 tahun. "Remaja Amerika tidak bisa seenaknya pacaran. Para orang tua gadis meminta syarat tertentu ketika mengetahui anaknya punya pacar. Misalnya, meminta fotokopi KTP sampai membuat perjanjian keseriusan hubungan. Jadi, ketika terjadi sesuatu dengan anak gadisnya, orang tua bisa meminta pertanggungjawaban pelaku," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, hal itu belum ada di Indonesia. Sony mengaku telah melakukan pendekatan dan mengusulkan kepada pemerintah. Namun, lagi-lagi ide tersebut kandas karena kurangnya perhatian pemerintah. "Saya sudah mencoba memberikan masukan ke menteri komunikasi dan informasi tentang wabah perilaku bugil di depan kamera ini. Tapi, ternyata kurang dapat respons," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, aturan itu tidak harus dalam bentuk perundangan. Cukup dalam bentuk protokol yang diaplikasikan di berbagai sektor, seperti pendidikan, kebudayaan, dan kegiatan kepemudaan. "Dalam hal ini, saya sedang melakukan pendekatan ke kementerian pemberdayaan perempuan untuk menggodok draf aturan itu. Hanya untuk saat ini, saya lebih fokus terhadap kekerasan pada masa pacaran," tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sony, jumlah karya video porno dan gambar saru itu sebenarnya lebih banyak dibandingkan yang muncul saat ini. Seperti fenomena gunung es, karya yang ada hanya sebagian kecil dari kondisi yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya, masih banyak karya yang belum terekspos. Bahkan, lebih dahsyat dari (yang diketahui orang, Red) saat ini," ungkapnya. (syukron muttaqien/jpnn/ib)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama : Sony Adi Setyawan&lt;br /&gt;Nama Layar : Sony Set.&lt;br /&gt;Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 31 Oktober 1972&lt;br /&gt;Status: Menikah&lt;br /&gt;Agama : Islam&lt;br /&gt;Alamat tinggal : Jalan Menur 453 AB , Wonocatur, Jogjakarta&lt;br /&gt;No Handphone : 0813929 820 71 - 0818 936 046&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan : S-1 Ekonomi Manajemen UNS Solo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Kerja :&lt;br /&gt;-Media Relation Officer, Oracle &amp; Cisco System Company, 1999-2000&lt;br /&gt;- Journalist, Tabloid Komputek-&lt;br /&gt;(Grup Jawa Pos) 1997-1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presenter &amp; Scriptwriter :&lt;br /&gt;-INFOTEK -Nuansa Pagi RCTI, 2000&lt;br /&gt;-Scriptwriter, Sinetron Anak Gudang 20 Eps, Sinetron LUV 30 Eps, In House Drama RCTI 2002-2004, Sinetron DEWA 19, berbagai macam acara drama dan nondrama TRANS TV, 2004-2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Pengajar Tetap Mata Kuliah&lt;br /&gt;Penulisan Skenario, P2FTV, PPFN, Jakarta, 2002-2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Scriptwriter &amp; Konsultan Program&lt;br /&gt;TV, MGTH - Makemotions-antv-Bakrie Brothers Company 2005-2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Scriptwriter Sinetron Musafir, antv, 2005-2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Director (Sutradara TV Program), DAAI TV - Taiwan - Indonesia, 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil Karya Tulis Buku dan Artikel :&lt;br /&gt;-Buku Teknik Pemrograman Virus Komputer, Andi Offset, 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Buku Pemrograman Clipper, Elexmedia Komputindo 1997.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Artikel Komputer dan Internet Majalah Mikrodata - Elexmedia Komputindo, 1996-1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Fiksi dan Nonfiksi (Internet dan Multimedia), majalah HAI Gramedia, 1996-2000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Buku Remote Monitoring, Software Mata-Mata Jaringan LAN dan Internet, Elexmedia Komputindo 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Novel Mayar Dari Jogja, Grasindo 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Buku Menjadi Penulis Skenario Profesional, Grasindo 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Buku Teori Konspirasi Fisika-Manusia Tidak Pernah Mendarat di Bulan?, Grasindo 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Buku Jangan Takut, Jadilah Penulis Skenario professional, Mizan 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Artikel Komputer dan Film, Majalah Mata Baca, Gramedia, 16 artikel, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 24 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-8878358354966476729?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/8878358354966476729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=8878358354966476729' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/8878358354966476729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/8878358354966476729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2008/02/sony-adi-setyawan-penulis-skenario-dan.html' title='Sony Adi Setyawan, Penulis Skenario dan Pemrograman Multimedia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-8788110384637805626</id><published>2008-02-16T23:26:00.000-08:00</published><updated>2008-02-16T23:33:02.275-08:00</updated><title type='text'>Nurel Javissyarqi, Gerilya Penulis Pemberontak</title><content type='html'>Setiap penulis berdiri genting di kecamuk proses kreatifnya. Karena ia menyadari telah terlempar ke dunia, dirayapi gamang, terhirup waktu, diterbangkan iman. Telanjur sudah ia berlaga di padang kurusetra yang tak habis-habis itu. Sementara manusia lain, yang gentar nerjang nan alpa atas segala, cuma jadi ternak-ternak Tuhan belaka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah gambaranku atas lanskap batin penulis pemberontak ini, Nurel Javissyarqi, yang gede nyali bikin penerbit sendiri, Pustaka Pujangga. Ia menerbitkan karya-karyanya meski awalnya stensilan dan dicetak terbatas: 100 sampai 200 eksemplar. Tak cukup itu, ia bergerilya memasarkannya sendiri, dengan motor butut GL-nya, menjelajah dari kota ke kota. Sudah sejak 1995 aku mengenal penulis unik dan ngedan berkarya ini. Ia juga getol ngompori banyak penulis untuk terus berkreasi-cipta bahkan ia apresiatif menerbitkan karya-karya mereka, dengan kerja sama yang akomodatif dan blak-blakan. Misalnya, penulis bersangkutan sedia menyokong dana 20 persen atau 30 persen dari total ongkos cetak. Di antara karya mereka yang telah diterbitkan seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Balada-Balada Serasi Denyutan Puri&lt;/span&gt; karya Suryanto Sastroatmodjo (2006); &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kantring Genjer-Genjer&lt;/span&gt; karya Teguh Winarsho AS (novel, 2006); &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Herbarium &lt;/span&gt;(antologi puisi empat kota, 2007); &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ngaceng karya Mashuri&lt;/span&gt; (rampai puisi, 2007); &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sastra Perkelaminan&lt;/span&gt; karya Binhad Nurrohmat (kumpulan esai, 2007); &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Amuk Tun Teja&lt;/span&gt; karya Marhalim Zaini (kumpulan puisi, 2007); &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dunia Kecil: Panggung dan Omong Kosong&lt;/span&gt; karya A. Syauqi Sumbawi (novel, 2007); dan terakhir &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nabi Tanpa Wahyu&lt;/span&gt; karya Hudan Hidayat (rampai esai, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jarang Nurel menanggung semua biaya produksi sebagian kawan penulisnya di atas. Eskalasi penerbitan buku-buku sejenis itu terbilang merugi. Aku yakin, di antara 500-an penerbit Jogja nyaris tak akan yang berani menempuh langkah "bunuh diri" ala Nurel demikian. Hanya bos penerbit yang sinting plus tim redaksi yang konyol tertarik menerbitkan buku-buku seperti itu yang kemungkinan besar tak akan laku di pasar. Tapi dari mana ia punya dana saving? Hitungan kasarnya, jika satu judul buku dicetak 1.000 eksemplar, dengan ketebalan sekisar 250 halaman, maka ongkos produksinya bisa sampai Rp 4.000-Rp 5.000/eksemplar. Nurel pasti punya pertimbangan lain. Dan setahuku, ia juga seorang pedagang toko kelontong yang tergolong sukses di kampungnya. Aku patut salut: semangatnya mengingatkanku pada gagasan "sastra pinggiran" yang disorong Kuspriyanto Namma di era 90-an, meski mandek dan sepi apresian. Namun Nurel membabah peta anyar, walau dalam skala kecil dan agak ndeso: membangkitkan kembali greget "sastra pedalaman" tersebut di kancah ingar-bingar arus besar sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis "bandel bin nekat" ini memang tak kunjung patah arang. Sekian lampau pertarungannya di media tak banyak membuahkan hasil. Terlebih puisi-puisi dan esai-esainya nyaris tak diapresiasi koran. Kalaupun ada, hanya satu-dua. Yang ironik, karya-karyanya pernah dicap sampah. Ia membalas tudingan itu semata cincong kosong yang tak membakar lemak jiwa. Tak lebih ledekan ecek-ecek si pecundang yang nyinyir menantang absurditas kepengarangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, sobat, libas dan kalahkan! Sekarang penulis harus pede menerbitkan karyanya sendiri. Diam atau membangkai hanya pantas bagi mayat. Catatlah, aku kini telah jadi "hantu kecil" bagi penulis lain, lebih-lebih bagi penerbit-penerbit besar dan mapan, ketika sekian buku yang pernah kutawarkan, mereka cibir sebagai karya kacangan. Hanya cecoretan jorok-pesing di tembok WC! Bualan itu tak bakal membunuhku," serunya tajam, sekilas bacot pedasnya itu meringkus tatapanku, di denyar malam iruk-pucat tahun baru 2008, saat ia bersambang ke Pesantren Denanyar, lalu mampir ke padepokanku di Lembah Pring Jombang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca sosoknya, benakku tiba-tiba mendesis: ia telah mewarisi spirit "nyala api" dari tlatah Lamongan asal teroris Amrozi itu. Semacam ledakan proses kreatif yang lama nian dipanggang di atas kesadaran "ras pemberontak" Nietzchean sebagaimana termaktub dalam bukunya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Trilogi Kesadaran&lt;/span&gt; (2006). Di samping itu, jam terbang kreatifnya terbukti dengan sederet bukunya yang menderas terbit, seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sarang Ruh&lt;/span&gt; (1999); &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Takdir Terlalu Dini&lt;/span&gt; (2001); &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ujaran-ujaran Sang Pujangga&lt;/span&gt; (2004); &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Batas Pasir Nadi&lt;/span&gt; (2005), &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kekuasaan Rindu Sayang&lt;/span&gt; (2007), dll. Dan yang terbaru antologi puisi Kitab Para Malaikat (2007). Karya ini, telisik Maman S. Mahayana di pengantarnya, "Berbeda dengan karya Sutardji Calzoum Bachri atau Afrizal Malna. Karya Nurel Javisssyarqi lebih menyerupai bentuk ekspresi yang menggelegak. Maka, yang muncul adalah penghancuran struktur kalimat, pemorakporandaan imaji-imaji, dan penciptaan bentuk-bentuk metafora yang sempoyongan, berantakan dalam gerakan dewa mabuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait itu, bila disepadankan, Nurel tak sepopuler dengan kesuksesan Habiburrahman El-Shirazy di mana novel &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ayat-Ayat Cinta&lt;/span&gt;-nya sejak 2004 hingga akhir 2007 mencapai rating penjualan 300 ribu eksemplar. Bayangkan, saban sebulan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir ini menerima royalti sekitar Rp 100 juta. Gila! Atau coba bandingkan dengan karya-karya Asma Nadia (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Catatan Hati Seorang Istri&lt;/span&gt;), Langit Kresna Hariadi (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gajah Mada&lt;/span&gt;), Muammar Emka (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jakarta Undercover&lt;/span&gt;), Andrea Hirata (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Laskar Pelangi&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Edensor&lt;/span&gt;). Namun buku laris belum tentu baik, begitu pula sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika merenungkan teka-teki kembara Don Quixote, Cervantes seolah mendesirkan bebayang kutukan bagi tiap penulis bahwa tindakan magis melahirkan karya besar teramat lengkara. Menjelang punah. Lantaran kini, tandas Nirwan Dewanto, "Kita telah dikepung lautan karya yang mahaluas, jika bukan lautan mahakarya." Tapi Nurel, di balik kelimun pahit itu, bak Don Quixote tanpa Sancho Panza, si majenun kampungan yang menyana dirinya penulis tersohor yang liwung bertualang ke mana-mana. Bersama GL Rozinante-nya: nelangsa merawat imajinasi demi bercampuh di belantara sejarah sastra kita yang, konon, berjibun kronik politis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malangnya, ia tetap bersikukuh meledakkan diri di kubangannya. Ia tahu ia tak akan dapat menggores sejarah, hanya menoreh setilas ingatan yang lambat-laun pudar. Justru karena ia terus bermimpi begitu, ia menggeret perubahan, seperti Sisifus, di jagat kepengarangan yang melulu tak selesai. Paling tidak, ia kuasa mengebor spirit kawan-kawan sekotanya untuk gigih berkarya: Haris Del Hakim (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Laras Liris&lt;/span&gt;); Ridlo Tl (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dazedlove&lt;/span&gt;); Javid Paul Syatha (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tamasya Langit&lt;/span&gt;); Alang Khoiruddin (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seruling Cinta&lt;/span&gt;); dan Imamuddin AS (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Anggun Sasmita&lt;/span&gt;). Nurel mungkin sekadar menuliskan takdirnya, dan Tuhan menghamparkan kertas suci untuknya. Inilah secawuk cerita yang rapuh tapi boleh jadi menyimpan bara tuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walakhir, atas kemajenunannya aku layak memekik, "Jangan berhenti berkarya, sobat, sebelum belati hitammu terbakar!!" (*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* &lt;b&gt;Fahrudin Nasrulloh&lt;/b&gt;, penggiat Komunitas Lembah Pring Jombang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Digunting dari Harian Jawa Pos, 17 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-8788110384637805626?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/8788110384637805626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=8788110384637805626' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/8788110384637805626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/8788110384637805626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2008/02/nurel-javissyarqi-gerilya-penulis.html' title='Nurel Javissyarqi, Gerilya Penulis Pemberontak'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-1149861282670150952</id><published>2008-02-10T04:40:00.002-08:00</published><updated>2008-02-10T04:45:56.087-08:00</updated><title type='text'>Sindhunata: Mistikus yang Mencintai Ibu</title><content type='html'>Sindhunata boleh disebut sebagai puncak kecerdasan berbahasa. Sastrawan kelahiran Batu, sejak awal dekade 80-an bermukim di Jogjakarta itu, memang "Man of Letters". Penulis yang total dan setia membaktikan hidupnya bertekun di semak belukar makna huruf-huruf. Sindhunata dikenal luas sebagai wartawan, filsuf, novelis, penyair, pelopor jurnalisme sastrawi, penulis feature sepak bola, dan kurator senirupa. Ia menjalani karir sebagai penulis dalam kerangka hidup mistik. Kepengarangan dihayatinya sebagai wujud konkret intimitas cinta mendalam pada sang Khalik.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanti &lt;i&gt;Ratu Adil - Motif Eskatologis Protes Petani Jawa Abad 19 dan Awal Abad 20&lt;/i&gt; adalah naskah buku terbaru yang sedang ia terjemahkan dari disertasi hasil ngangsu kaweruh (menimba ilmu) di Universitas Munchen, Jerman pada 1986-1992. Disertasi &lt;i&gt;Hoffen auf den Ratu Adil&lt;/i&gt; itu merupakan tafsiran baru kajian gerakan protes petani yang sebelumnya dirintis sejarawan almarhum Sartono Kartodirdjo dan almarhum Onghokham. Karya terbaru ini perlu disebut, kecuali karena citra Sindhunata telanjur lekat dengan novel klasik &lt;i&gt;Anak Bajang Menggiring Angin&lt;/i&gt;, disertasi itu ditulisnya dengan gaya bertutur prosaik layaknya menulis feature.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Putri Cina&lt;/i&gt;, novel Sindhunata paling gres, terbit Oktober dan cetak ulang Desember 2007, dinobatkan komunitas sastra Bandung "Nalar" sebagai karya sastra paling bermutu. Putri Cina merupakan figurasi tragika nasib kaum minoritas Tionghoa Indonesia. Novel rumit dengan segerobak tokoh ini menggunakan teknik bercerita maju mundur. Sindhunata mengambil seting cerita dari zaman Majapahit era Brawijaya hingga pengujung Orde Baru, melumuri novelnya dengan babad, legenda, mitos, dan sejarah sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para penguasa Jawa mengincar rahim perempuan peranakan Tionghoa. Raden Patah, raja Demak anak Brawijaya, lahir dari kandungan seorang ibu peranakan Tionghoa. Begitu tulis Sindhunata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Putri Cina&lt;/i&gt; sesungguhnya by product buku &lt;i&gt;Kambing Hitam: Teori Rene Girard&lt;/i&gt; (2006). Novel ini semula katalog berjudul &lt;i&gt;Babad Putri Cina&lt;/i&gt; yang ditulis untuk pameran lukisan Putri Cina karya Hari Budiono di Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan Jogjakarta, Mei 2006. Hari Budiono, perupa kelahiran Mojokerto, bekerja di Bentara Budaya Yogyakarta, mendapat inspirasi setelah membaca draft &lt;i&gt;Kambing Hitam&lt;/i&gt;. Hari Budiono memang konsultan artistik untuk buku-buku Sindhunata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rene Girard, guru besar emeritus antropologi Universitas Stanford, California, AS, yang dikaji Sindhunata dalam Kambing Hitam mengalami pertobatan intelektual setelah mempelajari novel-novel klasik karya lima pengarang masyur abad ke-18: Miguel de Cervante, Gustave Flaubert, Stendhal, Marcel Proust, dan Fyodor Dostojevsky. Kecemburuan, kebencian, iri, dan kedengkian sosial merajalela karena dalam kehidupan masyarakat bertahta mimesis (hasrat tiru-meniru tiada berkesudahan). Mimesis mencetuskan lingkaran setan rivalitas. Rivalitas yang meletus menjadi kekerasan memerlukan kambing hitam untuk memulihkan harmoni sosial. Mekanisme kambing hitam itu senantiasa membidik dan mengejar kaum minoritas etnis, ras, dan religius. Minoritas adalah segmen masyarakat yang ditakdirkan sebagai korban. Inilah simpulan teori kekerasan Rene Girard yang dikelupasi Sindhunata dari kulit terluar sampai biji terdalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindhunata sendiri mengalami pertobatan profetik pada saat belajar di Jerman. Ia peranakan Tionghoa berwajah Jawa. Ia telanjur apriori terhadap komunitas Tionghoa di Jerman. Di Indonesia ia hampir jarang bersentuhan dengan kaumnya. Aktivitasnya lebih tercurah untuk orang Jawa dengan segala persoalan sosio-kulturalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah yang "menipu" ini membuat Sindhunata mengalami krisis identitas. Ia terasing total di negeri orang. Guncangan eksistensial itu mendorongnya menekuni novel-novel bertema Auf der Suche nach einer Heimat (para pencari tanah leluhur) karya pengarang imigran Yahudi. Kaum pelarian itu saking trauma dengan holocaust kerap menyembunyikan identitas rombeng mereka, bahkan di ruang pengakuan dosa saat bertatap muka dengan pastor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindhunata sadar: ia sulit menerima identitas kecinaannya karena tidak bisa menerima ketidakadilan yang ditimpakan kepada kaumnya. Menanggung karma sejarah kambing hitam sangat merisaukan. Krisis itu akhirnya mereda. Di Jerman ia menemukan kembali identitasnya yang sekian lama ditelan wajah yang cenderung menipu diri sendiri maupun sesama. Perjuangan membebaskan diri dari karma pala itu bukanlah perlawanan sosial melainkan pergulatan batin individual. Penderitaan telah memurnikan dirinya hingga menjadi jujur terhadap diri sendiri maupun kaumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah "Cina" memang sangat menyakitkan bagi kaum Tionghoa. Justru karena tidak mau terjerumus kembali dalam mekanisme tipu-menipu, eskapisme, dan eufemisme Sindhunata bersikeras dengan identitas "(ke)Cina(an)"-nya. Kosa kata Tionghoa atau China menurutnya melulu pelarian dan permanisan dari realitas sosial yang berlumuran kekerasan, ketidakadilan, pengejaran, labelling, dan stigmatisasi. Penyempurnaan sarana dan pengaburan substansi memang karakteristik mendasar zaman sekarang. Itu sebabnya, kendati mendapat reaksi keras di mana-mana, Sindhunata mempertahankan judul novelnya dan tidak mau mengganti, misalnya, dengan judul Putri China atau