Senin, 17 Maret 2008

Nh Dini, Novelis Spesialis Cerita Kenangan

Satu-satunya perempuan pengarang Indonesia yang masih sangat produktif sampai berusia 72 tahun (Jumat, 29 Februari 2008), siapa lagi jika bukan Nh Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin). Setahun yang lalu, dalam peluncuran cerita kenangan La Grande Borne di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, tidaklah berlebihan apabila Prof Eko Budihardjo, Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah sekaligus mantan rektor Undip, khusus membacakan sebuah puisi yang dipersembahkan kepada Nh Dini dan merasa tertantang dan menantang para dosen sastra, karena jumlah bukunya masih sangat jauh di bawah angka karya-karya Nh Dini. Dini telah menerbitkan 33 buku (31 di antaranya karangan asli) dalam bentuk kumpulan cerpen, novel, biografi, cerita kenangan, dan novel terjemahan.

Dari novel-novelnya ada sebelas cerita kenangan yang menarik untuk dibaca ulang oleh para mahasiswa Fakultas Sastra yang ingin meneliti mata air (meminjam istilah almarhum Prof Th Sri Rahayu Prihatmi) karya-karyanya. Di samping itu, di tengah-tengah berondongan sinetron Indonesia yang penuh teriakan, umpatan, dan horor yang dijejal-jejalkan di ruang keluarga kita oleh stasiun televisi swasta, membaca kembali cerita kenangannya serasa mengail di atas sampan dengan semilir angin dan gelombang. Sembari menanti datangnya ikan yang terpancing, kita disuguhi deskripsi panorama alam dengan sangat detail, sosio-budaya keluarga Jawa yang kental, berikut kisahan sepihak tokoh-tokoh perempuan tentang masa lalu yang mengalir hadir sangat lancar, nyaris tanpa riak, dan tahu-tahu kita sudah berhenti, serta diharap melakukan pelayaran kembali pada cerita kenangan berikutnya. Atau, dengarkan kesaksian Prof Teeuw (1989: 193-194), Dini menulis dengan suara yang sangat tertahan, sangat lancar dan ringan, serta enak dibaca. Tokoh-tokoh wanitanya sederhana dan lembut, memiliki harga diri yang kuat, penyegan, sopan, lembut, tanggap terhadap kebaikan dan kelembutan, tetapi terguncang, dan jijik terhadap kekerasan, serta berpihak pada segala yang benar dan layak menurut ukuran-ukuran Jawa.

Secara kronologis, cerita kenangan ini dapat diklasifikasikan menjadi masa kecil (Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979); masa remaja (Sekayu (1981), Kuncup Berseri (1982), Kemayoran (2000); dan dewasa (Jepun Negerinya Hiroko (2001), Dari Parangakik ke Kampuchea (2003), Dari Fontenay ke Magallianes (2005), La Grande Borne (2007), serta untuk sementara diakhiri dalam Argenteuil (2008). Betapa tebalnya jika cerita kenangan ini disatukan, paling tidak akan mencapai 3.500 halaman.

Dini mengawali kisah masa kecilnya di sebuah rumah yang teduh, sebagai putri bungsu keluarga Jawa, pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Sejak kecil sifat tokoh ’aku’ ini suka berterus terang, berani, bahkan tatkala saudara-saudaranya berebut sisa makanan dari kakek Kiai Wiryobesari yang konon mengandung tuah, dengan entengnya ’aku’ kecil ini menganggapnya sebagai sesuatu yang memuakkan (Sebuah Lorong di Kotaku, hal 52 dan 59). Pada masa penjajahan Jepang, Dini kecil mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan dan mengerikan. Ia kaget dengan munculnya lima serdadu Jepang yang tidak sopan, dengan suara gaduh membabat bilah bambu dan tanaman yang menjadi pagar rumahnya (Padang Ilalang di Belakang Rumah). Jatuhnya penguasa Jepang dan disusul mendaratnya tentara Sekutu memunculkan peristiwa-peristiwa yang menyedihkan: kekurangan makanan, musim yang kering, keadaan yang memprihatinkan, dan fitnah yang diderita ayahnya yang menyebabkannya masuk tahanan dan menderita sakit (Langit dan Bumi Sahabat Kami).