Putri Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindhunata terbebas dari tirani tuduh-menuduh dengan spiral prasangka etnis makin menanjak karena berkepribadian bukan pendendam. Karakter pemaaf melepaskan dia dari belenggu kecublukan masa lalu dan membuatnya kembali kuat. Ia memaafkan keterbatasannya sendiri sehingga perasaan malu dan menyalahkan diri tidak terlalu berat ditanggung. Ia memaafkan juga orang lain atas peran mereka dalam menghadirkan kekecewaan dan kesedihan. Tujuan hidupnya bukanlah untuk memikul segala keluhan sesal melainkan untuk terus tumbuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sindhunata, setiap berpaling ke masa lalu, senantiasa teringat Sioe Lien, gadis kecil teman bermain di tahun 50-an. Sioe Lien selalu tertawa riang saat bermain di sungai yang membelah kampung Hendrik, Batu, Malang. Sindhunata tidak tahu, mengapa tiba-tiba Sioe Lien harus pulang ke RRT bersama keluarga. Banyak peti-peti besar disiapkan menjelang kepergiannya. Baru kelak setelah dewasa, Sindhunata tahu keluarga Sioe Lien terkena PP 10/1959 tentang Dwi-Kewarganegaraan. Setiap teringat Sioe Lien, Sindhunata tergoda melihat arti dan indahnya kesunyian. Sindhunata pun jadi tahu makna Tionghoa kelahiran Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Percik gerimis kaki kanak-kanakmu/ dingin bermain di sungai kesendirianmu&lt;/i&gt;. Itulah bait puisi yang dipersembahkan Sindhunata untuk Sioe Lien di antologi puisi &lt;i&gt;Air Kata Kata&lt;/i&gt; (2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh sentral novel &lt;i&gt;Putri Cina&lt;/i&gt;, Giok Tien, istri Gurdo Paksi, sesungguhnya alter ego Koo Soen Ling, ibu kandung Sindhunata sendiri. Giok Tien dan Gurdo Paksi mati dibunuh Joyo Sumenggah, panglima Medang Kamulan, dalam krisis politik berujung pembersihan etnis. Dua sejoli beda etnis itu muksa menjadi sepasang kupu-kupu, persis legenda Sam Pek dan Eng Tay. Ketika Sindhunata masih belia, ibunya gemar mendongeng tentang Sam Pek dan Eng Tay. Kisah tua Tiongkok zaman antik perihal cinta manusia yang tidak kesampaian. Ibunya senantiasa terharu setiap mengisahkan sepasang kekasih tak direstui orang tua karena perbedaan status sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan spiritual Giok Tien ditemani Korsinah ke Gunung Kawi tidak lain kunjungan Sindhunata menemani ibunya berziarah ke makam guru kebajikan Eyang Djoego (Taw Low She) dan Eyang Imam Soedjono (Djie Low She) di Malang Selatan. Peziarahan Putri Cina ke pelbagai kelenteng dan makam kuno di Tuban sebenarnya perjalanan Sindhunata mengantar ibunya berziarah ke makam kakeknya di pantai utara Jawa. Menemukan makam Puteri Cempa secara kebetulan saat Putri Cina dalam proses cetak adalah rahmat terselubung yang didapat sang novelis yang kesasar ketika mencari makan malam di Lasem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koo Soen Ling menjanda sejak muda ditinggal mati Liem Swie Bie, suaminya. Ia membesarkan tujuh anaknya dengan bekerja sebagai penjahit. "Bimbang di Hati" adalah lagu kesukaan Koo Soen Ling. Lagu mengesan itu tanpa sengaja didengarnya dari pengamen jalanan sewaktu pergi ke Surabaya. Rombongan Orkes Keroncong Sinar Pangoentji dari Bekonang, Sukoharjo, Jawa Tengah, pun mendendangkan, "Kurasa bimbang di hati, meninggalkan kau pergi, juwita," di dekat peti jenazah Koo Soen Ling, saat disemayamkan di Kampung Hendrik, Batu, Malang, Oktober 2006. Lagu itu bertutur tentang seorang suami yang berat hati hendak bepergian mencari nafkah dengan meninggalkan keluarga. Anak-anak lalu diserahkan kepada istri untuk dirawat sampai suami pulang nanti. Sang istri pun sukses membesarkan anak-anak dengan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya sastra merupakan sarana yang bisa membantu manusia terhubung secara lebih sadar dengan intelegensia abadi dalam hati. Sastra menggeser hadirin dari kepala ke nurani mereka, beranjak dari logika menuju waskita, melampaui persepsi menuju visi, dan mengatasi keduniawian menjadi kesejatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya sastra bisa dirunut kembali ke sumbernya. Sebuah karya sastra, tanpa kecuali novel Putri Cina, terpaut dengan pengalaman hidup, identitas, falsafah, maupun perasaan-perasaan pengarangnya. Pengarang menyatakan diri dan mengomunikasikan pengalaman hidupnya secara mendalam. Sindhunata setali tiga uang Pramoedya Ananta Toer. Roman sejarah Pramoedya menjadi sangat memikat dan indah ketika bertutur mengenai tokoh-tokoh perempuan seperti Gadis Pantai atau Nyai Ontosoroh. Heroisme dalam roman sejarah Pramoedya selalu berkibar di tangan perempuan karena ia sangat dekat dengan ibu dan neneknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan di tangan Sindhunata adalah representasi kehendak bebas. Pembaca pun sering dibikin cemburu pada kepiawaian Sindhunata mengisahkan tokoh simbok-simbok dalam buku &lt;i&gt;Mata Air Bulan&lt;/i&gt; (1998). Kegandrungan Sindhunata pada tokoh-tokoh perempuan acap disalah-mengerti sebagai efek samping hidup melajang. Padahal, yang benar, karena ia sangat mengidolakan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Sindhunata tidak mau menanggung sesal berlarat begitu ibunya wafat. Ungkapan bijak yang mengatakan bahwa mistikus menjadi mashyur karena sangat mencintai ibunya menemukan kebenaran dalam karya-karya Sindhunata.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;J. Sumardianta&lt;/b&gt;, guru sosiologi SMA Kolese de Britto Jogjakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi 10 Februari 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-1149861282670150952?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/1149861282670150952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=1149861282670150952' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/1149861282670150952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/1149861282670150952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2008/02/sindhunata-mistikus-yang-mencintai-ibu.html' title='Sindhunata: Mistikus yang Mencintai Ibu'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-375524456456342042</id><published>2008-01-01T17:38:00.000-08:00</published><updated>2008-01-01T17:40:36.390-08:00</updated><title type='text'>Susilo Bambang Yudhoyono: "Saya Senang Berburu Buku"</title><content type='html'>Mau tahu berapa buku yang dikoleksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 17 ribu buah. Wah, jumlah yang luar biasa untuk sebuah perpustakaan rumah. Bukunya pun beragam, dari yang terbitan dalam negeri hingga asing. Dia mengaku setiap akhir pekan selalu menyediakan waktu dua jam untuk membaca buku.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya punya hobi berburu buku baru, termasuk kalau sedang ke luar negeri," tutur Presiden dalam sebuah kesempatan pekan lalu. Pada awal kehidupan berkeluarga, kata dia, sebelum membeli buku, dia harus meminta izin sang istri dulu. Maklum, menurut dia, gaji tentara pas-pasan. "Jadi baru beli kalau keperluan dapur tidak terganggu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pengujung 2007, dia menerbitkan buku terbarunya, Indonesia on the Move. Buku ini berisi kumpulan pidato pilihan Yudhoyono dan sejumlah artikel yang ditulisnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Koran Tempo Edisi 2 Januari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-375524456456342042?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/375524456456342042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=375524456456342042' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/375524456456342042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/375524456456342042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2008/01/susilo-bambang-yudhoyono-saya-senang.html' title='Susilo Bambang Yudhoyono: &quot;Saya Senang Berburu Buku&quot;'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-5268688246642072708</id><published>2007-11-21T14:54:00.000-08:00</published><updated>2007-11-21T15:01:22.193-08:00</updated><title type='text'>Ulil Abshar dan Kitab-kitab</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;&lt;a href="http://gusmus.net/page.php?mod=dinamis&amp;sub=7&amp;id=773"&gt;Oleh Ulil Abshar Abdalla&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah surat Ulil untuk mertuanya, Gus Mus(tofa Bisri). Ihwal kekaguman dan kebengongan. Ihwal pengajaran dan kitab-kitab. Di sebuah negara yang kerap dianggap satan bagi kaum agelaste dari Islam. Inilah Ulil, si abdi ilmu itu. "Kalau saya renung-renung sendiri, kelihatannya saja saya sekarang di Amerika, Abah. Tetapi apa yang saya pelajari "plek" persis seperti di pesantren," tulisnya.&lt;span class="fullpost"&gt; (redaksi I:BOEKOE)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SURAT ULIL ABSHAR ABDALLA&lt;br /&gt;20 Nopember 2007 19:52:48&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abah, &lt;br /&gt;Senang sekali saya mendapat sapaan dari Abah. Mohon maaf, selama ini saya tidak pernah mengirim email ke Abah. Kabar kami baik-baik. Iben sedang gembira sekali karena baru saja bisa menunggangi sepeda. Billy juga sedang senang-senangnya saat ini, sebab mendapat banyak kado dari teman-teman waktu Ultah kemaren. Kami terharu atas kebaikan teman Mbak Ienas yang meminjamkan rumah dan seluruh isinya untuk keperluan acara Ultah Billy. Sekarang ini, pergaulan Mbak Ienas sudah betul-betul "go-international". Temannya sudah tidak lagi berkisar antara Bekasi, Magelang, dan Sawahan, tetapi dari Venezuela, Arab, Israel, Jepang, Amerika, dll. Saya sendiri kalah, Abah, he he he.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis saya akan selesai dalam waktu dua hari ini. Saya selama di Boston ini memang sengaja memerosokkan diri ke bidang kajian Islam klasik. Nanti, di Harvard juga akan melakukan hal yang sama. Selama empat semester kemaren, saya seperti "ngaji" kembali di pesantren. Semester pertama, saya mengkaji "Mafatih al-Ghaib"-nya Imam al-Razi bersama profesor muda dari Kanada, Tareq Jaffer. Liburan musim panas tahun pertama saya pakai untuk "sorogan" dengan Prof. Tareq. Kami saat itu membaca "Tahafut al-Falasifah"-nya Imam Ghazali. Semester ketiga dan keempat, selama setahun penuh, saya ikut kelas Qur'an di Harvard. Pokok bahasannya adalah al-Itqan. Selama setahun itu, kami menyelesaikan 2/3 dari al-Itqan. Jadi lumayan sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas ini diampu oleh seorang profesor muda keturunan India tapi kelahiran Singapura, Mohamed Shahab Ahmed. Dia ahli tafsir dab hadis, disertasinya memperoleh penghargaan sebagai disertasi terbaik dalam kajian Islam pada tahun 2000. Tema disertasi dia adalah mengenai "qissat al-gharaniq" atau ayat-ayat setan. Dialah yang tertarik untuk membeli tafsir al-Ibriz-nya Mbak Bisri Mustofa. Sekarang ini, tafsir itu sudah ada di perpustakaan Harvard. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor ini pintar sekali, bahasa yang dikuasai ndak tahu berapa, banyak sekali, Abah. Hampir semua bahasa utama yang dipakai di dunia Islam dia kuasai: Arab, Persi, Turki, Urdu, Punjabi, Melayu. Dialah yang berjasa meluluskan saya ke Harvard. Dia memang kepengen sekali mempunyai mahasiswa dari Indonesia, terutama yang berlatar-belakang pesantren. Dia senang sekali ketika saya kasih tahu ada tafsir Qur'an lengkap berbahasa Jawa. Dan dia meminta saya menerjemahkan beberapa bagian dalam tafsir Mbah Bisri itu untuk dimasukkan dalam buku yang dia siapkan untuk terbit beberapa tahun mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya renung-renung sendiri, kelihatannya saja saya sekarang di Amerika, Abah. Tetapi apa yang saya pelajari "plek" persis seperti di pesantren. Memang gaya dan metode mengajarnya beda sekali. Di Harvard nanti, saya akan konsentrasi untuk belajar kalam dan falsafah Islam. September nanti, saya insyalLah akan mengambil empat kelas yang moga-moga menarik semua. Satu kelas wajib tentang filologi teks-teks Arab klasik. Ini adalah pelajaran untuk menjadi editor atau muhaqqiq teks-teks kuno yang masih berupa makhtutah. Kelas kedua tentang al-Jahidz, pengarang yang sejak dulu memang saya sukai. Kedua kelas ini diampu oleh seorang profesor dari Jerman, Wolfhart Heinrich. Kelas ketiga dan keempat adalah tentang Imam Ghazali adn al-Taftazani yang mengarang syarah atas kitabnya Adud al-Din al-Iji, "Al-Mawaqif". Dua kelas ini akan diampu oleh seorang profesor muda, Khaled al-Rouayheb. Sebetulnya ada kelas kelima yang saya juga tertarik, tapi kalau saya ambil akan berat sekali, sebab akan menanggung lima kelas. Yaitu kelas terbatas untuk membaca Al-Mustasfa-nya Imam Ghazali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membuat saya gembira bukan main adalah perpustakaan utama Harvard, yaitu Widener Library. Perpustakaan ini memiliki koleksi buku-buku berbahasa Arab yang luar biasa banyak sekali. Pekerjaan saya setiap hari hanya "nonton" kitab-kitab, sambil terbengong-bengong. Yang saya senang adalah kalau menemukan edisi pertama sebuah kitab yang dicetak oleh Penerbit Bulaq di Mesir, misalnya. Misalnya ada kitab terbitan 1800 sekian. Bau kertasnya khas dan enak sekali. Saya "ciumi" terus kertasnya, Abah, he he he... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tesis saya sendiri adalah soal teori kenabian menurut Imam Ghazali dan seorang filosof Yahudi yang hidup sezaman dengan Ibn Rushd di Andalusia, yaitu Musa bin Maimun atau lebih dikenal dengan nama Latinnya, Maimonides.Ada tiga teks Imam Ghazali yang saya jadikan penelitian, Ma'arij al-Quds, Mi'raj al-Salikin, dan al-Munqiz min al-Dhalal. Sementara itu, teks Maimonides yang saya pakai adalah Dalalt al-Ha'irin. Maimonides menulis buku ini dalam bahasa Arab tetapi memakai aksara Yahudi, dikenal dengan Hebrew-Arabic.Karena dia hidup di lingkungan Islam, sebetulnya pola pembahasannya persis dengan filosof-filosof Islam yang lain.Saya menemukan banyak hal yang menarik dari studi perbandingan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir Abah, saya mempunyai niatan dalam jangka panjang untuk menerbitkan kembali al-Ibriz tetapi bukan dalam aksara Arab pegon, sebaliknya dengan aksara latin. Saya memandang al-Ibriz adalah karya penting dalam konteks perkembangan sastra Jawa. Ketika para pengamat atau sarjana menulis tentang sejarah sastra Jawa modern, mereka tak pernah tahu ada karya yang dibaca oleh mungkin ratusan ribu orang seperti Al-Ibriz itu. Untuk kebutuhan paper akhir semester ini, saya menulis makalah tentang tafsir al-Ibriz. Prof. Shahab senang sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian kabar-kabari dari Boston. Semoga tidak berkepanjangan dan menganggu Abah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam ta'zim, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Diupload dari masjid sebelah: &lt;a href="http://gusmus.net/page.php?mod=dinamis&amp;sub=7&amp;id=773"&gt;masjid gus muh&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-5268688246642072708?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/5268688246642072708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=5268688246642072708' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/5268688246642072708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/5268688246642072708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/11/oleh-ulil-abshar-abdalla-ini-adalah.html' title='Ulil Abshar dan Kitab-kitab'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-5954633888076668495</id><published>2007-11-03T20:54:00.000-07:00</published><updated>2007-11-03T21:00:43.192-07:00</updated><title type='text'>Anne Enright, The Man Booker Prize for Fiction 2007</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh AN Efri Ritonga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah The Man Booker Prize for Fiction berulang. Tahun lalu, kala publik mengunggulkan Sarah Waters (&lt;i&gt;The Night Watch&lt;/i&gt;), Kiran Desai (&lt;i&gt;The Inheritance of Loss&lt;/i&gt;) keluar sebagai pemenang. Tahun ini, saat Ian McEwan (&lt;i&gt;On Chesil Beach&lt;/i&gt;) di atas angin, Anne Enright (&lt;i&gt;The Gathering&lt;/i&gt;) terpilih sebagai jawara.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McEwan, yang sudah dua kali masuk Booker, banyak dijagokan, antara lain karena riset Nielsen BookScan--sebelum pengumuman pemenang pada 16 Oktober lalu--menunjukkan &lt;i&gt;On Chesil Beach&lt;/i&gt; telah terjual sekitar 120 ribu kopi. Jauh di atas empat orang pesaingnya yang terpilih masuk daftar pendek, termasuk &lt;i&gt;The Gathering&lt;/i&gt;, yang baru terjual sekitar 3.200 kopi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya lima anggota dewan juri, yang terdiri atas bankir, penyair, wartawan, penulis, dan artis, punya penilaian berbeda. Dalam penyerahan hadiah di Guildhall, London, ketua dewan juri Howard Davies mengatakan juri menilai novel Anne sebagai karya yang kuat. Meski berisi kemarahan, kata Davies, Anne mampu menjelaskan kisah sebuah keluarga dengan memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah dalam buku ini, seperti disebutkan dalam sinopsisnya, adalah epik tiga generasi keluarga Irlandia, yang berlokasi di Irlandia dan Inggris. Judulnya, "The Gathering", mengacu pada pemakaman Liam Hegarty, pecandu alkohol yang bunuh diri dengan mencebur ke laut di Brighton. Ibunya dan sembilan anak-anak klan Hegarty berkumpul di Dublin menunggui mayat Liam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Veronica, perempuan berusia 30 tahun, yang juga saudara kandung terdekat Liam, mencoba mencari tahu penyebab kematiannya. Dia menemukan sesuatu yang dialami Liam di masa kecil saat tinggal di rumah neneknya menjadi pemicu perilaku alkoholiknya. "Sewaktu menempatkan buku ini di daftar panjang, juri tidak yakin dia bakal menang, tapi keputusan dewan juri bulat," ujar Howard.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anne lahir pada 11 Oktober 1962 di Dublin, Irlandia. Setelah belajar menulis kreatif di bawah bimbingan Malcolm Bradbury dan Angela Carter di University of East Anglia, dia bekerja sebagai produser dan Direktur Radio Telefís Éireann, Dublin, selama enam tahun. Sambil bekerja, ia menulis cerita pendek, yang kemudian dibukukan dalam &lt;i&gt;The Portable Virgin&lt;/i&gt;. Buku yang terbit pada 1991 ini menjadi karya perdananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak memutuskan menjadi penulis profesional pada 1993, ia semakin aktif mengeksplorasi tema-tema, seperti hubungan dalam keluarga, cinta, seks, keadaan Irlandia di masa-masa sulit, dan semangat zaman modern. Tiga novelnya yang lahir berturut-turut adalah &lt;i&gt;The Wig My Father Wore&lt;/i&gt; (1995), &lt;i&gt;What Are You Like?&lt;/i&gt; (2000), dan &lt;i&gt;The Pleasure of Eliza Lynch&lt;/i&gt; (2002). Pada 2004 ia menulis buku nonfiksi berjudul &lt;i&gt;Making Babies: Stumbling into Motherhood&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menerima Booker, karya-karya Anne tidak banyak mendapat perhatian publik, padahal beberapa penghargaan telah diraihnya. &lt;i&gt;The Portable Virgin&lt;/i&gt; memenangi penghargaan Rooney Prize for Irish Literature 1991. Sementara itu, &lt;i&gt;What Are You Like?&lt;/i&gt; masuk daftar pendek The Whitbread Novel Award dan memenangi The Encore Award.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengenai &lt;i&gt;The Gathering&lt;/i&gt;, peresensi di &lt;i&gt;The New York Times&lt;/i&gt; berpendapat bahwa ia tidak menemukan adanya kesenangan dan keriangan dalam buku ini. Anne mengakui, biasanya ketika sedang mencari buku, pembeli selalu memilih buku-buku yang dapat menceriakan mereka. "Dengan motivasi seperti itu, mereka tidak akan memilih buku saya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kini, setelah menggondol Booker, bisa dipastikan penjualan buku-bukunya bakal melejit, seperti telah terjadi pada pemenang-pemenang sebelumnya. Banyak di antara novel karya pemenangnya yang kemudian menjadi novel laris, misalnya &lt;i&gt;The Line of Beauty&lt;/i&gt; pada 2004, &lt;i&gt;Life of Pi&lt;/i&gt; pada 2002, dan &lt;i&gt;Vernon God Little&lt;/i&gt; pada 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pundi-pundi ibu dua anak ini juga akan bertambah gemuk dengan hadiah 50 ribu pound sterling (Rp 925 juta) sebagai pemenang, ditambah 2.500 pound sterling (Rp 46,25 juta) yang diterima semua peserta yang masuk daftar pendek. Daftar pendek penerima Booker selain Anne adalah Nicola Barker (&lt;i&gt;Darkmans&lt;/i&gt;), Mohsin Hamid (&lt;i&gt;The Reluctant Fundamentalist&lt;/i&gt;), Lloyd Jones (&lt;i&gt;Mister Pip&lt;/i&gt;), Ian McEwan (&lt;i&gt;On Chesil Beach&lt;/i&gt;), dan Indra Sinha (&lt;i&gt;Animal's People&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Man Booker Prize adalah penghargaan untuk novel terbaik sepanjang tahun berjalan yang ditulis oleh warga negara di negara-negara persemakmuran Inggris dan Irlandia. Novel asli harus diterbitkan dalam bahasa Inggris dan tidak dipublikasikan sendiri. Penghargaan yang telah memasuki tahun ke-39 ini disponsori perusahaan keuangan dan investasi Man Group Plc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia ditanya apa yang akan dilakukannya dengan hadiah uang tersebut, istri Martin Murphy, Direktur The Pavilion Theatre di Dún Laoghaire, Irlandia, ini menjawab belum tahu pasti. "Mungkin membangun dapur baru," ujarnya bercanda. Satu yang telah dilakukannya, kata Anne, adalah membeli baju baru menjelang penyerahan penghargaan. Sebuah baju bagus yang baru sekarang bisa dibelinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Digunting dari Harian Koran Tempo 4 November 2007 dengan judul "Jeblok di Pasar, Jaya di Booker".