Sementara itu, setelah remaja, ia tak suka diatur oleh lawan jenisnya. Ini tampak ketika salah seorang temannya ”menasihati” agar dia tidak naik sepeda laki- laki, tidak mengenakan celana panjang seperti laki-laki, tidak memotong rambut, dan sebagainya (Sekayu, hal 87). Di sekolah pun ia termasuk gadis yang menjunjung harga dirinya sebagai perempuan, peka perasaannya, dan bahkan berani ’menantang’ gurunya yang melecehkan muridnya (Kuncup Berseri). Meninggalnya sang ayah justru menantang Dini menjadi remaja yang kreatif. Karya kreatifnya bukan hanya terbatas mengisi siaran sandiwara secara rutin di RRI Semarang, remaja ini mengawali debutnya sebagai penulis cerpen Pendurhaka yang diterbitkan di majalah sastra Kisah, dan yang kelak diterbitkan dalam kumpulan cerpen Dua Dunia. Masa remajanya diakhiri dengan kelulusannya dari SMA, bekerja sebagai pramugari GIA, dan dipinang Yves Coffin, seorang diplomat Perancis (Kemayoran).

Beberapa tahun sebelum menikah ia banyak berkorespondensi dengan HB Jassin Dalam Surat-Surat 1943-1983 (1984: 139) terdapat surat Jassin tertanggal 31 Agustus 1957 yang mengomentari karya-karya awalnya, dan problem dirinya, ”Saya mengerti Saudara masih terikat segala macam ikatan, tapi kalau terus mengikat diri, kapan akan dewasa sebagai pribadi? Kedewasaan pribadi seorang pengarang sangat diperlukan. Saudara kelihatannya takut akan pengalaman. Akhirnya hanya sampai pada fantasi, rasa- merasa, duga-dugaan, bayang- bayangan yang sentimental, tidak berpijak di atas tanah. Begitu juga sifat-sifat karangan Saudara. Sangat kurang pengalaman, fantasi yang banyak, perasaan dijadikan dasar, terasa sedikit sentimental….”

Apa yang dikatakan Jassin masih bermunculan dalam cerita kenangan sejak Jepun Negerinya Hiroko sampai Dari Fontenay ke Magallianes. Pernikahannya dengan Yves Coffin, Konsul Perancis di Kobe, Jepang, ternyata menjadi titik awal kerunyaman yang terus-menerus dipaparkan dalam cerita kenangan berikutnya. Harga dirinya sebagai perempuan diuji saat ia mengidam makan apel berkulit merah sebagai sarapan paginya. Suaminya berujar ketus, ”Kalau begini terus-terusan aku akan menjadi miskin, karena setiap hari kau harus kubelikan satu buah impor yang mewah!” (hal 30). Ia juga terganggu dengkur suaminya, dan kebiasaan Yves mendengarkan musik dengan sangat keras (hal 93). Kalau pembantu rumah tangganya berbuat kesalahan, suaminya langsung membentak dan berteriak memarahinya dengan suara yang keras. Akibatnya, begitu banyak pembantu yang datang dan pergi (hal 116).

Kecemburuan menyeruak pada saat piknik, suami dan kedua tamunya itu asyik memotret, tidak memerhatikan anak dan istrinya. Kesabaran tokoh aku meledak saat ia dan bayinya harus duduk di jok belakang, bukan di depan bersama suaminya (hal 209).

Kesebalan terus berlanjut saat menghadiri penyerahan piagam di Fukuoka. Resepsi dimulai pukul enam sore, mereka berdua memasuki ruang yang telah penuh tamu pukul tujuh kurang lima menit. Ia gemetar, hampir menangis tatkala dengan entengnya sang suami berbisik kepada tuan rumah, ”Maafkan kami. Istri saya mendapatkan kesulitan membikin sanggul. Maklum, di sini tidak ada salon yang dapat membantunya ...” (hal 229). Di samping itu, novel Namaku Hiroko ternyata ditulis secara kucing-kucingan. Dikerjakan saat suaminya berada di kantor. Suaminya akan marah-marah kalau melihat istrinya sedang menyelesaikan novelnya (hal 326).