&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-5954633888076668495?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/5954633888076668495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=5954633888076668495' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/5954633888076668495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/5954633888076668495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/11/anne-enright-man-booker-prize-for.html' title='Anne Enright, The Man Booker Prize for Fiction 2007'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-2657804628337643042</id><published>2007-10-08T17:43:00.000-07:00</published><updated>2007-10-08T17:46:41.259-07:00</updated><title type='text'>Binton Nadapdap, Pemburu Buku dan Manuskrip</title><content type='html'>Buku adalah jendela dunia! Kalimat ini sudah sering terdengar sebagai salah satu upaya mempromosikan buku. Melalui buku, orang juga dapat melihat sejarah masa lampau dari suatu masyarakat. Maka, tidak salah jika dikatakan bahwa buku adalah salah satu bagian dari sejarah. Oleh karena itu, merawat buku adalah merawat bagian sejarah itu sendiri. Hal inilah yang menjadi motivasi bagi Binton Nadapdap untuk terus berburu dan mengoleksi buku dan manuskrip. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binton Nadapdap awalnya hanyalah seorang karyawan BRI yang menyukai lukisan, itu pun dia peroleh karena pemberian seorang kolega. Sejak tahun 1992, keinginan untuk tahu lebih banyak tentang lukisan membuatnya harus berburu buku tentang lukisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadarinya, ternyata membaca dan mengoleksi buku memberikan suatu kepuasan sekaligus semangat baru. Dari sanalah dia kemudian memahami bahwa banyak buku yang memiliki nilai historis tidak terkira dan menjadi dokumentasi penting dari suatu bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaannya kepada lukisan pada akhirnya menimbulkan rasa bersalah jika tidak dibarengi dengan mengumpulkan buku. "Harga satu lukisan bisa untuk membeli ratusan buku, rasanya sangat egoistis jika hanya membeli lukisan saja," ucap ayah dua anak ini. Maka, galerinya di Cinere Raya tidak hanya dipenuhi lukisan. Ribuan buku juga menghuni tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang mendorongnya untuk terus berburu buku untuk kemudian dia koleksi. Tidak terasa sejak tahun 1992 koleksi bukunya telah mencapai 70.000 buah. Segala jenis buku disimpannya, seperti sejarah, politik, ekonomi, sastra, dan tentu saja seni, khususnya painting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binton juga mengumpulkan naskah kuno atau manuskrip. Hingga saat ini Binton telah memiliki 40 manuskrip yang usianya lebih dari seratus tahun, bahkan ada yang berusia 200 tahun. "Uniknya, orang-orang di daerah tidak mengenal istilah manuskrip, tetapi lebih familiar dengan istilah ’tulisan daun lontar’ atau ’buku zaman kerajaan’," ungkap Binton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi yang dimilikinya dapat membuat orang tercengang, sesuatu yang mungkin tidak pernah diketahui dalam sejarah ternyata ada dalam koleksi Binton. Kini, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Pemerintah Hindia Belanda melalui Uitgegeven door Het Nederlandsch Bijbelgenootschap pernah menerbitkan Kitab Perjanjian Lama berbahasa Sunda yang dicetak di Amsterdam tahun 1891, atau sebuah tafsir Al Quran berbahasa Jawa yang diterbitkan oleh kelompok Ahmadiyah tahun 1958 di Yogyakarta. Kedua buku ini saja dapat membuka sebuah diskusi tersendiri tentang syiar agama pada masa lalu. Demikian pula buku asli Mein Kampf karya Adolf Hitler yang dicetak di Jerman tahun 1944. Belum lagi sejumlah buku sosial budaya tentang orang-orang Belanda atau peranakan yang tinggal di Indonesia pada masa kolonial, yang tentunya semua berbahasa Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perburuan buku dilakukan tidak hanya di Jakarta, tetapi hingga ke pelosok Pulau Jawa, Palembang, Jambi, Aceh, bahkan hingga ke Singapura. Jika kebetulan sedang ke luar kota untuk urusan pekerjaan, Binton tidak pernah lupa mendatangi kios dan toko buku kecil di daerah untuk mendapatkan berbagai informasi tentang buku dan manuskrip. Atau, jika ada hari libur, dia pasti menyempatkan diri bepergian ke luar kota untuk mencari buku atau lukisan. Untuk lebih memudahkan dalam memperoleh buku atau naskah kuno, Binton memasang iklan di berbagai koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya ada orang yang menghubunginya dan menawarkan buku atau naskah kuno. Jika sudah demikian, Binton pasti akan mendatangi kontak person itu dan melihat sendiri barang yang ditawarkan orang tersebut. Saat-saat seperti itulah, laki-laki kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, Oktober 1970, ini tidak lagi ambil pusing dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan barang yang diincarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi milik Binton tidak hanya buku bacaan berat. Komik pun memiliki tempat tersendiri di hati Binton. Ia seorang penggemar berat komik pada waktu kanak-kanak. Sewaktu masih di sekolah menengah di Siantar, Binton remaja sangat senang berlama-lama di tempat penyewaan komik. Bahkan, membolos pun pernah dia lakukan demi membaca komik kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulu tempatnya di Pajak Hongkong dan Pajak Horas," ungkapnya. Pajak adalah bahasa Medan untuk pasar. Maka, tiga tahun yang lalu dia pun memborong semua komik lama yang ada di taman bacaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya ke Medan, Binton juga berburu komik lama di Semarang yang jumlahnya puluhan ribu dengan harga Rp 80 juta. Dari 70.000 koleksinya, 30.000 adalah komik lama seperti komik karangan Taguan Harjo, Ganes Th, Gan KL, atau Hans Jaladara, selain tentunya Kho Ping Hoo dan tak ketinggalan serial Sam Kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki ribuan buku tentunya mengundang konsekuensi lain, yaitu biaya perawatan buku-buku tersebut. Untuk itu, Binton mempekerjakan tiga orang untuk merawat lukisan dan buku-bukunya yang disimpan di dua tempat, yaitu di Lenteng Agung dan Cinere Raya. EX BOOKS adalah ruko tiga lantai di Cinere Raya, dua lantai digunakan sebagai galeri lukisan sekaligus perpustakaannya, sedangkan lantai tiga adalah tempat tinggal keluarga Binton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merawat buku sekaligus memperoleh dana buat belanja buku selanjutnya, Binton memperolehnya dari penjualan lukisan. "Kelebihan hasil penjualan lukisan saya pakai untuk belanja atau perawatan buku," ungkap Binton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dia juga sering menyewakan koleksi ensiklopedia miliknya kepada rumah produksi untuk keperluan syuting iklan atau sinetron. Semua buku itu disimpannya dalam lemari jati yang berusia lebih dari seratus tahun. Menurut Binton, hal ini dilakukan untuk menghindari serangga yang dapat merusak kertas agar bukunya terjaga dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Membangun obsesi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya buku dan manuskrip yang dimilikinya tidaklah lantas membuatnya berpuas hati dengan pencapaian yang diraihnya. Binton kini punya cita-cita lain, yaitu membangun sebuah tempat yang merupakan gabungan dari galeri lukisan, perpustakaan, serta koleksi benda antik hingga foto-foto tua. Rupanya Binton juga mengumpulkan koleksi foto-foto lama semasa perjuangan kemerdekaan dulu. Dia berharap dari gedung seperti itulah anak-anak muda Indonesia akan lebih mengenal dan mencintai sejarah dan budaya negerinya. "Orang bisa menikmati lukisan dan membaca buku," demikian cerita Binton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, keinginan itu terbentur oleh dana. Sangat sulit membangun obsesinya sendirian. Menyadari hal itu, Binton pernah mencoba menggaet pejabat dan orang-orang berduit untuk ikut membangun idenya, tetapi hal itu tidak mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini belum ada yang tertarik dengan keinginan Binton itu. Buku bukanlah impian semua orang. Binton menyimpulkan bahwa keengganan kenalan dan koleganya pada idenya tersebut bukanlah disebabkan ketidakmampuan finansial, tetapi karena ketidakpedulian pada buku ataupun benda peninggalan masa lalu. Binton mencontohkan seorang kenalannya mengaku tidak punya uang untuk membantunya membangun idenya, tetapi tidak lama setelah itu ternyata si kolega membeli sebuah mobil mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binton sendiri merasa sendirian dalam merawat koleksi manuskripnya. Dia sebenarnya menyayangkan ketidakpedulian orang Indonesia pada naskahnya sendiri. Hal itu sangat berbeda dengan orang Malaysia yang justru berburu naskah kuno di Palembang. "Orang Malaysia sampai masuk ke desa-desa di Palembang untuk mencari naskah peninggalan kerajaan Palembang," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Binton, orang Indonesia hanya bisa mengeluh saja. "Kalau sudah begitu, terus orang kita ngomong bahwa Malaysia sudah mengambil naskah kuno Indonesia," imbuhnya. Padahal, orang Indonesia-lah yang tidak memiliki kepedulian pada khazanah negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya tentang kebiasaannya mengoleksi sesuatu, Binton mengungkapkan bahwa sejak kecil dia menyimpan semua buku sekolahnya. Sejak awal bersekolah hingga tamat S-2, dia menyimpan semua buku pelajarannya, dan setelah berkeluarga dia juga menyimpan rapi data anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya memfoto anak pada hari pertama sekolahnya, dan menyimpannya beserta semua kuitansi pembayarannya," ujar ayah yang sedang menyambut kelahiran anak ketiganya ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Kompas Edisi Pustakaloka 8 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-2657804628337643042?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/2657804628337643042/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=2657804628337643042' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/2657804628337643042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/2657804628337643042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/10/binton-nadapdap-pemburu-buku-dan.html' title='Binton Nadapdap, Pemburu Buku dan Manuskrip'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-7975161830486517694</id><published>2007-10-07T07:46:00.001-07:00</published><updated>2007-10-07T07:50:36.619-07:00</updated><title type='text'>Dauzan Farook, Veteran Pustawakan Itu Wafat</title><content type='html'>&lt;i&gt;Innalillahi wa innailaihi rojiun&lt;/i&gt;. Jogja kehilangan sosok yang hari-harinya dihabiskan untuk membuka khasanah masyarakat melalui buku. Dia adalah Dauzan Farook. Dauzan menghembuskan nafas terakhir pada Sabtu pagi (6 Oktober 2007) pukul 05.30 setelah dirawat di RS PKU Muhammadiyah Jogja.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingin udara pagi yang menusuk tulang seperti tak terasakan saat tersiar kabar duka dari rumah sakit. Dauzan meninggal. Berita yang mengagetkan seperti petir di siang hari bolong ini langsung menyebar ke seluruh warga Kauman. Kauman adalah tempat tinggal sekaligus kampung kelahiran almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan biodata yang tersimpan di rumahnya, Dauzan lahir tahun 1925 di Kauman. Anak, saudara dan kerabat serta warga Kauman, bergegas menuju rumah sakit yang berjarak sekitar 300 meter. Sementara yang lain menuju rumah Dauzan di Kauman GM I/328.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang terletak di gang paling barat kampung Kauman ini sehari-harinya difungsikan sebagai tempat perpustakaan umum. Dua jam kemudian, jasad almarhum langsung dibawa ke rumah salah satu anaknya di Kadipaten KP I/292.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara para takziah, tampak antara lain Wali Kota H Herry Zudianto, Direktur RS PKU Muhammadiyah Jogja dr HM Iqbal, anggota Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), kalangan perguruan tinggi, aktivis perpustakaan dan para legiun veteran. Kedatangan bekas para pejuang mempunyai hubungan sejarah dengan almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, Dauzan semasa muda pernah berjuang melawan penjajah. Dia bergabung dengan pasukan Sub Wenkreise (SWK) 101. Ia pernah terlibat baku tembak dalam penyerbuan gudang senjata Jepang di Kotabaru pada 6 Juli 1947.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga mati-matian saat terjadi kontak senjata pada Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Bahkan, di rumahnya terdapat foto kenang-kenangan ketika berpose dengan Panglima Besar Jenderal Soedirman. "Beliau pernah memanggul Pangsar saat bergerilya," terang Drs Ali Mansyur, menantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum di mata Wali Kota Herry Zudianto adalah termasuk orang baik saat ini. "Beliau orang yang tidak banyak bicara, tapi lebih banyak memberi manfaat untuk masyarakat," tutur suami Hj Dyah Suminar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dauzan juga sosok yang bekerja dengan ikhlas daripada menuntut haknya sebagai masyarakat. Herry menempatkan almarhum sebagai lambang masyarakat madani yang mempunyai semangat memberdayakan dirinya. Nah, kenangan berkesan bagi Herry adalah ketika didatangi almarhum. "Beliau sering datang ke rumah hanya untuk meminjami buku," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah duka juga terdapat beberapa karangan bunga. Antara lain Global TV. Sekadar diketahui, televisi nasional ini sempat menayangkan liputan khusus mengenai kehidupan Dauzan Farook. Hasil liputan ini diputar Jumat dini hari (5/10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat diwawancarai, Dauzan hanya mengenakan celana panjang dengan dada telanjang. Di leher terdapat kalung tasbih. Semasa hidup, Dauzan menikahi dua wanita. Yakni Zaringah dan Siti Sudarinah. Perkawinannya dengan Zaringah dikarunai tiga anak. Sedangkan dengan Siti Sudarinah melahirkan lima anak. Rumah di Kadipaten adalah anak dari perkawinan istri keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, disemayamkannya almarhum Dauzan di Kadipaten membuat kecele para takziah. "Saya kira berangkat dari sini," kata Kabid Pembina dan Perkembangan Perpusda DIJ Tulus Widodo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang langsung ke Kadipaten, ada pula yang menunggu di Masjid Kauman. Karena pukul 14.00, keluarga memutuskan almarhum dibawa ke Masjid Kauman sebelum diberangkatkan di Makam Pahlawan Sawit Gamping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum dikenal sebagai pejuang pada masa kemerdekaan melawan penjajah. Namun sejak tahun 1990 hingga menghembuskan nafas terakhir, Dauzan dikenal sebagai pustakawan. "Saya terpanggil untuk terjun ke medan perjuangan membela tanah air lewat jalur pendidikan. Yaitu mendirikan perpustakaan keliling Mabulir (majalah buku bergilir)," tutur Dauzan dalam buku hariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dauzan pun mewujudkan obsesinya. Perpustakaan berciri proaktif, gratis dan sistem kelompok multi level reading ini terus disosialisasikan ke masyarakat. Dia memperoleh buku-buku dari kocek pribadi. Dan, perjuangan Dauzan tidak sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat, pecinta buku dan kalangan perguruan tinggi, termasuk pemerintah, mengacungkan jempol untuk kerja keras Dauzan. Bantuan buku berbagai judul terus berdatangan. Karena terus bertambah, dia menyulap rumahnya menjadi tempat perpustakaan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jumlah koleksi buku saat ini mencapai sekitar 25 ribu buku," kata Muhtasib, asistennya. Masyarakat yang berdatangan untuk membaca dan meminjam buku semakin banyak. Mulai anak-anak, remaja, mahasiswa hingga orang tua dari berbagai kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, banyak pelanggan yang merasa kehilangan dengan sosok yang tak pernah lelah mengajak masyarakat membaca buku. Tak mengherankan, bila Dauzan menerima sejumlah penghargaan. Antara lain penghargaan Reksa Pustaka Bakti Tama taahun 2006 dari Gubernur Sultan HB X.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama, Dauzan juga menerima penghargaan dari Ikapi pada acara pameran buku di Assembly Hall, Jakarta. Penghargaan ini dipajang di tempat perpustakaannya. Di sebelahnya, terdapat sajak karya Dauzan berjudul In The Name of Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhentilah mencaci maki kegelapan. Lebih baik kau nyalakan secercah cahaya bagi mereka yang kegelapan. Tebarkanlah iman dengan cinta. Gubahlah dunia dengan prestasi. Jadikan hidupmu penuh arti, setelah itu bolehlah bersiap untuk mati. Kalau kelak dating hari perjumpaan, basahkan bibirmu dengan ucapan kalimat toyibah: Laa illaha illallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian Jawa Pos (Radar Jogja) Edisi 7 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-7975161830486517694?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/7975161830486517694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=7975161830486517694' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/7975161830486517694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/7975161830486517694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/10/dauzan-farook-pejuang-dan-pustawakan.html' title='Dauzan Farook, Veteran Pustawakan Itu Wafat'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-5775787497881606068</id><published>2007-09-08T16:47:00.000-07:00</published><updated>2007-09-08T16:53:09.636-07:00</updated><title type='text'>Rhenald Kasali: Menulis untuk Mengubah Pikiran Orang</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh BI Purwantari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang menganggap bahwa penulis buku, pertama-tama dan terutama, akan berharap mendapatkan imbalan uang dari kelarisan bukunya. Namun, Rhenald Kasali, pengajar dan penulis buku-buku manajemen yang laris di pasaran, berharap hal yang sama sekali berbeda. Setiap kali menulis buku, ia ingin orang-orang yang membaca bukunya mengubah cara berpikir. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan. Itulah kata kunci yang selalu hadir di setiap bukunya. Bahkan, dua dari 14 buku yang ditulisnya sejak tahun 1988 mencantumkan kata change (perubahan) di dalam judulnya, misalnya &lt;i&gt;Change!&lt;/i&gt; (2005) dan &lt;i&gt;Re-Code Your Change DNA&lt;/i&gt; (2007). Memang, menurut Rhenald Kasali sendiri, perubahan adalah nature atau sifat asli dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang ingin mengubah lingkungan sekitarnya, maka yang pertama harus dilakukan ialah mengubah dirinya sendiri. Perubahan diri itu sudah dilakukannya sejak usia belia. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, di antara lima bersaudara dalam keluarga, hanya ia yang berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana strata satu meskipun dengan keadaan ekonomi yang sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya nekat memilih sekolah yang kakak dan adik saya tidak mau masuk ke sekolah itu," papar lelaki kelahiran Jakarta, 13 Agustus 1960 ini. Lebih jauh, di antara saudaranya, ia sendirilah yang melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar PhD dari University of Illinois at Urbana-Champaign, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan untuk mengajar dan menulis pun merupakan keinginan diri untuk bisa memberikan inspirasi tentang perubahan, baik kepada anak didiknya maupun pembaca luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berubah atau mati&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berubah atau mati. Itulah kutipan dari buku berjudul &lt;i&gt;Change!&lt;/i&gt; yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada tahun 2005. Buku setebal 434 halaman itu memuat secara lengkap sejarah, filosofi, dan konsep dasar perubahan serta bagaimana seseorang atau sebuah perusahaan seharusnya mengelola perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, banyak orang telah terperangkap oleh kesuksesan masa lalu sehingga enggan untuk berubah. Padahal, persoalan demi persoalan yang datang menuntut seseorang atau sebuah perusahaan untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari yang pernah dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang telah terjual hingga cetakan ke-9 dan mencapai angka 75.000 eksemplar ini dilengkapi pula dengan kata-kata mutiara perubahan yang dapat membuat pembaca mampu memahami manajemen perubahan dan harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku lainnya, berjudul &lt;i&gt;Re-Code Your Change DNA&lt;/i&gt;, yang juga diterbitkan oleh GPU, berhasil menginspirasi orang. Suatu ketika ada seorang laki-laki yang tidak dikenal Rhenald datang menghampirinya. Orang itu minta izin kepadanya untuk memasang poster iklan buku &lt;i&gt;Re-Code&lt;/i&gt; di restorannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ternyata, menurut orang itu, dia membaca buku saya dan mempraktikkan untuk restorannya sendiri," tutur Rhenald.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Restoran itu terletak di Jalan Gajah Mada, Jakarta, dan sempat beberapa lama tidak beroperasi. Namun, restoran itu kini hidup kembali dan bahkan memasang foto Rhenald di daftar menunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal terpenting baginya adalah semakin banyak orang mengubah cara berpikirnya untuk kehidupan yang lebih baik. "The only thing that change is change. Tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini. Yang abadi adalah perubahan," papar Ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antusiasme pembaca buku-buku Rhenald Kasali terhadap ide perubahan yang dituangkan dalam buku-bukunya tampak jelas dari respons yang diberikan berbagai kelompok di masyarakat. Salah satunya adalah dari masyarakat Buddhis di Indonesia. Ia pernah diundang berbicara tentang buku Change di hadapan kelompok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut mereka, filosofi perubahan itu adalah filosofi yang dianut oleh Sidharta Buddha Gautama. Tak heran jika banyak umat Buddhis yang menjadi pembaca setia buku-bukunya. Bahkan, mereka menawarkan kepada Rhenald untuk mengadakan peluncuran buku berikutnya, yaitu Re-Code Your Change DNA, bersama-sama dengan pertemuan akbar umat Buddhis Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadilah saya terpacu menyelesaikan buku itu segera. Kalau tidak salah, buku itu terbit pada 13 Januari 2007 dan diluncurkan pada 15 Januari 2007 bersamaan dengan pertemuan akbar yang dihadiri ribuan umat Budhdis di Jakarta Convention Center," ungkapnya. Hasilnya luar biasa. Pada hari itu ribuan bukunya habis terjual. Sebagian besar peserta pulang dengan menenteng buku setebal 270 halaman. Menurut catatan penerbitnya, hingga kini buku itu telah terjual 40.000 eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepuasan yang luar biasa dirasakannya ketika banyak orang terpengaruh isi buku-bukunya. Menurut dia, itulah "imbalan" yang lebih besar dibandingkan dengan imbalan dalam bentuk uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau imbalan royalti memang cukup bagus untuk income keluarga. Tetapi, sangat keliru kalau orang hanya menilai secara materi. Orang tidak akan bahagia kalau hanya melihat uangnya saja," ungkap ayah Fin Yourdan Kasali dan Adam Makalani Kasali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Lingkungan membentuk&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis buku yang menginspirasi banyak orang tentunya bukan hal yang mudah. Lantas bagaimana ia dapat menghasilkan buku-buku yang diminati banyak orang? Bagi Rhenald Kasali, tema-tema yang dipilihnya untuk ditulis menjadi sebuah buku utuh muncul dari interaksinya dengan lingkungan yang selama ini diakrabinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Awalnya, saya adalah orang marketing. I love marketing. Prinsip saya adalah selalu mencintai pekerjaan yang sedang saya jalani," paparnya lebih jauh. Dengan prinsip tersebut ia mendalami bidang tersebut, bahkan hingga mengambil jenjang doktoral di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu masa ia merasa ada yang salah dengan bidang marketing. "Ketika saya sudah mendalami banyak teori marketing, saya melihat bahwa marketing cenderung menjadi ilmu yang statis. Banyak perusahaan menerapkan teknik-teknik marketing seperti yang diajarkan di sekolah-sekolah. Pengetahuan mereka sudah banyak sekali, tetapi perusahaan-perusahaan itu toh mengalami kolaps," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan yang dilihatnya adalah marketing dijadikan sebatas pengetahuan. Hal ini terjadi, menurut dia, karena basis organisasi yang menjalankan marketing itu tidak benar. Dari situlah awalnya ia mulai menulis tema-tema perubahan di dalam manajemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berpikir Rhenald Kasali tampaknya setali tiga uang dengan beberapa pakar marketing. Setelah buku &lt;i&gt;Re-Code&lt;/i&gt; diterbitkan, tak lama kemudian muncul buku berjudul &lt;i&gt;Self-Destructive Habits of Good Companies: And How to Break Them&lt;/i&gt; karya Jagdish N Shets dan terbit di Amerika Serikat. Tak lama setelah buku &lt;i&gt;Change!&lt;/i&gt; terbit, John Naisbit memublikasikan bukunya berjudul &lt;i&gt;Mind Set!&lt;/i&gt; di Amerika Serikat. Tampaknya, keprihatinan Rhenald terhadap pengelolaan perusahaan-perusahaan di Indonesia juga menjadi perhatian serius para pakar marketing di level internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena saya berada di dalam dunia marketing dan saya mendalami bidang ini dengan sepenuh hati, tidak sulit menemukan tema-tema yang memang sedang menjadi persoalan," paparnya pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ditulis adalah akumulasi dari teori-teori, pengalaman yang dijalaninya, serta pergaulannya yang luas. Di dalam buku Change! dikemukakan tentang keterlibatannya dalam memperbarui perusahaan-perusahaan yang beberapa di antaranya memasuki tahap krisis, seperti PT Indofarma dan PT Dirgantara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ia juga menjadi mitra kerja Prof Michael Porter dari Harvard University untuk mendorong perusahaan-perusahaan memperbaiki daya saing mereka. Buku Re-Code juga hasil pengalamannya melihat berbagai bangsa di dunia. Suku Masai di Kenya, Afrika, dan kaum Gypsi di kota Praha, Cekoslowakia, memberinya inspirasi tentang bagaimana seharusnya mengelola perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Rumah perubahan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak cukup dengan mendorong perubahan bagi perusahaan-perusahaan, Rhenald Kasali juga membangun gerakan pembaruan di lingkungan tempat tinggalnya. Berbekal uang dari hasil penjualan buku-bukunya, ia membeli tanah sekitar 1 hektar di daerah Jati Murni, Bekasi, dan mendirikan apa yang disebutnya Rumah Perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat ini ia menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan kebersihan lingkungan melalui program yang disebut Sampah Solution.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada tetangga saya yang membuat mesin pengering sampah. Lalu, kami memotivasinya, mengenalkannya kepada bupati dan perusahaan-perusahaan. Akhirnya, dia bisa membuat, selain mesin pengering, juga mesin pengepres dan pemilah sampah. Mesin tersebut memungkinkan sampah diolah menjadi bahan bakar," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga bahan bakar itu lebih murah daripada batu bara dan mengandung kalori lebih tinggi daripada batu bara. Dengan demikian, sampah dapat didaur ulang seratus persen. Syaratnya mudah saja, yaitu mengumpulkan sampah yang tentunya ada di mana-mana. Konsep Sampah Solution ini sangat berbeda dengan prinsip kerja tempat pembuangan akhir sampah yang sering kali justru mengakibatkan polusi. Beberapa perusahaan sudah bersedia membeli bahan bakar baru tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Rumah Perubahan ini pula ia melatih beberapa orang untuk budidaya ikan dan mengembangkan kloning pohon jati unggul. Upaya ini dilakukan bersama-sama dengan Pusat Guru Pertanian, Cianjur. Istrinya, Elisa L Kasali, pun ikut dilibatkan dalam gerakan pembaruan dengan mendirikan Rumah Baca dan Rumah Kesehatan bagi anak-anak tak mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendeknya, perubahan harus dilakukan di banyak bidang. Menurut dia, "Kalau tidak berubah, ibarat orang mengayuh sepeda. Meskipun sudah kencang mengayuhnya, tapi kalau berhenti, ia akan jatuh." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; Edisi Pustakaloka 27 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-5775787497881606068?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/5775787497881606068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=5775787497881606068' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/5775787497881606068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/5775787497881606068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/09/rhenald-kasali-menulis-untuk-mengubah.html' title='Rhenald Kasali: Menulis untuk Mengubah Pikiran Orang'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-1733526336459783790</id><published>2007-09-03T16:06:00.000-07:00</published><updated>2007-09-03T16:15:36.818-07:00</updated><title type='text'>Retno Tranggono, Inspirator Kosmetik Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Edna C Pattisina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RtyVgXTzasI/AAAAAAAAALw/VnXkg73TzP8/s1600-h/retno.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RtyVgXTzasI/AAAAAAAAALw/VnXkg73TzP8/s200/retno.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106120460776729282" /&gt;&lt;/a&gt;Suatu siang di kantornya di Graha Ristra, Retno Iswari Tranggono sibuk membongkar koleksi buku. "Saya tadi dengar kabar ada kandungan formalin di salah satu produk. Itu aneh sekali. Makanya saya cari referensi. Semoga bisa jadi masukan buat Badan Pengawas Obat dan Makanan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah obrolan tentang buku biografinya, &lt;i&gt;The Entrepreneur Behind The Science of Beauty, Inspirator Kosmetik Indonesia&lt;/i&gt;, Retno Tranggono yang diluncurkan Senin (3/9), Retno Tranggono (68) bercerita bahwa hal-hal yang membahayakan konsumen seperti itu sering terjadi sejak masa awal dia berpraktik sebagai dokter kulit. "Makanya, konsumen sebaiknya sadar, selalu berhati-hati," katanya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Retno, misi hidupnya adalah mengedukasi masyarakat. Sekitar tahun 1960-an ia berusaha meyakinkan orang untuk mencuci muka dengan sabun. "Waktu itu, kalau kulit jerawatan, malah ditutupin bedak. Ini menurut ilmu turunan dari Belanda, muka itu enggak boleh disabunin," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal tahun 1970-an banyak produk kosmetik dari China, Taiwan, dan Thailand membanjiri Indonesia. Sebagai dokter, ia melihat banyak produk kosmetik yang bisa meracuni orang. Retno lalu melapor kepada Departemen Kesehatan. Ia mengkritik, kenapa komposisi produk tak ditulis pada kemasan? Setahun kemudian terbukti produk-produk itu mengandung merkuri yang berbahaya untuk otak, ginjal, dan lever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia menggarisbawahi, berbagai produk dan perawatan kecantikan yang ditawarkan teknologi modern sering salah dimengerti. Ia mencontohkan, chemical peeling yang dalam prosesnya mengelupasi kulit. Akibatnya, lapisan dalam kulit jadi menipis. Proses yang diadopsi dari negara-negara subtropik ini memiliki efek yang berbeda jika diterapkan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertama, intensitas cahaya matahari berbeda. Kedua, pigmen melanin kita lebih besar dan banyak dibandingkan orang bule. Ini membuat penyerapan sinar matahari lebih banyak dan kulit kita bisa bertambah hitam, atau merah kayak udang rebus sebab ada masalah dengan pembuluh darah," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi salah kaprah tentang sun protecting factor (SPF) pada tabir surya. Tingginya angka SPF, walau memberi perlindungan terhadap ultraviolet B, akan membuat pembentukan pigmen kita lebih cepat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara buat orang bule, mereka memang ingin kulitnya menjadi coklat. "Kalau buat kita, kulit malah jadi tambah hitam. Untuk daerah tropis seperti Indonesia, dibutuhkan SPF yang terintegrasi. Prinsipnya, kita enggak bisa langsung pakai kosmetik asal negara-negara subtropik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekali saja perempuan yang menyebut dirinya "gasing"—gara-gara ia merasa tak bisa diam—merasa harus tetap mengambil sikap di tengah arus yang berbeda. "Saya percaya, Tuhan punya rencana untuk hidup. Jadi, setiap kali saya merasa ’ada sesuatu’, ya saya kemukakan, saya jalan terus," kata nenek dari enam cucu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penyakit kotor&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiprah Retno di bidang pendidikan ditandai dengan tantangan Kepala Bagian Kulit dan Kelamin Prof Dr M Djoewari saat ia lulus program spesialisasi pada 1968. Saat itu spesialisasi kulit dan kelamin dipandang sebagai bagian yang mengurusi penyakit kotor pada pelaut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman dia dengan berbagai pasien, Retno melihat masalah kosmetik untuk kecantikan dan kesehatan tak bisa dipisahkan. Ia lalu berjuang untuk mendirikan Subbagian Kosmetik dan Bedah Kulit. "Kalau kamu yakin ilmu itu diminati oleh para dokter dan masyarakat membutuhkan, dirikan dan kembangkan!" kata Retno mengutip perkataan Djoewari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanannya mewujudkan apa yang disebut sebagai &lt;i&gt;The Science of Beauty&lt;/i&gt; tak mulus. Pada langkah pertama memasuki Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, mental Retno sudah teruji saat ia dijuluki "janda bopeng" dalam masa plonco.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu saking banyaknya saya punya jerawat. Memang mereka pada jahat ya ngasih julukan seperti itu. Tetapi, buat saya sendiri, kalau istilah sekarang, ya cuek saja," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pribadi tersebut menjadi salah satu pendorong pilihan hidupnya untuk menjadi "dokter jerawat". Meski persentuhan Retno dengan dunia kosmetik diawali dengan sebuah "kebetulan". Suatu hari ia menyerempet pohon bugenvil milik Bo Tan Tjoa. Perkenalan yang kebetulan itu membuat Bo Tan Tjoa, yang merupakan pendiri Viva Cosmetic, mengundang Retno untuk menjadi guru di Viva Health and Beauty Institute. Ini terjadi pada tahun 1963.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu saya mendirikan Subbagian Kosmetik dan Bedah Kulit, ada empat suster dari FKUI yang saya ’sekolahkan’ ke salon. Kalau sebelumnya saya memasukkan unsur medis ke salon, sekarang pengalaman praktis di salon masuk dunia medis," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Belajar sendiri&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasratnya menggabungkan ilmu medis dan perawatan kecantikan banyak berkembang lewat proses belajar sendiri. Ia memasuki cabang ilmu yang ketika itu belum berkembang. Sudah tentu buku yang tersedia pun amat terbatas. Buku pegangan pertamanya tentang kecantikan dibawakan sang suami, Tranggono, sepulang melawat ke Eropa untuk tugas belajar sebagai dokter AURI sekitar 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai sekarang buku itu, &lt;i&gt;The Structure and Function of The Skin&lt;/i&gt;, masih saya simpan karena menjadi inspirasi bagi saya," tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Retno mengakui, dukungan keluarga dan suami adalah hal penting dalam hidupnya. Berkali-kali ia menceritakan, dukungan suaminya saat mereka memutuskan mendirikan usaha kosmetik Ristra. "Bapak mengajukan pensiun dini tahun 1983 dan kami mendirikan Ristra tahun itu juga," cerita Retno tentang usaha yang namanya merupakan akronim dari Retno Iswari dan Suharto Tranggono itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai dokter, ia mengaku gamang ketika mulai menjadi pebisnis. Namun, keinginan dia menjadikan Ristra sebagai kosmetik bagi orang Indonesia, membuat semangat Retno melambung. "Bapak (Tranggono) bekerja di bagian manajemen dan saya berkutat di research and development-nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formulasi asli yang diramu Retno adalah hasil dari pengalaman bertahun-tahun menangani berbagai masalah pasien. Julukannya sebagai "dokter jerawat" menjadi modal awal, selain modal dana. Sejak awal ia bertujuan mengusung merek yang menggabungkan antara kosmetik dan medis. Oleh karena itu, kata dia, Ristra mengambil posisi bisnis berbeda dengan produk-produk tradisional yang sudah berakar lama. Dalam buku biografinya, Retno menyinggung hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ristra memang berhasil bertahan selama 24 tahun. Namun, pencapaian ini tak berarti perjalanan usaha Retno selalu mulus. Tiga tahun pertama merek Ristra langsung melonjak. Beberapa perusahaan internasional, seperti Sara Lee dan British Petroleum, sampai menawar untuk membeli perusahaan itu. Tawaran itu ditolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1987 Retno menghadapi masalah. Walaupun barangnya laku di pasaran, uangnya tidak masuk perusahaan. "Kami ditipu orang. Ketika itu kami rugi sampai sekitar setengah miliar rupiah. Modal kami tinggal sepuluh juta, jadi ya harus pinjam kepada bank," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibarat gasing yang terus berputar, meski merugi, Ristra tak jatuh dan tamat. Dia berhasil bangkit. Bagi Retno, turun-naik sebuah usaha itu adalah hal yang lumrah, seperti roda kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Retno berencana menyerahkan "estafet" usahanya kepada pebisnis profesional yang diharapkan lebih piawai. Dia akan tetap mendukung di belakang layar. "Saya mau kuliah filsafat," kata perempuan energik ini menyebutkan alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Digunting dari Harian &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; edisi 4 September 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-1733526336459783790?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/1733526336459783790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=1733526336459783790' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/1733526336459783790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/1733526336459783790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/09/retno-tranggono-inspirator-kosmetik.html' title='Retno Tranggono, Inspirator Kosmetik Indonesia'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/RtyVgXTzasI/AAAAAAAAALw/VnXkg73TzP8/s72-c/retno.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-9192901518076629870</id><published>2007-09-01T16:59:00.001-07:00</published><updated>2007-09-01T17:02:15.523-07:00</updated><title type='text'>Biografi Raden Mas Adipati Ario Koesoemo Oetoyo (1871-1953)</title><content type='html'>Biografi Raden Mas Adipati Ario Koesoemo Oetoyo (1871-1953) menjadi inspirasi bagi generasi penerus. Koesoema Oetoyo adalah tokoh pergerakan politik pada masa-masa akhir pemerintahan kolonial Belanda. Kiprah Koesoemo di antaranya sebagai Ketua Organisasi Pergerakan Politik Boedi Oetomo selama 10 tahun (1926-1936) dan menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat yang pertama, yang didirikan Belanda tahun 1918. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan sejarah ini kembali dimunculkan sehubungan peluncuran dan bedah buku biografi RMAA Koesoemo Oetoyo berjudul &lt;i&gt;Perjalanan Panjang Anak Bumi&lt;/i&gt;, Senin (27/8) di Auditorium Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta. Rushdy Hoesein dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (FIB-UI), dan Roger Tol selaku Direktur Lembaga Kajian Budaya untuk Wilayah Asia Tenggara dari Universitas Leiden, Belanda, tampil sebagai pembahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait sosok Koesoema Oetoyo yang tak dikenal luas tersebut, Rusdhy mengungkapkan bahwa perjuangan kebangsaan untuk merintis kemerdekaan Indonesia tidak selalu secara radikal. Pada masa pergerakan menuntut kemerdekaan dari Hindia Belanda, misalnya, anggota-anggota Volksraad menjadi kelompok yang kooperatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Akan tetapi, tujuan politik menuju kemerdekaan Indonesia cukup jelas," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manifestasi yang paling menonjol dari peranan Volksraad ini, pada 15 Juli 1936 dibuatlah petisi yang menyatakan agar Pemerintah Belanda dan parlemennya menyelenggarakan konferensi di kerajaannya agar menetapkan, dalam jangka 10 tahun ke depan, Indonesia diakui sebagai wilayah mandiri. Petisi itu ditandatangani banyak orang, termasuk Oetoyo. Penanda tangan pertama petisi itu Soetardjo Kartohadikoesoemo sehingga petisi itu kemudian dikenal sebagai Petisi Soetardjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roger Tol pada kesempatan itu menuturkan, biografi pelaku sejarah di Indonesia termasuk jarang dibuat. Buku biografi Koesoemo Oetoyo dinilai sangat penting dan bermanfaat bagi generasi penerusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku biografi yang diterbitkan Yayasan Obor tersebut, salah satu cucu Oetoyo, Atashendartini Habsjah, mengungkapkan, dalam berbagai pidato Oetoyo di organisasi Boedi Oetomo maupun sidang Bupati Se-Jawa (Oetoyo selama 23 tahun, 1902-1925, menjabat sebagai bupati di beberapa daerah di Jawa), Oetoyo sering mengistilahkan Anak Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Anak Bumi itu dimaksudkan Oetoyo untuk mengembalikan kepercayaan diri kaum pribumi. Menurut Atashendartini, Oetoyo selalu menanamkan agar semua ilmu dari Barat harus dikuasai pula Anak Bumi. Identitas Oetoyo sehari-hari sebagai Anak Bumi juga diwujudkan secara konsisten. Oetoyo dalam kesehariannya antimemakai sepatu, selalu mengenakan kain batik pengganti pantolan, dan berbelangkon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; Edisi Kamis 30 Agustus 2007 &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-9192901518076629870?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/9192901518076629870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=9192901518076629870' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/9192901518076629870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/9192901518076629870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/09/biografi-raden-mas-adipati-ario.html' title='Biografi Raden Mas Adipati Ario Koesoemo Oetoyo (1871-1953)'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-4436639819745085087</id><published>2007-08-20T06:33:00.000-07:00</published><updated>2007-08-20T06:34:40.426-07:00</updated><title type='text'>Salmubi, Pustakawan Berprestasi 2007</title><content type='html'>Setelah melalui serangkaian acara seleksi pemilihan Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional 2007, Salmubi yang merupakan pustakawan di Politeknik Negeri Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, berhasil meraih predikat juara pertama. Salmubi mengalahkan 29 peserta lainnya dari berbagai provinsi lewat proses seleksi yang ketat. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Perpustakaan Nasional Dady P Rachmananta di Jakarta, Kamis (16/8), mengatakan, terpilihnya pustakawan berprestasi terbaik ini diharapkan akan dapat menginspirasi pustakawan lainnya untuk terus berkarya secara profesional di bidang perpustakaan, dokumentasi, ataupun informasi dalam melayani kebutuhan informasi masyarakat luas. &lt;br /&gt;Penerima penghargaan lainnya adalah M Tawwaf (Riau), F Rahayuningsih (Yogyakarta), Hartono (DKI Jakarta) Ade Abdul Hak (Banten), dan Dwi Endah Purwanti (Sumatera Utara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Digunting dari Harian &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; Edisi Senin 20 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-4436639819745085087?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/4436639819745085087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=4436639819745085087' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/4436639819745085087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/4436639819745085087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/08/salmubi-pustakawan-berprestasi-2007.html' title='Salmubi, Pustakawan Berprestasi 2007'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-8066931098993084335</id><published>2007-08-12T20:25:00.000-07:00</published><updated>2007-08-12T20:28:25.593-07:00</updated><title type='text'>Harry A Poeze: 36 Tahun Berburu Jejak Tan Malaka</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_Pi6QBkdI/AAAAAAAAALg/bbE9FQIY-U0/s1600-h/harry+poeze.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_Pi6QBkdI/AAAAAAAAALg/bbE9FQIY-U0/s200/harry+poeze.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098021501865660882" /&gt;&lt;/a&gt;Ia mendedikasikan 36 tahun lebih sejak tahun 1971 untuk menguak perjuangan dan kematian Tan Malaka. Itulah pengabdian seorang Harry A Poeze (60), Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV di Leiden. Karya penelitian Poeze tentang babak akhir hidup Tan Malaka akhirnya tuntas Maret 2007 melalui penerbitan buku &lt;i&gt;Tan Malaka: Verguisd en Vergeten (Tan Malaka: Dihujat dan Dilupakan)&lt;/i&gt;. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermula dari rasa ingin tahu saat dia masih menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah di Amsterdam Universiteit, Belanda, Poeze terpikat pada sejarah peralihan dari abad ke-19 ke abad ke-20 yang penuh eksotisme Hindia Belanda. Itulah masa yang jadi inspirasi penulis besar, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Rob Nieuwenhuis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindia Belanda kala itu berada dalam pengaruh kuat "Politik Etis" dan mempersiapkan putra-putra penggagas bangsa bernama Indonesia. Dia pun terpikat pada sebuah nama: Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama besar Tan Malaka berulang kali muncul dalam karya-karya ilmuwan Amerika Serikat (AS), Ruth McVey, tentang kelahiran komunis di Indonesia. Rasa penasaran Poeze membawa dia pada awal penelitian mendatangi bekas sekolah dan rumah Tan Malaka di Haarlem, tak jauh dari Amsterdam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahun 1971 saya bertemu dengan 12 teman sekolah Tan Malaka yang masih hidup. Mereka sama-sama menempuh pendidikan guru (Kweek School) di Haarlem. Begitu dalam kesan yang ditinggalkan Tan Malaka. Bahkan, dokumentasi surat-surat dua guru dia di Sekolah Fort De Kock di Bukit Tinggi, yang memberi rekomendasi dan dukungan, masih terekam baik di Haarlem," cerita Poeze.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka memang amat pandai karena dialah satu-satunya siswa kulit berwarna di Kweek School yang ditempuhnya tahun 1913-1919. Masa Perang Dunia pertama ia lalui di Belanda. Bahkan, setelah dia lulus, direktur Kweek School ketika itu khusus meminta warga Belanda di Sumatera Utara memperlakukan Tan Malaka sebagai orang Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"Che Guevara Asia"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran awal itu menjadi dasar skripsi Poeze. Materi itu juga menjadi bahan penulisan buku Dari Penjara ke Penjara. Poeze lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 hingga S-3. Tan Malaka, yang menurut Poeze adalah "Che Guevara Asia", menjadi obyek penelitiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran lebih lanjut dilakukannya di Eropa, Asia, Australia, dan AS. Arsip di Moskwa, Uni Soviet, pelbagai kota di Australia seperti Sydney dan Canberra, serta Washington DC, AS, jadi sumber penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arsip Tan Malaka sebagai salah satu tokoh penting tercatat baik di AS dan Australia karena dua negara tersebut menjadi mediator perundingan Belanda-Indonesia pada pascakemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan disertasi tahun 1976, Poeze mengunjungi Indonesia dan membangun kontak di Jakarta. Namun, misteri Tan Malaka pasca-Proklamasi 1945 masih tertutup kabut gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan emas muncul tahun 1980 ketika Poeze bertemu dengan Hasan Sastraatmadja, mantan Sekretaris Tan Malaka, yang dengan antusias membuka pintu bagi penelitian Poeze. Hasan yang bermukim di Jakarta itu lalu memperkenalkan Poeze dengan sejumlah lawan maupun kawan Tan Malaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelbagai tokoh, seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX hingga Wakil Presiden Adam Malik ditemui Poeze. Adam Malik secara terbuka mendukung ide kerakyatan Tan Malaka, meski dia berdiri di kubu Golongan Karya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjumpaan dia dengan para tokoh 1945 berlanjut, antara lain dengan Jenderal Abdul Harris Nasution, Muhamad Natsir (tokoh Masjumi), SK Trimurti, tokoh pemberontakan Madiun tahun 1948 Sumarsono, serta ratusan tokoh lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kesibukan dan tuntutan kerja menghadang upaya penulisan buku pada tahun 1981, saat Poeze ditunjuk menjadi Direktur Penerbitan KITLV Press. Meskipun demikian, dia selalu menyempatkan diri kembali ke Indonesia untuk mengumpulkan data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ke Gunung Wilis&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan menuntaskan misteri Tan Malaka datang tahun 1997 saat Poeze mendapat sabbathical leave selama setahun, yang digunakan untuk menulis buku. Bab I, &lt;i&gt;Tan Malaka Verguisd en Vergeten&lt;/i&gt; ternyata memerlukan waktu sepuluh tahun untuk diselesaikan, setebal 2.200 halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poeze menemui pula tokoh-tokoh pada hari-hari terakhir Tan Malaka. Dia berkeliling ke beberapa pedesaan di kaki Gunung Wilis, Jawa Timur, tempat Tan Malaka bergerilya melawan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Napak tilas ditempuhnya di Desa Belimbing yang menjadi markas dan pusat propaganda Tan Malaka bersama 50 anak buahnya. Desa Patje, tempat Tan Malaka ditahan pasukan Divisi Brawijaya pun dia sambangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat terakhir, Desa Selo Panggung, yang menjadi puncak riset Poeze adalah tempat Tan Malaka ditembak mati pasukan Batalyon Sikatan pimpinan Letnan Dua Soekotjo. Tan Malaka tewas pada 21 Februari 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahkan, tubuhnya tak diperlakukan layak. Untung Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah berjanji mengirim tim forensik ke Desa Selo Panggung untuk mencari sisa jenazah Tan Malaka. Beliau bernasib tragis sebagai pahlawan nasional yang namanya timbul-tenggelam dalam sejarah, karena keberadaan dia tergantung pada kepentingan penguasa," tutur Poeze.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta sejarah itu dipersembahkan Poeze untuk masyarakat Indonesia lewat buku yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, sebanyak enam jilid. Buku tersebut akan diluncurkan akhir tahun ini. Bagi Poeze, Tan Malaka adalah sosok pemimpin kerakyatan yang ideal bagi generasi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harta yang ditinggalkannya hanya sepasang kemeja, topi, celana, tongkat, pensil, dan buku tulis—benda yang menjadi andalan baginya untuk menulis sejarah. Tan Malaka membuktikan harta terbesar sebuah bangsa adalah kekayaan pemikiran yang disajikan lewat guratan pena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Digunting dari Harian &lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt; Senin, 13 Agustus 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-8066931098993084335?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/8066931098993084335/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=8066931098993084335' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/8066931098993084335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/8066931098993084335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/08/harry-poeze-36-tahun-berburu-jejak-tan.html' title='Harry A Poeze: 36 Tahun Berburu Jejak Tan Malaka'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_Pi6QBkdI/AAAAAAAAALg/bbE9FQIY-U0/s72-c/harry+poeze.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-951752146294043832</id><published>2007-08-12T20:15:00.000-07:00</published><updated>2007-08-12T20:18:24.424-07:00</updated><title type='text'>Ferina Permatasari: Sembahyang Buku si Anak Rel</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyeret Ferina Permatasari—lahir 4 Feb 1977—di sebuah tikungan rel yang berkilat karena tiap lima menit digosok roda besi dan memintanya meletakkan telinga kanan di bantalan rel sebelah kanan. Lalu ia merunduk perlahan dengan lutut memacak di tanah yang kasar. Dari jauh, sejarah silamnya memanggil-manggil kenangannya. Kenangan itu tersusun tak putus-putus di palung kesadaran seperti ikatan batang-batang beton yang menyanggah besi panjang lintasan kereta yang bergerak melingkari kota. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_NZaQBkcI/AAAAAAAAALY/dXyOQlMfXpQ/s1600-h/ferina+blog.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_NZaQBkcI/AAAAAAAAALY/dXyOQlMfXpQ/s320/ferina+blog.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098019139633648066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bantalan rel, kereta listrik menderum cepat seperti buku yang dibaca dengan setengah berteriak dari mulut seorang anak kecil mungil yang senang dengan warna pastel. Ia belajar mengeja huruf dalam buku cerita dengan lafadz harus keras karena suara roda kereta yang memukul keras di persendian rel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferina adalah anak kecil yang menghidupi bisingnya kereta dengan buku. Dihabiskannya waktu sekolah SMA 37-nya yang bersisian garis rel. Dara Palembang superasli ini (bapak Palembang, ibu Palembang) memang tak lalu jadi masinis atau srikandi-srikandi kereta. Ia menjadi srikandi buku yang dengan jalan memutar coba menghidmati ilmu akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, sebagaimana &lt;a href="http://indonesiabuku.blogspot.com/2007/06/srikandi-blog-buku-kuitansi-di-kiri.html"&gt;Dumaria Pohan&lt;/a&gt; di Medan dan &lt;a href="http://www.bukuygkubaca.blogspot.com/"&gt;H Tanzil&lt;/a&gt; di Bandung. (Siapa keduanya, Fer? Temanmu juga?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia, hari itu, ingin menunjukkan saya sejarah bagaimana buku-buku itu masuk di lemari bukunya. Lemari buku itu berwarna, dan dikait atasnya tertulis alamat: &lt;a href="http://lemari-buku-ku.blogspot.com "&gt;http://lemari-buku-ku.blogspot.com&lt;/a&gt;. Namun saya menampik dan bilang: saya sedang lapar dan atap Jakarta mempercepat rasa haus saya. Dia bilang sebentar lagi nyampe di rumahnya di Depok sambil matanya sibuk mengincar spanduk-spanduk kusam warung semipermanen terdekat. Dia memilih warung mie ayam. Katanya kalau makan di luar, ia lebih memilih mie apa saja. Mie instan juga boleh. “Saya juga suka bubur ayam. Favorit saya sih bubur ayam di Cipanas, tapi sekarang udah menurun kualitasnya, dan beralih ke bubur ayam Barito atau di Panglima Polim,” katanya sambil tersenyum melihat saya sedang belepotan memegang sumpit yang tak sanggup mengait mie yang berasap itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diletakannya sebiji buku yang tak terlalu tebal. Katanya, kebiasaan membawa buku ke mana-mana itu sudah melekat sejak kecil. Bahkan untuk sarapan pagi ia menyertakan buku. Lantaran lama mencari buku sebelum sarapan dia pun kerap kesiangan dan terlambat sekolah. Lalu, kebiasaan itu kian merajalela saat memasuki usia bisa cari uang sendiri. Apalagi jalan tol di Jakarta sudah langganan macet. Dan sekarang bukan cuma ke kantor saja bawa buku, tapi ke mana saja. Apalagi kalau penasaran sama isi buku itu dan dia terpancing habis-habisan ingin menyelesaikan cerita dalam buku itu. Buku juga berguna sekali kalau lagi menunggu dokter. Buku setebal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Historian&lt;/span&gt; karya Elizabeth Kostova menjadi salah satu buku penunggu dokter. Si gemuk atau si kurus, tak pandang bulu, dia sambar untuk jadi teman jalannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas meja warung bakmi ini si kurus yang kena giliran jadi satpam jalannya. Dan tentu saja saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai dia membuka dompet dan mengeluarkan selembar jeroan birunya, kami berlalu. Dan sepanjang jalan menuju rumahnya dan keinginan memasuki lemari bukunya, dia berkisah soal lain tentang apa yang sudah dia kerjakan selama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertama kali kerja waktu kuliah semester akhir, judulnya sih magang, di salah satu kantor akuntan, tapi hanya bertahan 2 bulan aja. Alasannya karena ya... waktu itu ortu masih ngelarang anak gadisnya pulang di atas jam 12 malem, kerja setiap weekend (takut gak punya social life, kali ya...)... tapi, ada untungnya nih magang di sini, soalnya sempet ikutan audit ke Medan... kalo gak, sampai sekarang belum tentu udah liat Danau Toba. Nah, setelah lulus kuliah tahun 2000, langsung dapet panggilan kerja di salah satu perusahaan internet travel. Sebelum bom Bali pertama, bisnis di kantor ini lumayan lancar... tapi, gara-gara bom itu, kena efek juga berupa pengurangan gaji karyawan.. hiks... Dan dari tahun 2003 sampai sekarang, kerja di konsultan hukum. Sering dikira salah satu pengacara setiap kenalan sama orang, jadi harus pake tambahan... “Bukan lawyernya, tapi di bagian accounting.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mulutnya nerocos lagi, saya langsung nyambar posisi: “Dan buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Beijing Doll &lt;/span&gt;itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O, itu kerja sambilan..., buku terbitan Banana Publishing. Itu satu-satunya buku yang pernah diterjemahin (sampai sekarang).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia beristirahat sejenak di ujung gang. Menghirup beberapa kubik udara lalu menghembuskannya. Di dahinya membintik beberapa butir air kotor dari pori yang dilumut debu. “Sorri. Nggak boleh terlalu capek. Aku lagi hamil nih,” katanya lirih. Dia memang belum lama ini menikah dengan Allen Ardinal. Tapi anehnya dia memanggil suaminya itu dengan: Bagus. Sepotong nama yang mengingatkan saya pada Den Baguse di buku puisi liris Linus Suryadi, Pariyem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu rumahku!” tunjuknya. Rumah yang ditunjuknya itu rumah dengan cat biru langit cerah dan disapu ungu muda. Di depannya mengonggok burung gemuk berparuh raksasa entah bernama apa. Saking raksasanya, burung itu memikul kabel listrik yang melintasi pepadi yang membentuk samudera kuning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu di dalam rumah itu lemari bukunya bersandar rapat di dinding-dinding. Namun katanya, rumahnya itulah lemari bukunya. Di situ, bukan cuma rumah berpatung itu yang ada, tapi beberapa rumah serupa. Saya menduga bahwa kawasan ini adalah deretan perumahan dengan warna-warna Andy Warhol, si raja warna pop itu. Dia hanya tersenyum kecil melihat saya yang masih terbingung-bingung di depan pintu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu semua rumahku!” katanya pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersedaklah saya saat itu juga lantaran kaget dengan siapa saya berhadapan. Saya kemudian jadi awas kepada siapa saya sedang berbincang dan berjalan. Dia tentu bukan orang sembarang. Dia bilang pengetahuannya untuk membangun rumah-rumah maya yang asri dan penuh “nuansa” itu diperolehnya dari sejak kuliah. Namun buru-buru dia menambahkan bahwa saat itu dia belum maniak. Barulah dia intensif berhadapan dengan ilmu gaib internet itu sewaktu kerja di perusahaan internet travel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan dia, di setiap komputer ada fasilitas internetnya. Menurut saya dia adalah salah satu spesies yang mencari kerja dengan mempersyaratkan bahwa kantor itu harus berinternet. Sewaktu diterima pertama kali bekerja konsultan hukum, dia tak kebagian jatah internet karena dianggap sebagai ‘anak bawang’. Lantas itu membuatnya “mati gaya” kalo lagi disangsai rasa bosan mematikan alias ngantuk alias... Sebab hanya internet yang menjadi alat revolusinya untuk membunuh waktu-waktu usangnya; terutama chatting dan bergabung dengan milis. Dia tentu bukan lagi gadis kecil di pinggiran rel yang melafadz buku dengan suara keras lantaran dia sudah bergabung dengan komunitas-komunitas di milis. Milis pasar buku adalah milis pertama dia bergabung. “Dan dari sinilah cikal bakal aku mulai menjadi ‘kutubukugila’. Apalagi milis yang kuikuti sudah ketambahan milis kutubukugila setelah qanita dan klub sastra bentang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa boleh buat, nama besar itu pun disebutkannya juga akhirnya. &lt;a href="http://www.bukuygkubaca.blogspot.com/"&gt;H TANZIL&lt;/a&gt; (mesti saya tulis dengan huruf kapital agar selalu diberkati dan dijauhkan dari asap),  “... adalah orang yang paling ‘berpengaruh’ buat aku dalam hal tulis-menulis review buku. Dari beliau aku kenal milis resensi buku, yang membuat aku memberanikan diri mengirim resensi sederhanaku ke milis itu. Sekalian latihan nulis, deh...,” katanya lirih dengan mata tak berkaca-kaca. Hiks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bukan saja dia jadi orang gila di milis orang gila buku, tapi malaikat cintanya pun hinggap di hatinya juga lewat dunia gaib ini. Ya, si Den Baguse itu.