Dalam cerita kenangan berikutnya Dari Parangakik ke Kampuchea, Dini semakin intens mengisahkan bagaimana perilaku seorang suami dari Barat terhadap istrinya yang berasal dari Timur. Sikap suaminya yang jauh berubah membuatnya semakin tertekan. Apalagi ketika ia harus menyesuaikan diri dalam keadaan yang serba kekurangan di Perancis. Keluh kesah dan problematika pernikahannya terakumulasi dalam Dari Fontenay ke Magallianes. Ia banyak melukiskan perasaannya tentang peristiwa liburan, tinggal bersama dengan satu keluarga sahabat Perancis dalam satu rumah, berbagai makanan yang disajikan berikut rasanya, kehamilan keduanya yang tak terduga dan tak diharapkan, dan ... perselingkuhan yang menggetarkan dengan Bagus sang kapten (hal 115-117). Dalam La Grande Borne, Dini nyaris sudah pisah ranjang dengan suaminya. Hubungan suami istri yang sudah membusuk dari dalam ini, ditambah penyakit yang nyaris merenggut nyawanya, dan sesekali masih melanjutkan hubungannya dengan Bagus, Dini seolah menemukan pencerahan kembali pada spiritualisme Timur, dengan menjalani lelaku seperti yang dikenal dalam adat Jawa. Dan perselingkuhan yang menggetarkan ini pun menjadi terpupus di ujung, saat Dini menyatakan pengin berpisah dengan suaminya, Bagus keburu meninggal karena kecelakaan (Argenteuil, hal 35).

Masih banyak yang dapat dibaca dan dipetik manfaatnya tentang bagaimana si tokoh ’aku’ mengurus perceraiannya, mulai menata kehidupannya sendiri, dan hidup terpisah dari anak bungsunya, Pierre Louis Padang, yang ketika itu baru berumur 8 tahun, dan anak sulungnya yang bernama Marie-Claire Lintang yang mengikuti ayahnya. Dini akhirnya berpisah dengan suaminya, Yves Coffin, pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta. Dan, bagaimana kisah-kisah Dini setelah ia kembali jadi warga negara Indonesia, kita tunggu saja kelahirannya dalam tahun-tahun mendatang.

Betapapun banyak kritikus yang menyoal bahwa Nh Dini sebagai pengarang yang terus- menerus menyuarakan kemarahannya kepada kaum laki-laki (Budi Darma), ’kebawelan yang panjang’ (Putu Wijaya), atau karya-karya Dini hanya terfokus pada masalah pribadi tokoh-tokohnya, dan sulit untuk melakukan perubahan yang mendasar pada situasi yang ada (Tineke Hellwig, 1994); Nh Dini adalah satu dari sedikit perempuan pengarang yang penting di negeri ini. Karya-karyanya sangat representatif bagi banyak persoalan perempuan yang dikungkung oleh tradisi kebudayaan lelaki. Selamat ulang tahun yang ke-72 Eyang-Ibu Dini. Semoga panjang umur.

B Rahmanto Dosen Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma


Tidak Merasa Tua Menuju Usia 80


Ada dua perbedaan mencolok yang dirasakan perempuan novelis Nh Dini sewaktu memperingati hari ulang windu (8 tahunan) terakhir, yakni saat peringatan 8 windu atau 64 tahun dan 9 windu atau 72 tahun yang jatuh pada tanggal 29 Februari 2008 lalu. Perasaan takut, kaget menghadapi masa tua, tidak dirasakan Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, nama lengkap Nh Dini, di usianya saat ini. Perasaan itu justru muncul pada saat peringatan ulang tahun ke-64 pada tahun 2000 lalu.

"Sekarang saya 72 tahun, kok merasa lebih tenang. Yo wis-lah kalau tambah setahun yo ra po-po (ya tidak apa-apa),” ujar Dini. Perasaan lebih tenang dengan bertambahnya umur ini sudah ia sadari sejak memasuki usia 70 tahun.

”Yang kaget, justru sewaktu ulang windu sebelum ini, saat umur 64 tahun. Kaget saya! Rupanya saya sudah tua, tapi saya kok tidak merasa tua,” kata Dini menambahkan. Kala itu ada perasaan bersalah dan penyesalan dalam dirinya terhadap semua yang pernah ia lakukan sebelumnya. Bahkan untuk menebus kesalahan yang pernah ia jalani itu terbersit di pikirannya untuk bisa kembali ke zaman dulu dan mengulang semua hal yang pernah terjadi dengan hal-hal yang menurutnya lebih baik.

Rasa penyesalan dan bersalah tersebut telah berlalu justru dengan bergulirnya waktu. ”Ya sudah, dilakoni saja. Jadi, tidak ada perasaan sedih, ndak ada perasaan merasa tua menuju 80 tahun. Saya enggak merasa bahwa ini suatu beban, jalani saja satu langkah lagi ke depan,” papar Dini. Menurut Dini, situasi mirip seperti ini tergambar dalam bukunya terakhir yang diluncurkan bersamaan dengan peringatan 9 windu yang berjudul Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri.

”Ibu saya pernah membisikkan kata-kata yang membikinku sekali lagi ’pasrah’ sewaktu ada perasaan penyesalan yang mendalam dan menggugat keputusan Yang Kuasa karena sahabatku Anis meninggal: √©ling Ndhuk, √©ling! Apakah kita ini! Hanya manusia yang masing-masing diberi jatah dan ragam kehidupan menurut kuasa-Nya. Dia sudah memperhitungkan semua lakon dan usia setiap makhluk bagaikan penulis skenario andal,” kata Dini. Mendengar bisikan ibunya itu Dini akhirnya merasa harus menuruti garis hidupnya sendiri.

Bertambahnya usia ternyata tidak menyurutkan Dini untuk terus menulis dan menulis. Buku terakhirnya Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri yang kembali diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama merupakan kelanjutan dari rangkaian buku seri Cerita Kenangan sebelumnya. ”Jadi, ini bukan novel. Saya buat serangkaian seri kenangan yang pura-puranya tokoh utamanya saya,” jelas Dini. Ia juga menolak kalau Seri Kenangan disebut sebuah riwayat hidup atau otobiografi. Menurut Dini, Cerita Kenangan tidak bercerita melulu mengenai dirinya, melainkan juga tentang kejadian dan manusia-manusia di lingkungannya selama ia hidup yang mengandung arti suvenir atau kenangan.

Karya pertama seri Cerita Kenangan berjudul Sebuah Lorong di Kotaku (1986). Buku ini ditulis Dini sewaktu bekerja sebagai perawat Tuan Willm di kota Argenteuil, Perancis. Isinya bercerita mengenai berbagai peristiwa dalam perjalanan hidup Dini dan keluarganya di kawasan atau lingkungan di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Sebuah rumah di gang kecil yang pada kedua sisinya dialiri selokan dalam di pojok Kampung Sekayu di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Berikutnya menyusul buku cerita kenangan lain seperti, Padang Ilalang di Belakang Rumah (1987), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1987), Kuncup Berseri (1996), hingga yang terbit tahun 2007 berjudul La Grande Borne. Buku seri Cerita Kenangan yang sudah diterbitkan hingga saat ini seluruhnya berjumlah 11 buku, termasuk yang baru diterbitkan tahun ini Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri (2008).

Argenteuil mengisahkan kehidupan Dini saat pertama kalinya hidup memisahkan diri lepas dari suaminya, Yves Coffin, seorang diplomat Perancis. ”Nah, ini merupakan periode hidup menyendiri lagi dalam berumah tangga,” kata Dini. Berbeda dengan karya sebelumnya, La Grande Borne, yang isinya penuh dengan kepedihan, pada Argenteuil Dini bisa lebih lancar dalam menuliskannya. ”Rasanya ada kepuasan hidup tanpa pendamping yang begitu menekan. Ya, ada semacam ...(menghela napas) lepas dari beban yang berat,” ujar Dini.