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Seusai mencuci muka yang baru saja disetrika oleh debu jahanam Depok, dia lantas menuju sofa favoritnya yang lembut. Di sisiannya ada beberapa buku bergeletak di sana. Dan memang lemari bukunya banyak dihuni oleh jenis buku-buku fantasi semisal serial &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Harry Potter &lt;/span&gt;atau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lord of the Rings&lt;/span&gt;. Lalu buku anak-anak seperti buku-buku Roald Dahl. Komik seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asterix&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Smurf&lt;/span&gt;. Kalau yang agak serius, mungkin sedikit berbau thriller seperti buku-bukunya James Patterson, Agatha Christie. Dia suka buku jenis ini, karena dia rupanya butuh yang namanya ‘sport jantung’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia rebahan dengan tangan meraih sebuah buku bersampul merah. Sementara saya masih di gigir jendela dari kaca yang setengah terbuka sambil mengintai rumah-rumah yang lain di kawasan warna-warna cerah ini. Saya menghitung ada empat rumah-rumah cerah di sini. Dan semua itu milik mantan anak rel ini. Saya ingin bertanya siapa tahu rumah-rumah itu menegak dengan menyandang nama. Mata saya hanya memincing pelan ke arahnya karena tak mau mengganggunya yang sedang suntuk membacai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perempuan Terluka&lt;/span&gt; karya Qaishra Shahraz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ingin menanyai rumah-rumah itu kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O o o, gumam saya ber o o o sampai tiga kali dalam hati. Pedalamannya tajam juga membacai pedalaman saya. Matanya masih tetap mengiris baris-baris buku sementara mulutnya menunjuk-nunjuk lincah rumah-rumah itu. Saya mengikuti pertunjukannya dengan mata yang berpindah dari satu rumah ke rumah lain, sementara matanya hanya berkilat-kilat di halaman buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke empat rumah itu masih ‘dimaintain’ dengan intensif’. Rumah yang di sana dan pertama kali kubuat di kawasan ini namanya &lt;a href="http://justanotherstories.blogspot.com"&gt;http://justanotherstories.blogspot.com&lt;/a&gt;. Itu rumah berantakan sekali. Pendeknya seisinya tentang barang sehari-hari dipakai. Kalo ada kejadian menarik buat dikeluhkan dan sekaligus ditulis... ya, kumasukkan di rumah ini. Di situ aku nggak bisa masuk dalam baris-baris buku karena terlalu ramai. Rumah ini kubuat untuk sebuah fantasi dan aku di sini pun belum terlalu lama; sekira Januari 2007. Dan kutuliskan fantasi itu sebagai resensi. Tapi upss, apa pantes ya kalo disebut resensi, karena rasanya sampai sekarang aku masih ‘menulis ulang’ ringkasan buku yang aku baca, hanya paling satu paragraf pendek yang nulis tentang pendapat untuk buku yang aku baca itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lain lagi rumah yang itu tuh, di depan agak serong ke kanan. Itu teater kecil kalau aku bosen dengan hidup. Namanya &lt;a href="http://its-time-for-movie.blogspot.com"&gt;http://its-time-for-movie.blogspot.com&lt;/a&gt;. Intinya sama dengan rumah bukuku ini, tapi di sana isinya ‘tulisan ulang’ film-film yang kutonton. Biasanya, tiap weekend aku selalu nyempetin untuk nonton film.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah yang diujung sana itu namanya &lt;br /&gt;&lt;a href="http://f3r1na.multiply.com "&gt;http://f3r1na.multiply.com&lt;/a&gt;. Sebetulnya nggak pantes disebut rumah. Gardu mungkin lebih pas. Para tamuku, terutama laki-laki kutu buku gila, saya suruh nginep di sana. Isinya ya seperti para peronda yang sedang berkumpul di gardu. Gobal gabul, ngalor-ngidul. Isinya mlulu komentar singkat, atau kutipan singkat kalimat di buku yang kubaca atau film yang kutonton. Gardu itu hanya menampung segala macam keisengan walaupun saya pikir-pikir cukup seru juga.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia meletakkan kacamata mungilnya dan mengambil kacamata yang lain. Saya mengambil posisi agak ke samping. Tetap saja jauh darinya. Dia menukar kacamata itu dengan lebih tebal dengan gagang hitam yang besar. Konon, kacamata menunjukan kerakusan dan kerasukan dengan buku. Makanya, kacamata model yang dipakai Kuntowijoyo atau Soedjatmoko atau Soemitro menunjukan identitas intelektual yang menjadi pemamah buku yang lahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia baca novel. Lalu tertawa. Awas, dia sedang kerakusan.... eh kerasukan! Dia tertawa lagi. Nyengir. Rupanya dia sudah berganti buku. Cepat amat. Dia sedang bersekutu dengan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Keluarga Flood &lt;/span&gt;karya Collin Thompson. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejap dia sudah terbahak-bahak. Lalu setelah itu seperti meringis membayangkan hubungan keluarga Flood dengan keluarga Dent. Kemudian dia kembali mematung. Ada serombongan mahasiswa lewat di halaman rumah. Menggoyang-goyang tubuh burung raksasa di atap rumah. Nggak ngaruh. Burung itu tetap saja tegak. Lalu mahasiswa-mahasiswa itu lenyap di balik awan. Ada yang memanggil-manggil di luar rumah. Saya mengintipnya. Tampaknya penjaja sayur. Tapi Ferin sudah terlelap dalam tidurnya di rembang senja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya dia bangun dan khusyuk menghadapi dengan intim berhala ciptaan Bill Gates. Suara ketukan jarinya lirih bukan lantaran malam hanya berteman bulan kuburan, tapi karena dia memang tak terlatih untuk mengetik cepat 250 huruf  per menit. Dia menarik napas beberapa teguk. Malam itu dia bernazar untuk menyelesaikan dua buku sekaligusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rajinnya dia bangun malam lantaran janji pada dirinya sendiri agar selalu menuliskan apa yang sudah dibacanya dan setiap pekan sekali dia menyiarkan apa yang dibacanya kepada teman-temannya sesama penggila buku. Namun dia mengelak. Katanya pernah dalam dua minggu lemari bukunya tak disentuh. Makanya dia bersiasat, biar agak teratur, kalau lagi baca buku tebal, dia akan menyelinginya dengan buku yang lebih tipis. Biar lemari bukunya tetap mengepul dan berasap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga menyinggung soal penulisan malam itu. Seturut tuturannya, dahulu sekali, ketika mau membuat resensi buku biasanya dia terlebih dulu nulis di buku catatan baru kemudian di ketik di komputer. Waktu berjalan, metode bergeser. Dia hanya mencatat nama-nama tokoh dan kejadian-kejadian penting dalam buku itu, lalu dikembangkan di komputer. Dan sekarang metode berubah karena rasanya lebih praktis dan cepat kalau dia langsung nulis di komputer. Sekali kerja sudah itu beres. Seperti halnya dia membereskan televisi yang beberapa waktu silam sudah dia kubur di gudang belakang karena dia tak bisa memanjatkan doa khusyuk ke hadirat buku yang maha kuasa jika ditemani suara berisik yang bersumber dari kotak sihir ajaib abad 20 itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga merasa bahwa dia lebih cepat dalam menulis resensi buku. Kadang 30 menit. Kalau yang lama biasanya sampai satu jam bersih dengan poles bedak gincu sekaligus kutes kukunya. Justru membaca yang lama. Apalagi buku-buku yang berpotensi jadi buku mogok dengan ketebalan yang kubikis. Mau tahu buku apa itu? Buku kumpulan cerpen atau kumpulan tulisan seperti bukunya Sigit Susanto yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menyusuri Lorong-Lorong Dunia&lt;/span&gt;. “Kaya’nya bingung aja mau ngambil ‘intisari’nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada juga buku yang bukan hanya dia lama membuat resensinya, tapi sekaligus menghindarinya. Yakni buku jenis horor. Misalnya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gadis Icarus&lt;/span&gt; yang ditinggalkannya begitu saja karena merasa tak nyaman bacanya meskipun baru halaman-halaman awal. Bahkan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sihir Perempuan&lt;/span&gt;, yang entah kenapa dia beli, diabaikannya begitu saja lantaran dia deg-degan baca sinopsis di sampul belakang. Dia juga bingung apakah ketaksukaannya dengan fiksi horor karena trauma atau senyawa dengan rasa takut dengan gelap. Selalu dia merasa ada sosok yang melayang-layang dan berwajah seram. Dia lebih bisa sedikit menerima buku jenis thriller yang ‘berdarah-darah’.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di antara jeda antara menulis resensi satu buku dengan buku lainnya, suaminya, Den Baguse, muncul dan mengecup keningnya. Wajahnya perlahan kembali dialiri darah. Dia tersenyum dan berucap terimakasih. Suaminya berlalu dari balik pintu. Sementara saya sudah terlempar di rumah gardunya dan tertawa-tawa bersama angin, penggorengan bolong, aspal, bau selokan yang anyir, serta nyamuk sebesar kelinging yang selalu menyanyi lagu-lagu buruk Rindu Pada-mu darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihatnya berada di garis jendela tempat saya sesiang tadi menerawang keluar. Dipikirannya melintas saat-saat menjadi siswa Sekolah Dasar Tebet Timur 19 dan membaca Lima Sekawan. Dia selalu terbayang kalau mereka lagi piknik dengan sandwich dan limun-nya. Lalu dia tersenyum kecil membayangkan suasana di asrama Malory Towers bersama St. Claire dan si Badung di buku cerita &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Malory Towers&lt;/span&gt;. Apalagi acara mengendap-endap pas acara pesta tengah malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga seperti tak mau ketinggalan selera kolektif juga mencintai Donald Bebek yang disikatnya dari Om-nya yang kebetulan langganan majalah itu. Gara-gara Donald Bebek ini dirinya pertama kali kenal kata ‘egois’. Korbannya siapa lagi kalau bukan Om-nya sendiri. Senjata ditusuk ke tuannya. Kira-kira begitulah. Bolak-balik dia mengatakan bahwa si Om ‘egois’ sampai si Om sebel dan nanya, “Tau gak sih artinya egois?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lupa bahwa dia pernah menjadi pelanggan majalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bobo&lt;/span&gt;. Favoritnya serial Pak Janggut. Pernah juga ia tergila-gila sama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asterix &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Smurf&lt;/span&gt;. Sampai-sampai pernah berkhayal kalo Smurf itu ada dan ingin sekali ke perkampungan Smurf. Gara-gara Smurf juga, dulu pernah ada permen rasa sarsaparila dan minuman rasa sarsaparila yang jadi permen dan minuman favorit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu di SMP Negeri 115, Tebet, minat bacanya sedikit merosot. Bacaannya palingan hanya majalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gadis &lt;/span&gt;yang hanya boleh dibeli setiap hari Sabtu sama bapak-ibu. Dia juga sudah mulai pacaran dan lebih sering nulis surat cinta ketimbang baca buku, dan lebih suka dengan musik metal ketimbang membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu di SMA Negeri 37 Kebon Baru, dia kembali diserang komik di sebuah kurun ketika teman-temannya lagi dirasuki penyakit kuning baca komik Jepang. Yang paling dia ingat tentu saja komik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Candy-Candy &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kung Fu Boy&lt;/span&gt;. Dia ngelak kalau disebut fans berat komik Jepang, walau dia sempat juga tersihir godaan maut mengoleksi serial &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kung Fu Boy, Legenda Naga, &lt;/span&gt;dan beberapa lainnya. Tapi tak berlanjut. Dia malas menunggu sambungannya yang biasa lambat terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gardu itu, saya melihat suaminya menutup pintu pagar. Beberapa benda di gardu itu pamit satu per satu. Yang tertinggal hanya nyamuk dan dan bau selokan yang selalu menggoda saya. Beberapa kali saya bermain petak umpet dengan nyamuk yang menyelinap hingga ke lemari bukunya. Dan saya langsung mendengar kata makian. Nyamuk mati. Dan tinggallah saya sendiri. Mata tak terpejam dan terpojok di papan pengumuman jadwal ronda. Di atas tripleks warna gelap itu tertempel dua kertas. Rupanya tulisan tangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAMFLET A: “Banyak manfaat dari membaca tulisan orang lain tentang buku yang mereka baca. Paling gak, kita bisa memilih mana nih buku yang cocok buat kita, mana buku yang kira-kira ‘penting’ gak sih buat dibeli atau dibaca, mana buku yang ‘heboh’ tapi ternyata biasa-biasa aja. Mana buku yang seru dan mana buku yang gak menarik. Moga-moga sih, dari menuliskan apa yang kita baca dan bagi ke orang, kita bisa membantu mereka seperti kita merasa terbantu dengan tulisan orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAMFLET B: “Kita biasanya mikir, apa sih gunanya ngeblog... tapi, ternyata ngeblog punya keasyikan sendiri yang bikin kita kecanduan. Kalo weekend gak liat blog sendiri atau orang lain, rasanya suka ada yang kurang. Ngutak-atik blog juga kadang jadi keasyikan tersendiri, ya... paling nggak bikin refreshing-lah....Salah satu gunanya ngeblog-terutama ngeblog buku—selain seperti disebutin di atas, menambah teman di dunia maya dan informasi perbukuan....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai saya membacai kalimat terakhir PAMFLET B, ada tangan yang merabai pundakku yang membuat mata kaki saya mendelik ketakutan dan jantung saya hampir terjun bebas lantaran masih teringat dengan film &lt;a href="http://kutubuku-ngomongin-film.blogspot.com/2007/07/bayi-ajaib.html&lt;br /&gt;"&gt;Bayi Ajaib&lt;/a&gt; di bioskop sebelah. Tampak seperti menyembul dari layar bumi seorang tua namun tetap tampil segar dan bersahaja. Oh, syukurlah Tuhan. Saya mengira habislah riwayat saya disandera bapak jin. Dia menyebut namanya: Syaiful Anwar Damer. Dia bilang bahwa dia adalah ayah Ferina, Rina, Ferin, Fe. Dalam hati saya berkata, orang inikah yang telah membuahinya kecintaan akan buku dan mendorongnya untuk rajin membaca ketimbang nonton atau beli kaset. Orang inikah yang dengan senang hati ditodongnya beli buku ketimbang beli kaset. Dan sumbangsih orang ini kini telah digantikan oleh warga bangsa milis yang menuntunnya untuk membeli buku. “Orang-orang seperti Om Tan, Kobo dan lain-lain itulah yang berpengaruh dalam ‘selera’ memilih bukuku sekarang ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bangun kesiangan di gardu itu saat dia menyentuh ujung kain saya yang dilemparkan pedagang asongan karena kasihan lihat saya bersilat semalaman penuh dengan gerombolan nyamuk brengsek. Disodorkannya segelas teh panas tak bergula yang enggan saya tuang ke gerbang usus saya. Pasalnya saya terbiasa minum teh bergula. “Sana mandi! Di belakang gardu itu ada kamar mandi!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya beranjak dan tak berapa lama kemudian kembali dengan agak lebih segar. Ujung penciuman saya sesaat mencium wangi bedak bayi yang menguar dari tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sembahyang Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua dari jadwal dua hari berkunjung kepadanya kembali dimulai. Daftar agenda yang sudah kususun akhirnya kutelan kembali karena dia mengajak saya ke toko buku yang sering dikunjunginya. Menurutnya ada dua tempatnya untuk beli buku: langsung ke toko buku atau beli online. Kalau online, bisa lewat inibuku.com atau bukukita.com, atau beli lewat orang-orang yang menawarkan buku-buku bekas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau beli langsung, maka toko buku favoritnya di Gramedia Pondok Indah Mall atau di Kinokuniya Plaza Senayan. Dia bahagia betul sewaktu ada rezeki jalan-jalan ke Singapura dan berjumpa toko buku Borders. Di situ serasa dia tak mau lagi kembali ke Depok dan ingin memborong semua buku di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadwal pagi itu sudah ditentukan: Gramedia Pondok Indah Mall. Dia kerap belanja di sini. Alasannya klasik: tempatnya luas, buku-bukunya banyak, mau yang baru atau yang lama. Kalau dia ke Kinokuniya Plaza Senayan, alasannya karena tempatnya nyaman. Walau tak bawa buku pulang, melototi saja sudah puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti pertemuan kemarin, selama perjalanan itu dan saat berkeliling di dalam istana pasar buku yang riuh, dia bercerita tentang kegiatannya selama ini bersembahyang buku di toko-toko. Biasanya, langkah awal yang dia lakukan adalah menyusuri semua rak, seperti menghitung saf barisan prajurit buku dari depan sampai belakang. Sebagaimana kutu buku lainnya, sudah sangat dia hapal kalau di depan pasti buku terbaru yang masih dalam tahap promosi atau buku terlaris. Lalu dia rayapi satu per satu rak itu. Dimulai dari buku sastra seperti novel sampai buku anak-anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rukun sembahyang pertama itu ditegakkannya, dia mulai yang lebih serius dan biasanya berlama-lama di rak buku incarannya. Kalau sudah tahu yang diinginkan, tanpa panjang nalar, buku itu akan berpindah ke keranjang dengan tak lupa memeriksa kemulusan fisiknya. Tak boleh ada ketekuk sedikit pun, pinggiran buku harus mulus, sampul harus mulus, bahkan plastik pembungkusnya pun tak boleh ada yang sobek. Lima menit dibutuhkannya untuk membolak-balik mencari-cari cacat di buku itu. Sekecil apa pun. Meski dia rela merayapinya sampai ke tumpukan paling bawah, atau susunan buku paling belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau misalnya buku incarannya tak ada, dia akan kembali ke rukun yang pertama:   meneliti secara khidmat tumpukan buku terbaru. Yang paling menarik perhatian, tentunya, kalau judulnya langsung membikinnya “terpana” dan membuatnya khasyf  atau melayang-layang tak sadarkan diri. Apalagi kalau itu buku favoritnya dengan sampul yang menggoda. Kalau sudah menyodok hati dan hati terbuka, buku itu pun masuk keranjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerap dalam sembahyang itu ada sampai lima buku yang masuk ke keranjang. Tapi tak semuanya dia tukar di kasir. Makanya dalam keranjang itu, buku-buku itu saling menyikut berebut perhatian untuk masuk tiga besar yang masuk lemari bukunya di Depok. Sebelum masuk lemari buku pun, buku-buku yang berhasil memenangi perhatian itu mula-mula plastiknya dikoyak, lalu dia hirup uar aroma kertasnya, diambilnya sampul plastik, dan dibubuhinya tanggal dan tandatangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerap pula kekecewaan datang. Buku itu sudah lolos dari meja kasir. Namun ketika tiba masa penggayangan total di sofa bedah yang lembut, ternyata hanya heboh di sampul belakang ketimbang cerita yang sebenarnya. Kalau sudah begini, buku itu akan menjadi raja-raja mogok seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain hal-hal yang sudah disebutkan di atas, soal mood menjadi salah satu hal yang mempengaruhinya dalam sembahyang buku. Dia mencontohkan keragu-raguannya atas godaan setan yang tak dirantai oleh Tuhan sewaktu mau beli buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;OUT&lt;/span&gt;. Buku karangan Natsuo Kirino ini sudah pernah masuk keranjang, tapi dia batalkan karena katanya secara mental belum siap. Lalu esoknya di kantor, ketika cermin hatinya suci berseri, jari-jarinya asyik menggerak-gerakkan mouse dan meng-klak-klik menu-menu di sebuah situs belanja online. Lalu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;OUT&lt;/span&gt; pun dengan mudah masuk ke lemari bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang ini dia sedang menunjukkan pola sembahyang bukunya kalau berada di jalur gaib alias online. Dia bilang belanja amalan gaib atau online ini bisa bikin kalap, sebagaimana kekalapan para Muslim saat tahajud malam. Sebab begitu mata terpacak pada buku baru yang ‘terpajang’ di sana, pikirannya langsung membisik: “Wah, harus segera punya.” Apa lagi tergoda rabat, meski itu ‘hanya’ 15 %. Ada lagi ketakjuban dari sembahyang online ini. Yakni saat menanti pengiriman yang memakan waktu sampai dua tiga hari. Ada greget ingin cepat-cepat melihat buku baru hasil ‘jarahan’ di situs online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI SENIN DATANG KEMBALI. Bagi orang kantoran, hari Senin adalah hari buruk karena memutus rantai kesenangan yang pendek umur. Tapi seperti biasanya, dia sudah datang pagi-pagi ke kantor. Bukan karena gila kerja, tapi pagi yang masih sepi itu digunakannya untuk membuka semua katup email, menatap dan meratapi blog-blognya, dan mengintip blog-blog teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada jejak komentar atau pesan di rumahnya di hari yang cerah itu. Kecuali secarik kertas yang ditulisnya dengan pelan tentang ibunya, Halyanani Djuwita: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mungkin kalo lagi pacaran, kita akan bilang tentang pasangan kita, ‘Aku gak bisa hidup tanpa dirinya.’ Mungkin seperti itulah arti Ibu secara keseluruhan buat aku, aku gak akan pernah bisa ngebayangin, kalau dalam hidupku gak ada Mama. Ibu... bingung kalo disuruh gambarin artinya... tapi, yang pasti... di saat ini, aku lagi hamil.. .tiba-tiba aku merasa, aku pengen kaya’ mama... Mama yang meskipun keras... tapi tough.. tabah dan mendampingi papa dalam saat senang maupun susah. Mama, yang meskipun kadang susah diajak sebagai teman curhat, tapi tetap bisa sebagai teman gosip atau teman jalan-jalan. Mama, yang meskipun sakit, tapi gak pernah ngeluh atau nunjukkin kalau beliau lagi sakit.  Mama orangnya tegas, tapi juga sangat perhatian sama anak-anaknya. Sekarang, kalo mama lagi pergi ke luar kota, baru berasa... kalo gak ada mama, semua jadi kelimpungan.. meskipun anak-anaknya udah pada besar.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai uang tiket pulang ke Jogja, dia serahi saya lima lembar kertas berharga. Masing-masing dari kelimanya tertulis buku-buku yang paling tidak sampai saat ini mengubah hidupnya. Sebab sudah menjadi kebiasaan saya setiap hendak pulang selalu meminta dan memaksa para tuan rumah menyiapkan lima kertas jimat ini agar saya pulang selamat sampai di Jogja. Dan inilah kelima buku yang mengubah hidupnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) SMURF: aku akan selalu menjadikan smurf sebagai buku/komik yang paling berkesan dalam hidupku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) MALORY TOWERS: sudah kusebutkan di kisah sebelumnya. Terutama keingananku hidup di asrama yang seru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) DI TEPI SUNGAI PIEDRA, AKU DUDUK DAN MENANGIS: ini buku pertama Paulo Coelho yang sanggup aku baca sampai habis, dan lumayan bisa dimengerti. Cerita ini aku baca ketika aku sedang dalam masa-masa gundah dalam hubunganku dengan calon suami (waktu itu), dan, aku cukup mendapat ‘pencerahan’ setelah baca buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) PERPUSTAKAAN BIBBI BOKKEN:  pengen rasanya punya perpustakaan seperti Bibbi Bokken yang ditulis Jostein Gaarder itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) THE KITE RUNNER: hanya satu alasannya, karena kalimat Khaled Hosseini ini, “.... untukmu keseribu kalinya...”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-951752146294043832?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/951752146294043832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=951752146294043832' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/951752146294043832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/951752146294043832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/08/ferina-permatasari-sembahyang-buku-si.html' title='Ferina Permatasari: Sembahyang Buku si Anak Rel'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_NZaQBkcI/AAAAAAAAALY/dXyOQlMfXpQ/s72-c/ferina+blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-5438413392073160754</id><published>2007-08-12T20:03:00.000-07:00</published><updated>2007-08-12T20:10:21.569-07:00</updated><title type='text'>Dumaria Pohan: Kuitansi di Kiri, Buku di Kanan</title><content type='html'>&lt;span style="COLOR: rgb(0,102,204)"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kalian bertanya, bisakah seorang akuntan dilamun buku lantas mabuk, khususnya oleh karya-karya fiksi, sama halnya kalian bertanya apa masa iya Tirto Adhi Surjo yang dalam novel Pram bernama Minke itu adalah seorang akuntan yang pada edisi 1903 di &lt;em&gt;Soenda Berita &lt;/em&gt;menulis artikel bagaimana menulis dan cara mengisi kuitansi. &lt;span class="fullpost"&gt;Dan Tirto, selain sebagai penulis fiksi, juru kronik yang kronis, serta pengarang fluitton yang prolifik, adalah juga suluh pergerakan ketika semangat nasionalisme masih dalam janin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_LgaQBkaI/AAAAAAAAALI/g1q7hGj9hnU/s1600-h/dumaria+pohan+blog.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_LgaQBkaI/AAAAAAAAALI/g1q7hGj9hnU/s320/dumaria+pohan+blog.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098017060869476770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mungkin tak akrab—atau bahkan tak kenal—dengan Tirto atau Minke. Pun menyamakan atau membandingkan keduanya adalah kengawuran yang barbar. Tirto adalah penulis dengan pena setajam belati, sementara dia hanya pembaca yang tulus dan rakus. Tirto adalah penyuluh pergerakan, sementara dia adalah karyawan biasa di sebuah lembaga ekonomi Amerika yang buka cabang di Medan. Pendeknya, tiada guna membanding-bandingkan keduanya. Sama seperti mempertemukan langit dan bumi. Lagi pula Tirto cowok, dia cewek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Dumaria Pohan (31 tahun pada 16 Mei 2007). Ngakunya bule alias batak tulen dan bekerja sebagai finance and administration officer. Tugasnya seabrek, mulai dari mengurus finance, admin, HR, sampai memonitori organisasi-organisasi yang terima dana dari LSM tempatnya bekerja. Nama LSM-nya Lutheran World Relief dari USA. LSM ini supermungil yang menurutnya staff operasional-nya cuma 10 orang : 4 security guard, 1 office girl, 1 driver, 1 pimpinan, 1 financer, 1 project officer, dan 1 staff yang tugasnya ke sana-kemari alias kurir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terdampar di sini, Dumaria Pohan yang alumnus USU Medan ini pernah bekerja selama 7 tahun di kantor akuntan yang kemudian kolaps gara-gara kasus Enron di USA (bukan USU!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kemudian dia mencintai buku dengan luapan hasrat yang membandang menjadi kisah yang menarik terkait dengan minat yang disuntukinya terus-menerus. Saya menyebutnya—entah kalian sepakat atau tidak—seperti pemegang lisensi sejarah kota yang menumbuhkannya dengan hangat dan penuh kasih. Medan adalah ibu Dumaria Pohan yang telah melewati garis sejarah hidup yang panjang dan gigantis. Di Medan, tradisi cetak—dan itu berarti tradisi membaca—bukan sesuatu yang sekonyong-konyong hadir baru saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa lalunya, “ibu” yang bernama Medan ini menjadi enam kota besar di Indonesia yang menjadi kiblat tradisi percetakan dan pers sekaligus membiaknya pergerakan. Dari kota ini muncul penulis-penulis tangguh dan pendekar-pendekar pers yang mumpuni. Ada Dja Endar Moeda yang menjadi salah satu tokoh pers Medan mula-mula. Ada Hasboellah Parinduri yang menulis roman terkenal &lt;em&gt;Pacar Merah Indonesia&lt;/em&gt; (kisah tentang pelarian Tan Malaka) dengan nama samaran Matu Mona. Ada Djamaloeddin Adinegoro yang namanya diabadikan sebagai nama lempeng penghargaan bagi wartawan yang berprestasi. Ada Parada Harahap yang menjadi pengusaha pers yang malang-melintang di Jawa. Begitu pula nama Burhanuddin Muhammad Diah yang tradisi tulis-bacanya dibesarkan di &lt;em&gt;Pewarta Deli &lt;/em&gt;(Medan) lalu menguasai tatar Indonesia dengan korannya sangat terkenal: &lt;em&gt;Merdeka&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak nama ingin saya rujuk dari kota yang melahirkan begitu banyak penulis dan penubuh tradisi cetak di Medan ini. Dan Dumaria Pohan saya sebut sebagai pewaris sejarah itu dengan caranya sendiri. Dia bukan aktivis pers. Dia juga bukan aktivis buku dalam artian menjadi pekerja atau pembuat buku atau pemilik percetakan. Dia pewaris semangat membaca yang tulus dan rakus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genealogi kecintaannya atas buku justru diperolehnya dari kakeknya dari pihak ayahnya yang juga seorang pegawai kehutanan. Masih jernih diingatnya rumah kakeknya yang dijejali buku-buku. Di antara buku-buku yang berantakan itulah si gadis kecil ini membuat benteng-bentengan. Mungkin itu soal sepele, tapi bagi dirinya semangat mengenal buku adalah semangat main-main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari main-main itulah ia menjadi pecandu. Bau buku itu menyengatnya hingga sewaktu SMP ia melahap banyak buku cerita di perpustakaan sekolah. Karya-karya penulis Indonesia seperti Ahmat Tohari dan NH Dini direguknya tandas. Fiksi-fiksi terjemahan di perpustakaan pun dirayahnya. Bingung dengan jenis bacaan apa lagi harus dia mamah, dia sikat majalah-majalah bekas ibunya. Dia cerap cerita-cerita pendek yang dimuat saban edisi di majalah Femina. Selesai di sini dia pun asang sepatu dan berlari ke perpustakaan tempat dia kursus bahasa Inggris. “Di sini aku mulai menjelajah ke buku-buku berbahasa Inggris. Mula-mula buku bergambar, lalu buku-buku cerita anak-anak dan remaja, lama-lama buku novel pop, akhirnya novel klasik pun disikat juga. Hahahaha,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya di sinilah riwayat perama kali kenapa dia bergairah dengan novel-novel impor dan kenapa dia menjadi tukang belanja buku yang rakus. Coba tanyakan kepadanya bagaimana dia berbelanja buku, maka dia akan menjawab dengan lugas sambung-menyambung nyaris tanpa koma dan titik toko buku di negara tetangga yang ia singgahi bahkan sampai soal perbandingan harga. Kadang dia memesan buku ke temannya kalau jalan-jalan ke Singapura. Kadang dia sendiri juga turut ke sana. “Kalau aku jalan ke Singapura atau ke Kuala Lumpur, pasti pulang bawa setas hehhehehe. Terakhir itu aku pergi bulan Oktober tahun lalu, pulang bawa 12 hehehehe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“12 tas?” tanya saya heran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“12 buku, gak mampu beli 12 tas hehehehe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun lalu merinci beda belanja buku di Singapura, Malaysia, dan Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di singapura sih, aku biasa diletakkan teman-temanku di toko buku aja, mereka pergi shopping ke sana ke mari. Singapura ada Kinokuniya, tapi harganya beda dengan di Jakarta. Terus ada Borders (di Malaysia juga ada), yg nota bene chain bookstore dari USA. Sering ada promo-nya. Kalo di Medan, buku impor cuma bisa dapat di Gramedia, harganya 2 kali lipat dari di Singapura. Soal harga memang aku kurang tahu di Jakarta kayak apa, tapi dulu pernah aku ngecek harga di toko buku Aksara di Citos dan kubandingkan dengan di Singapura (Kino, pas gak diskon), harganya lebih mahal sekitar 30-60 ribu satu buku. Misalnya waktu itu aku pengen buku &lt;em&gt;Artemis Fowl&lt;/em&gt;-nya si Eoin Colfer, di Aksara Jakarta itu harganya 100 ribu, aku beli di Singapura, kalau dirupiahkan sekitar 70 ribu. Kalau di Medan, bisa 120 ribu. Kayak tukang belanja benar-benar ya... hehehehe. Ups, ada satu lagi tempat belanja ku: tokobuku online. Hehehehe.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang mencatat semua barang belanjaannya dan senang membanding-bandingkan harga. Maklum, bawaan sebagai akuntan perusahaan. Dumaria Pohan teramat sadar bahwa seorang akuntan yang sekaligus pelahap buku fiksi adalah dua padanan yang asing. Padanan yang pas adalah: buku kuitansi di kanan, sementara kalkulator di kiri. Tapi Dumaria Pohan tidak nurut atas kelaziman itu. Maka ditempatkannya semua peralatan yang berkait dengan kuitansi di tangan kiri dan buku-buku fiksi di tangan kanan. Kiri bertabur dengan angka yang pasti benar, sementara kanan berjejal dengan imajinasi yang kebenarannya jamak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi dia, membaca buku cerita adalah hasrat yang tak bisa ditolak dan ditalak. Dia adalah bawaan sejak dini. Dalam dirinya semangat itu berpadu dengan semangatnya sebagai akuntan. Dari hasrat abadi atas cerita itulah dia bertemu dengan tradisi blog yang tak pernah dibayangkan oleh para pendahulunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia salah satu majikan blog buku yang meriah. Ada beberapa blog yang rajin diurusnya.  Ada blog buku, blog belanja buku, lalu satu blog untuk mencatat buku yang lagi dibaca (jadi besok-besok ketahuan mana buku yang mogok), dan satu lagi blog buat dia ngomong sekena-kenanya, sengalor dan sengidulnya di Multiply.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal ia kenal blog dari teman chat-nya dari Italia pada kurun 2004. Namanya Petra. Dari Petralah, dia tergerak membuka blog pertamanya: http://kobochan16.tripod.com/Mydays/. Tapi cepat-cepat dia memberi rambu peringatan bahwa blog itu bukanya susah dan loadingnya superlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari alamat blog itu pula saya mencatat nama samaran pertama yang dipakainya: KOBO. Namun jangan terlanjur yakin jika ia pencinta 24 karat tokoh kartun mungilis dari Jepang itu. Sebab berhubungan dengan Kobo berlangsung tanpa sengaja. “Memang aku suka nonton dan baca komiknya, tapi bukan berarti dia tokoh favoritku. Nick itu kupakai karena sembarangan saja sebenarnya, waktu itu mau bikin account di Hotmail, cari nama account, pas ada komik kobochan di dekatku, yah aku pakai kobochan hehehe...” katanya kepada saya pada siang yang gerah saat sayup-sayup saya mendengar serdadu Angkatan Darat latihan baris-berbaris di markas besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak pernah dilupakan Dumaria Pohan adalah kalender 5 Februari 2005. Tanggal itu adalah patok yang telah dipacaknya sebagai bloger buku. Sejak tancap gas pertama, dia mengaku sudah meresensi buku walau setelah itu isinya macam-macam, gaduh, dan di sana seperti hukum rimba. Semuanya mesti ditumpahkan hingga ia berpikir bahwa perlu blog-blog khusus untuk menampung minat yang banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sebagaimana sudah disebutkan di awal, dia membuat macam-macam jenis blog. Blog bukunya (lihat: &lt;br /&gt;http://mon-secret-jardin.blogspot.com/) tampak sengkrilip dengan bertabur warna lima balon yang menjadi lagu hafalan sejak usia batita. Sesekali fotonya nampang, sesekali hilang. Blog ini berisi buku-buku yang dibacanya. Umumnya buku-buku asing. Ada yang memang dikirimi penerbit seperti Gramedia dan kebanyakan dia beli sendiri. Tak tentu berapa uang yang disisihkannya untuk belanja tiap bulan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gus Muh, soal budget itu tergantung kondisi keuangan saja. Tapi kadang bahkan dalam keadaan kritis, aku rela berhutang, hehehehe. Tapi sejak awal tahun 2007, aku sudah mencoba mendata pengeluaran untuk beli buku. Sudah kucatat diblog khusus mencatat belanjaan itu, http://tasbelanjakobo.blogsome.com/.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari blog-blog inilah dia bisa berhubungan dengan para pencinta buku. Dia tergabung dengan penggosip buku dengan memakai banyak nama samaran yang diambilnya dari tokoh-tokoh dari cerita yang dibacanya. Nama samaran utama adalah Kobo. Yang lain-lain adalah turunan. Tercatat dalam boks ngerumpi di antara blogger-blogger buku, dia pernah memakai nama Kobo Ashanti, nama pinjaman dari Charlie Ashanti di buku &lt;em&gt;Lion Boy&lt;/em&gt;-nya Zizou Corder. Dia juga memakai Kobo Eugenides, nama pinjaman dari Jeffrey Eugenides si pengarang &lt;em&gt;Middlesex&lt;/em&gt;. Belum lama ini Amaranta Buendia sehabis dia membaca &lt;em&gt;100 Tahun Kesunyian &lt;/em&gt;si Gabriel Garcia Marquez. Pernah juga Caesar Kobous untuk ikut-ikutan Caesar Hadrianus dalam &lt;em&gt;Memoir Hadrianus&lt;/em&gt;. Nama Princess Fiona pun digandengnya  gara-gara habis nonton Shrek 3. Juga Helen of Sparta sehabis baca novel grafis Eric Shanower, &lt;em&gt;Seribu Kapal&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin itu sekadar main-main. Tapi bisa jadi tokoh-tokoh itu adalah kawan bermainnya yang paling eksistensial dan ingin sekali diperkenalkannya kepada pembaca yang lain, seperti Jean Paul Sartre kecil kala tokoh-tokoh dalam buku mendorong-dorongnya di kamar lantai atas rumah kakeknya yang mencucuk awan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegairahan itu sepadan dengan kesenangannya akan istilah-istilah dalam dunia buku dengan pengertian-pengertian yang baru dan gaul. Maka muncullah gagasan menyusun sebuah kamus yang kemudian dinamainya Kamus Gaul Kutu Buku dan disingkat KGKB (kok mirip singkatan organisasi intelijen Rusia). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide didapatkannya dari selentingan gosip-menggosip yang menurut saya sudah kian tak terkendali dari hari ke hari dan itu hanya berlangsung beberapa pribadi saja yang tinggal di lain-lain kota: Jakarta, Jogja, Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menangkap dan merekam istilah-istilah buku itu disediakannya dirinya menjadi editor di mana dia sendiri yang menjadi pelontar ide pertama kali dan digongkan oleh Om Tanzil dengan seabrek nama samaran. (CATATAN: Manusia satu ini harus berkali-kali saya sebutkan karena menggongkan sesuatu yang tak perlu menjadi perlu, membesarkan sesuatu yang sebetulnya kecil. Dan sialnya, yang digongkannya itu menjadi sesuatu yang penting bagi warga buku sebangsa dan setanah air). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pengumpulan lema atau kata-kata itu juga dilakukan dengan sukarela. Saya menduga pola ini dipinjamnya dari pola penyusunan kamus Oxford yang dibacanya dari buku &lt;em&gt;The Proffesor and The Madman &lt;/em&gt;karya Simon Winchester. Dia seperti bertindak sebagai James Murray yang tak lulus sekolah dasar tapi disandangi gelar profesor dan menjadi editor pelaksana kamus besar itu. Sementara yang lainnya relawan-relawan. Terus siapa yang jadi orang gila seperti Dr. William Minor di rumah sakit jiwa Broadmoor Criminal Lunatic Asylum, Inggris? Nah ini dia. Orang gilanya sudah bukan lagi tunggal, tapi sudah—dalam istilah bakhteri—memecah diri setelah masa inkubasi. Bakhteri-bekhteri gilanya itu sudah berjamaah: ya Tanzil, Antie, Endah, Jodie, dll.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing orang menyumbang kata beserta artinya yang unik. Misalnya Jody dari Jogja menyebut kata BUKU KUBIK yang awalnya tidak disebutkannya artinya dan membuat saya terbengong-bengong. Beberapa hari kemudian baru arti “Buku Kubik” itu keluar: buku yang panjang-lebar alias tebal, isinya berat, dan kelas penulisnya tinggi alias berbobot dunia. Pengertian itu merupakan plesetan dari rumus untuk volume (kubik), yakni: panjang x lebar x tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu tugas Dumaria Pohon alias Kobo alias Kobo Eugenides alias Amaranta Buendia alias Caesar Kobous alias Princess Fiona alias Helen of Sparta  yang menuliskannya di blog http://kobochan16.multiply.com/journal/item/46. Lemanya memang belum banyak. Paling tidak sudah ada beberapa lema yang menarik, seperti: Buku Mogok: buku yang nggak selesai dibaca karena sifatnya terlalu kubisme (rujuk ke Buku Kubik); Buku Harapan: buku yang menjadi ancang-ancang untuk dibaca; Penggoda Buku: orang-orang yang bikin orang lain jadi pengen beli buku; Maraton Buku: baca buku seperti lari maraton, sambung-menyambung selesai satu buku sambung lagi yang baru dan buku-buku itu dibaca sampai selesai (lawan kata Buku Mogok); Mata Buku-an: orang yang kalo lihat buku (di mana aja, di toko, di rumah orang, di perpustakaan, di jalan -- kalau ada --, di dunia maya) sulit menahan diri untuk tidak beli/pinjam walau di rumah masih menunggu daftar antri yang cukup panjang; dan masih ada beberapa lema yang menggelitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuan kemudian bahwa blog dan buku telah membawa terbang Dumaria Pohon alias Kobo alias Kobo Eugenides alias Amaranta Buendia alias Caesar Kobous alias Princess Fiona alias Helen of Sparta. Dia bisa berpikir apa saja dan menyebutkan apa saja. Dia adalah pengagum buku dan sekaligus juru belanja yang royal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dia takut atau cemas dengan satu tempat belanja buku di kotanya: Titi Gantung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Titi Gantung. Ini bukan berita tentang kisah mengerah ulu hati dari para TKI yang bekerja di negeri-negeri tetangga. Atau sepotong berita di halaman depan koran kuning Lampu Merah yang setiap hari nongol di Jakarta. Titi Gantung tak sama dengan Titi yang gantung diri. Dan tahukah kalian, bagaimana Dumaria Pohon alias Kobo alias Kobo Eugenides alias Amaranta Buendia alias Caesar Kobous alias Princess Fiona alias Helen of Sparta selalu menggigil pucat jika bepergian sendirian ke tempat yang sangat tak mirip dengan Macondo yang dibayangkannya dalam 100 Tahun Kesunyian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini menyeramkan bukan juga soal karena tempat ini pernah dipakai si Titi mangkal bersama pacarnya lalu pilih mati gantung diri di sini juga karena cinta terkhianati. Ini adalah lokalisasi pedagang buku murah berkaki dua di Medan, serupa Senen di Jakarta, Palasari di Bandung, Taman Pintar di Jogjakarta (dulu: shoping).