Periode Nh Dini memisahkan diri dari keluarga ini lantaran suaminya, Yves Coffin, mendapat tugas baru menjadi Konsul Jenderal Perancis di Detroit, Amerika Serikat. Hubungan suami istri yang semakin memburuk di antara keduanya pada saat itu membuat Dini memutuskan untuk tidak ikut ke AS. Hanya suami dan anak laki-laki bungsunya, Pierre Louis Padang, yang saat itu masih berumur 8 tahun yang berangkat ke Detroit, sementara ia dan putri sulungnya, Marie Claire Lintang, tetap tinggal di Perancis karena Lintang masih harus menyelesaikan sekolahnya untuk mendapatkan ijazah Bacalaureat.

Argenteuil adalah sebuah kota kecil yang letaknya kurang lebih 10 kilometer barat laut Perancis. Di sinilah Dini mulai kembali hidup sendiri dengan bekerja sebagai wanita pendamping (dame de compagnie) seorang laki-laki tua, Tuan Willm, di sebuah rumah besar yang sebelumnya pernah ditinggali Karl Marx. ”Hidup sendiri tapi tidak kesepian,” kata NH Dini. Lintang hanya di akhir pekan saja tinggal bersamanya karena Lintang harus tinggal di asrama.

Rasa pedih dan bosan hidup berumah tangga seperti yang diceritakan Nh Dini dalam La Grande Borne sudah tidak tampak dalam buku terbarunya ini. Kesedihan yang mendalam akibat ditinggal ’kekasih’-nya yang meninggal karena kecelakaan, yakni Maurice si Kapten Bagus, juga sudah hilang. Nh Dini justru merasa berbahagia karena ia akhirnya bisa bertemu dengan keluarga Kapten Bagus, bahkan mendapat kesempatan mengunjungi rumah masa kecil tempat kekasihnya dibesarkan.

Obsesi keliling dunia

Saat ini, Nh Dini menikmati masa tuanya dengan tenang di Wisma Lansia Langen Werdhasih di kaki Gunung Ungaran, 30 km sebelah selatan Kota Semarang. Ia di sana sejak akhir 2006. Raut wajahnya yang terlihat lebih muda seolah menyembunyikan usianya. ”Mungkin ini juga, karena ya, hidup tinggal menjalani saja. Memang banyak orang melihat saya kelihatan lebih muda, terutama kalau tidak melihat saya jalan. Soalnya, saya kalau jalan lebih pede (percaya diri) pakai teken (tongkat). Sudah dua tahun ini saya terkena osteoarthritis,” jelas Dini. Untuk mengatasi sakitnya itu, ia rutin mengonsumsi vitamin D, vitamin khusus untuk tulang rawan dan tusuk jarum.

”Saya sudah 30 tahun ini tusuk jarum ke Pak Tjiong di Jagalan. Saya dan dia bahkan sudah angkat saudara. Jadi, enggak perlu bayar, papar Dini sambil tertawa.

Hari-harinya kini masih dilewatkan dengan menulis buku serta sesekali diundang menjadi pembicara atau berceramah, baik di dalam maupun di luar negeri. Pada bulan November 2007 lalu, ia sempat mewakili Indonesia untuk menghadiri ”Jeounju 2007 Asia-Africa Literature Festival” di Korea Selatan. Naskah buku seri Cerita Kenangan periode setelah Argentieul yang diberi judul Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang sudah ia selesaikan namun tidak akan diterbitkan dulu. ”Ada sekitar 200 halaman. Tapi karena ada dua atau tiga orang yang saya harus ganti namanya. Sebenarnya, orangnya sendiri enggak masalah, tapi lingkungannya yang mungkin belum bisa menerima. Jadi terpaksa saya lompati langsung ke Pondok Baca periode saya sudah tinggal kembali di Semarang,” jelas Dini.

Kendati sudah merasa lebih tenang menghadapi masa tua, masih ada kegelisahan dalam dirinya karena ia masih menyimpan dua obsesi yang belum tercapai.

”Pertama, saya kepengin keliling dunia ke berbagai universitas di dunia yang ada jurusan Sastra Indonesia. Saya ingin ketemu muka dengan mereka yang belajar Sastra Indonesia. Kenapa mereka mau belajar Sastra Indonesia. Atau paling tidak bisa keliling daerah-daerah di Indonesia, keliling ke SMA-SMA, dialog di aula dengan wakil murid-murid, sharing soal sastra, kenapa saya menggeluti sastra, dan sebagainya,” kata Dini.