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan bagaimana Dumaria Pohon alias Kobo alias Kobo Eugenides alias Amaranta Buendia alias Caesar Kobous alias Princess Fiona alias Helen of Sparta menuju tempat itu dengan harapan dan rasa was-was membaur untuk bisa mengepit pulang satu dua buku pelajaran yang diingini. Dia menyeberangi lapangan Merdeka dan menuju pinggiran di mana keretapi biasa parkir dan bersuling pergi. Di situ, ia memasuki gua yang di dua sisinya berdiri kios-kios kecil semipermanen yang berderet-deret dan selalu membuka mulut agar orang sudi singgah walau sejenak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Dumaria Pohon alias Kobo alias Kobo Eugenides alias Amaranta Buendia alias Caesar Kobous alias Princess Fiona alias Helen of Sparta terpaksa ke sini karena memang di sinilah kawasan di mana buku-buku dasar pelajaran sekolah dijual yang berbaur dengan makalah-makalah kuliahan yang siap dicontek bagi kaum terpelajar yang malas berpikir dan menulis, majalah bekas, kamus, serta deretan buku-buku bajakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kawasan ini, hukum pasar yang keras memang berlaku. Buku-buku bersampul elite tahu diri untuk tak lenggang kangkung masuk di tempat beginian. Buku-buku fiksi atau babon bersampul mewah, licin, dan disampul plastik yang diproduksi Jakarta, Bandung, dan Jogja mencari tempat yang lebih “wajar dan berkelas”, dingin, dan rapi di tiga toko Gramedia, Pustaka Obor, dan Kharisma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hukum pasarnya keras dan persaingan ketat, maka watak para penjualnya juga keras. Suaranya keras karena harus bersaing dengan terompet kereta yang datang dan berangkat. Begitu merindingnya si Dumaria Pohon alias Kobo alias Kobo Eugenides alias Amaranta Buendia alias Caesar Kobous alias Princess Fiona alias Helen of Sparta memasuki lorong panjang yang di sana berbaris serdadu-serdadu buku, yang menurut istilahnya, “orang-orang yang tak simpatik”. Dia memang bule alias batak tulen, tapi tetap saja gerih melihat tampang-tampang dan suara-suara keras serdadu buku Titi Gantung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menduga, si Dumaria Pohon alias Kobo alias Kobo Eugenides alias Amaranta Buendia alias Caesar Kobous alias Princess Fiona alias Helen of Sparta berperasaan demikian karena memang ia adalah pembaca buku yang halus, peresap semangat bacaan hingga ke serat-seratnya, dan terbiasa membaca di ruang-ruang sunyi dan berpendingin. Dia adalah wajah lain manusia Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berharap, para penjual buku juga berlaku yang sama. Tapi ini, Titi Gantung, Nona! Suara para serdadu buku itu mesti memekak karena harus bersaing dengan suling keretapi yang datang dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titi Gantung juga bukan blog buku di mana Dumaria Pohon alias Kobo alias Kobo Eugenides alias Amaranta Buendia alias Caesar Kobous alias Princess Fiona alias Helen of Sparta bisa bertemu orang-orang yang sepaham. Titi Gantung mirip pasarbuku yang salah satu moderatornya H tanzil. Tapi ini bukan maya dan orang hanya bisa mencaci maki tanpa mesti adu otot. Di Titi Gantung, semuanya diurus secara berhadap-hadapan: muka ketemu muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kegarangan Titi Gantung tak membuat Dumaria Pohon alias Kobo alias Kobo Eugenides alias Amaranta Buendia alias Caesar Kobous alias Princess Fiona alias Helen of Sparta undur diri dari buku. Bukan karena Titi Gantung pula yang membikin nyalinya gepeng untuk membaca buku sambil nyetir mobil dan berkali-kali mesti diterompet oleh pengendara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagai jamuan terakhir, terimalah lima buku yang menjadikan Dumaria Pohon alias Kobo alias Kobo Eugenides alias Amaranta Buendia alias Caesar Kobous alias Princess Fiona alias Helen of Sparta seperti saat ini. Tapi jangan heran kalau buku anak-anak semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) &lt;em&gt;My Family and Other Animals &lt;/em&gt;karya Gerald Durrel. Buku ini aku cari lagi. Berisi kisah hidup penulisnya waktu masih kecil di Pulau Corfu. Dia cerita tentang kecintaannya sama binatang. Lucu banget. Apalagi aku memang suka cerita binatang, makanya aku suka buku itu. Dulu di perpustakaan tempatku kursus ada dan aku pinjam berulang kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Serial &lt;em&gt;Mallory Towers&lt;/em&gt;-nya Enid Blyton. Membaca buku itu aku jadi kepingin sekolah berasrama kayak tokoh-tokohnya dan jadi ingin belajar bahasa Prancis juga gara-gara itu. Gara-gara buku itu juga aku membaca Shakespeare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) &lt;em&gt;Ronya Anak Penyamun &lt;/em&gt;karangan Astrid Lindgren. Ini buku yang paling aku suka dari semua bukunya Astrid Lindgren (walau semuanya sih suka, hehehehe). Aku jadi bisa menikmati tinggal di daerah-daerah terpencil gara-gara buku ini. Soalnya, tokohnya RO-nya itu, kan diceritakan tinggal di gua. Lalu jalan-jalan ke sungai di hutan. Gara-gara itu aku jadi bisa menikmati tempat-tempat dimana belum dijamah sama pembangunan yang bikin rusak lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) &lt;em&gt;Pasukan Mau Tahu &lt;/em&gt;karya Enid Blyton (lagi-lagi!). Aku jadi pengen jadi detektif, terus suka menyamar-menyamar, kayak pimpinan kelompok anak-anak itu, hehehehe, si gendut Fatty. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) &lt;em&gt;Lupus &lt;/em&gt;karyanya Hilman. Terutama edisi jaman dulu. Abis ini cerita lucu banget. Terutama seri &lt;em&gt;Topi-Topi Centil&lt;/em&gt;. Seri ini yang paling ingat, gak tahu kenapa deh, pokoknya nempel aja ampe sekarang. Cerita waktu Lulu adiknya Lupus naksir cowok yang suka pakai topi yang lucu-lucu, terus dia mau ulang tahun, Lulu beli topi yang imut, tapi aku lupa kenapa akhirnya gak jadi dikasi, dan malah akhirnya Lupus yang dapat topi itu, hahahahaha. Tapi kalau yang seri Lupus yang belakangan aku gak bisa aku nikmati lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh nambah satu lagi nggak, Gus Muh?” pintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat saya menjawab dia langsung tancap gas dan inilah yang keenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) &lt;em&gt;Sheila (One Child) &lt;/em&gt;karya Torey Hayden. Ini non fiksi, tapi cara penulisannya seperti novel. Bisa dibilang, ini yang paling mengubah aku, egoku turun drastis sejak baca bukunya sekira 4 tahun yang lalu. Kesabaran Torey di buku itu yang bikin aku seperti shock, karena dulunya aku orang yang sangat tidak sabaran dan menuntut terlalu banyak, terutama sama staf-stafku dulu di kantor yang lama. Belakangan, teman-temanku baru berani ngomong ama aku, mereka bilang, kalau dulu itu, mereka sering kasihan banget sama staf-staf yang ikut aku, karena rasanya sulit banget kalau harus mengikuti standar yang aku harapkan dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya bukulah yang membuat Dumaria Pohon alias Kobo alias Kobo Eugenides alias Amaranta Buendia alias Caesar Kobous alias Princess Fiona alias Helen of Sparta menjadi lembut, perasa, dan tak lagi galak. Kalau begini ceritanya, ayolah hai para pemuda-pemuda buku sebangsa dan setanah air mendekatlah kepadanya. Mumpung dia masih sendiri kok alias belum berkeluarga sampai tulisan ini dibuat dan saat ini hanya ditemani oleh tokoh-tokoh fiksi dari bacaannya. Mumpung dia sudah jinak alias tak galak. Hehehehe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horas!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-5438413392073160754?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/5438413392073160754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=5438413392073160754' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/5438413392073160754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/5438413392073160754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/08/dumaria-pohan-kuitansi-di-kiri-buku-di.html' title='Dumaria Pohan: Kuitansi di Kiri, Buku di Kanan'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_LgaQBkaI/AAAAAAAAALI/g1q7hGj9hnU/s72-c/dumaria+pohan+blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-308622854106500646.post-2488460838064769117</id><published>2007-08-12T19:47:00.000-07:00</published><updated>2007-08-12T20:12:33.085-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blog'/><title type='text'>Endah Sulwesi: Perkenalkan, Saya Endah Sulwesi!</title><content type='html'>&lt;span style="color:#0066CC;"&gt;Oleh Muhidin M Dahlan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena di ujung namanya terpacak kata “Sulwesi” saya menulis tentang dia. “Sulwesi” dengan pakai “u” adalah kepulauan yang membesarkan raga awal saya. Dia bukan dari “Sulwesi” dengan pakai “u” atau dari “Solo”. Dia sudah 39 tahun menarik napas di Jakarta yang sudah jadi kampung besar tak senonoh dan kian urakan ini. Tapi saya tak tahu dia di Jakarta mana pastinya. &lt;span class="fullpost"&gt;Sebab saya tak bertanya tentang alamat. Dan memang apa gunanya saya bertanya tentang alamat rumah, jika dia lebih senang dikunjungi di alamatnya yang lebih anggun sekaligus semarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_MCKQBkbI/AAAAAAAAALQ/A4z6rLXm-60/s1600-h/endah+perca+blog.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_MCKQBkbI/AAAAAAAAALQ/A4z6rLXm-60/s320/endah+perca+blog.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098017640690061746" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berumah di blog. Di rumah itu dia bercerita tentang banyak hal, bertanya tentang banyak soal, mengeluh dengan kegilaan kota, dan mengabarkan apa yang baru saja dibacanya, serta menyapa siapa pun yang singgah. Rumah itu dinamainya Perca (www.perca.blogdrive.com). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perca berarti kain sisa. Perca berarti kain sisa guntingan yang itu adalah ampas. Dan dia mencoba bertindak sebagai pengumpul sebagai pengais kain yang tercecer itu, kain ampas itu. Ah, saya jadi ingat pakaian compang-camping bertambal kain aneka warna kelompok Dewa Pengemis bertongkat dengan nekara yang selalu di telapak dalam film-fim Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perca” bisa juga adalah kerendahatian. Dia selalu mengaca diri bahwa dia tak bisa menulis seumpama kemampuan mereka yang menulis di koran dan majalah-majalah yang lincah-lincah, yang prigel-prigel, yang cergas-cergas, yang gurih-gurih, dan yang sangat serius dengan intonasi bahasa yang sangat teratur dan pencecapan tinggi seperti ingin memberitahu para pujangga agung sebelumnya agar segera turun panggung karena para pengganti sudah siap memacak diri dan menepuk dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada banyak waktu, dia selalu mengibakan untuk belajar menulis kepada siapa saja yang dia temui. Juga kepada saya. Saya mengelak, tapi dia merajuk. Seperti “Perca”, dia memang selalu mengambil posisi berada di pinggir kain yang pasti dilewati lidah gunting. Dia tak ingin menjadi pusat yang “menerangkan” (me-kan). Biarlah dia menjadi yang “diterangkan” (di-kan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun justru di sana, rumahnya menjadi pertemuan paling ramai para penggosip buku. Saya tahu cuma segelintir orang yang bersenda-senda dan bergurau-gurau di berandanya. Tapi intens dan tak bosan-bosannya. Mereka saling memamerkan buku-buku bacaannya, mengganti nama sekena-kenanya, dan membikin teka-teki. Pernah sepekan saya mengintip dalam diam prilaku-prilaku orang-orang yang nyaris kesurupan di beranda rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intensitas gosip itu didapatinya bukan secara instan. Beranda rumahnya menjadi sangat terbuka dan bersahabat, bukan terjadi hanya dalam waktu sekejap waktu sesore tadi. Ia mempersiapkan rumah itu sebagaimana ia mempersiapkan diri yang terus dirajami rasa sendiri; ke mana ia akan bercerita dan membagi kisah yang ia resapi dari buku-buku. Alasannya sangat sederhana, tapi di sana pula inti seorang pembaca yang terus berani bertahan dalam kutukan kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam sepi yang mencucuk-cucuk itu pula, pada seputaran hari di tahun 2004, ia mengapling tanah, menanam struktur pondasi, dan mendirikan rumah. Tanahnya bernama blogdrive. Pondasinya bernama kecintaan pada buku dan keinginan kuat membagi kesukaan. Sementara rumahnya bernama buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula, ia mengisi apa saja di blog ini. Apa saja furniture bahkan barang rongsokan yang dikirimi teman-temannya ditampungnya di rumah sederhananya itu. Ia memanggil-manggil kiriman. Dan kiriman-kiriman berdatangan. Tapi itu tak lama. Para pengirim barang mulai mengambil langkah mundur yang menandai bahwa pesta selamatan rumah barunya berakhir. Dan tertinggallah ia sendiri dengan sebuah kunci. Ia manggut-manggut. Tinggallah ia menjadi penulis tunggal di rumahnya. Jadilah ia ratu tanpa mahkota dan majikan tanpa pembantu di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semuanya dikerjakannya sendiri. Mendaftar catatan belanja rutin dan berbelanja ke toko-toko buku. “Saya keluarkan setiap bulan dikisaran 100-200 ribu, Gus,” katanya kepada saya. Buku-buku itulah yang selalu menemaninya di tengah penat bus yang terseok di garis macet jika berangkat “merumput” di kebun teh. Maklum saja ia adalah karyawan kebun teh di bidang wisata agro. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah membayangkan bahwa dia juga mau meresensi buku-buku tentang teh. Ah, gus jejen (www.pejalanjauh.blogspot.com) sudah dengan gagah ngomongin kopi di blognya, Dewi Lestari sudah dengan intens merasuki diri ke dalam genangan limbah kopi yang jelaga itu dalam sekuplet ceritanya. Tapi, Endah, kenapa tak kamu persembahkan juga kepada kami para pembenci kopi ini suguhan aroma teh. Teh apa sajalah. Bukankah tradisi minum teh sudah menjadi tradisi tua dalam sigi peradaban manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya menduga dia bukan penyuka buku-buku terbitan Trubus, sebab yang selalu mengiriminya buku-buku gratis memang bukan dari Trubus, tapi dari penerbit seperti Bentang Pustaka, Serambi, GPU, Qanita, dan Hikmah yang menerbitkan sastra. Rumahnya memang seperti rumah fiksi, sementara Trubus adalah memproduksi buku-buku yang membawa kita bergelut dengan lumpur dan berpeluh dengan butir keringat asin di bawah panggangan matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang berhak mendapatkan kiriman buku gratis dari penerbit karena kerja diam-diamnya mendiskusikan buku-buku penerbit itu dalam rumah blog yang dipeliharanya dengan tekun. Dia terus menanam kecintaan setiap pekan di sana. “Dulu kadang dua kali seminggu saya ngaplud. Tapi sekarang setiap pekan saja,” katanya sambil ia malu-malu ketika saya tanyakan ke mana lagi dia menanam selain di rumahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah berapa puluh kali kamu dimuat di koran?” tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Astaga!” dia melonjak seakan tak percaya. Saya juga kaget kenapa dia kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia berkisah bahwa dia rendah diri untuk menulis di koran. Menurutnya resensinya di rumah blognya itu hanya coretan-coretan ringan. Tercatat hanya tiga koran yang memuat tulisannya di usinya yang sudah 39 tahun ini: Riau Pos, Banjarmasin Pos, dan Koran Tempo. Dua koran pertama mengambil tulisannya di rumahnya (blog), sementara di Koran Tempo dia dihubungi Mas Dian Basuki untuk memuat resensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kompas?” tanya saya. Lagi-lagi dia terbelalak. Dia seakan tak membayangkan resensinya yang dianggapnya cuma seperti kain perca itu melenggang maju ke ruang resensi Kompas yang djaga para cendekia berkain sutra itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dia tak tahu atau memang diam saja bahwa dia dilirik banyak orang justru ketekunannya merawat rumahnya. Blog bisa juga dibilang seperti toko kelontong. Toko bisa memiliki pengunjung yang tiada henti jika terus dijaga, buka tutup tepat waktu, barang yang tak ada diadakan, dan kreatif serta terus-menerus melakukan apa yang disebut oleh master marketer Pak Hermawan Kertajaya dengan diferensiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini buktinya: profilnya diliput oleh Koran Tempo edisi Desember 2005, Femina edisi 2006, dan Matabaca bulan April 2007. Dan keberadaan rumahnya menginspirasi seorang pendekar dan pelahap sekaligus pedagang pasar buku bernama H Tanzil membuat rumah serupa untuk menampung segumpal kegilaan atas buku. Dan beberapa orang lagi yang membuat hal yang sama di mana dulunya tak pernah terbayangkan olehnya sekira 3 tahun silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memang nyonya rumah yang baik dan rajin. Dan yang tak lekang dari dirinya adalah dia tetap mencintai buku. Sudah 150 lebih buku yang diresensinya di rumah blognya dan masih banyak lagi buku yang menunggu dalam daftar belanja dengan macam-macam kategori: “Buku Harapan”, “Buku Mogok”, dan “Buku Tunggu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu yang tak pernah bisa dia lupakan bahwa dia sadar bukulah yang mengubah hidupnya. Paling tidak ketika saya menanyai lima buku yang mempengaruhi hidupnya, dia dengan tangkas merinci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Di buku ini tak terlupa olehnya  dengan sosok Minke dan keperkasaan Ontosoroh. Kalimat berat Ontosoroh ini salah satu yang dilafadzkannya kepada saya: “Minke, Nyo, ingatlah... lelaki yg menikahi perempuan hanya karena kecantikan dan hartanya, itu kriminal namanya. Dan perempuan yang menikahi lelaki krn ketampanan dan kekayaannya, itu pelacur namanya. &lt;br /&gt;(2) Burung-burung Rantau karya YB Manunwijaya. Di buku ini ia lupa adegan apa yang paling menyentuh pedalamannya. “Apa ya? Pdhl aku membacanya dua kali tuh. O, yg aku ingat selama membaca buku itu aku mengidentifikasi diriku pd tokoh cewe tomboy di situ (siapa ya namanya) dan jatuh cinta pada Chandra, kakak lelaki di cewe ini.”&lt;br /&gt;(3) Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Di buku ini dia terpikat oleh gaya bercerita Tohari yang sederhana, membumi, dan pencatatan suasana alam desa yang detail. Kita seperti ikut mendengar desir angin atau gemericik air. Dan inilah adegan yang paling mengesaninya: bukak klambu. &lt;br /&gt;(4) The Kite Runner karya Khaled Hosseini. Novel ini yang membikin matanya sembab di angkot membayangkan tentang persahabatan yang begitu rapat, bersetia, dan menyentuh. &lt;br /&gt;(5) To Kill A Mockingbird karya Harper Lee. Novel klasik berkisah tentang seorang pengacara kulit putih yg membela negro. “Aku sangat terkesan dengan tokoh Atticus Finch. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia telah membuka diri buku apa yang telah dibacanya pas setelah satu kaki saya berayun di luar pertanda saya pamit pulang malam itu. Hari sudah sangat malam. Endah, salam selalu. Kamu adalah nyonya rumah yang baik. Kamu adalah Ontosoroh yang kamu kagumi; bertahan dalam waktu yang panjang dan melelahkan agar orang-orang mau mendirikan rumah-rumah blog buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke mana kamu setelah ini, Gus?” tanyamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke Medan. Ada seorang akuntan yang juga selalu bertapa dengan buku yang di kiri kanannya kantong-kantong belanja selalu terbuka satu kali duapuluh empat jam,” jawab saya. Saya pergi. Dia tetap berdiri di sana. Dan enggan menutup pintu bagi angin-angin yang mengantarnya keesokan hari berangkat ke kebun teh bersama satu-dua biji buku peneman dalam goyangan buskota yang membosankan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/308622854106500646-2488460838064769117?l=tokohbuku.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tokohbuku.blogspot.com/feeds/2488460838064769117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=308622854106500646&amp;postID=2488460838064769117' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/2488460838064769117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/308622854106500646/posts/default/2488460838064769117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tokohbuku.blogspot.com/2007/08/srikandi-blog-buku-perkenalkan-saya.html' title='Endah Sulwesi: Perkenalkan, Saya Endah Sulwesi!'/><author><name>[I:BOEKOE]</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11859774328787057399</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_D0s8i7Nf4zM/Rr_MCKQBkbI/AAAAAAAAALQ/A4z6rLXm-60/s72-c/endah+perca+blog.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