Kegelisahan yang kedua adalah ia ingin pemerintah daerah atau perusahaan swasta ada yang mau memberi dana abadi untuk kesehatannya.

”Saya ingin hidup santai dan enggak perlu lagi menghitung duit terus untuk urusan kesehatan. Di Malaysia kan para pengarang juga mendapatkan hal itu dari pemerintah atau kerajaan,” tambah Dini.

Selain itu, ia juga gelisah melihat perkembangan dunia sastra di Tanah Air saat ini. Menurut Nh Dini, karya sastra anak muda sekarang cenderung dangkal. ”Mereka itu hanya memaparkan fisik saja, kedalamannya enggak ada,” tutur Dini. Hal ini disebabkan karena sastrawan-sastrawan muda sekarang kurang riset dan kurang bacaan.

”Orang muda kita ini membaca tidak, melihat ya... hanya melihat begitu saja, mendengar juga tidak, karena mereka hanya ingin omong sendiri. Cuma memuaskan diri saja. Akibatnya, deskripsinya enggak ada kedalaman, hanya tampangnya saja,” kata Dini menambahkan.(Anung Wendyartaka/ Litbang Kompas)


* Digunting dari Harian Kompas Edisi Pustakaloka Senin 17 Maret 2008

9 komentar:

Mutia&Rayga mengatakan...

salam kenal..mampir ke blog ini setelah browsing di google. saya juga penggemar berat Ibu Nh.Dini. berharap suatu saat nanti bisa bertemu beliau dan beliau
mau menandatangan buku2 Nh. Dini koleksi saya.surprise ada peluncuran cerita kenangan La Grande Borne di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, tahun berapa itu?2007?
oh ya, kalau ada info2 mengenai Nh. lagi boleh kah inform ke e-mail saya : mutia_ratna@yahoo.com terima kasih

Dila mengatakan...

Halo...saya sangat menggemari novel2 ibu Nh.Dini.apakah boleh menginformasikan apabila akan ada event yg dihadiri ibu Nh.Dini. Saya ingin bisa bertemu dengan beliau.
www.de-first.blogspot.com

rischa laura mengatakan...

aku fans berat bu dini.pokoknya best of the best deh.skrg lg cari2 info alamat bu dini.kalo ada tg tau ksh tau aku dong ke rischa_laura21@yahoo.com thanks b4

afiah mengatakan...

hi...kalo boleh usul, gmn ada in acara kumpul bareng anggota blok trus bintang tamunya Ibu NH. Dini. pasti seru banget

awind mengatakan...

Aq juga mau ketemu Ibu Dini...aq rindu...rindu sekali. Palagi kegemaranqu sama beliau sama...yaitu penggemar air putih, buah dan sayuran.
Kaluk ada info mengenai fans club Ibu Dini...ajak saya yah...awind_rd@yahoo.com...thanks

Fia mengatakan...

sebagai penggemar ibu N.H Dini sesekali mengadakan kegiatan. entah itu tukar buku2 karya ibu N.H. Dini atau apalah..

princess_ mengatakan...

aku fans beratnya Nh.Dini..pengen jenguk beliau tapi gak tau alamat lengkapnya di jogja.Pleaseeeee.....kalo ada yang tau bisa tolong kasih tau ke emailku : re_avatar@yahoo.co.id
oya,aku agak kesulitan nyari 3 buku terakhir seri kenangan beliau,ada yang bisa nolongin gak????pleeeaseeee.....

princess_ mengatakan...

aku fans beratnya Nh.Dini..pengen jenguk beliau tapi gak tau alamat lengkapnya di jogja.Pleaseeeee.....kalo ada yang tau bisa tolong kasih tau ke emailku : re_avatar@yahoo.co.id
oya,aku agak kesulitan nyari 3 buku terakhir seri kenangan beliau,ada yang bisa nolongin gak????pleeeaseeee.....

rikardus susino mengatakan...

ada yang punya novel yang judulnya dari fontenay ke magallianes ngak...?