Rabu, 22 April 2009

Ramya Hayasrestha, Penulis Cilik yang Hasilkan Banyak Buku

Ramya Hayasrestha Sukardi merupakan contoh gadis cilik yang dikaruniai talenta menulis luar biasa. Di usianya yang masih 10 tahun, dia telah menulis lima buku cerita anak. Salah satu bukunya berjudul Dunia Es Krim bahkan telah lima kali naik cetak dan masuk daftar buku terlaris.

Oleh: Raka Mahesa Wardhana, Wartawan Jawa Pos

MARCAPADA Sukardi tak pernah menyangka kalau hadiah ulang tahun yang dia berikan kepada undangan yang hadir dalam pesta ulang tahun anaknya, Ramya Hayasrestha, menjadi awal karir sang buah hati di dunia menulis. "Waktu itu saya cuma kumpulin cerpen yang dia buat lalu saya jadikan buku untuk ulang tahunnya yang kedelapan," ujar CEO perusahaan trading di Jakarta itu.

Saat perayaan hari bahagia anaknya itu, Marcapada memang sengaja mempersiapkan suvenir yang berbeda untuk undangan yang hadir. Yakni, kumpulan cerpen karya Ramya sendiri.

Entah bagaimana ceritanya, setelah suvenir itu berada di tangan teman-teman Ramya, ada salah satu yang sampai di meja penerbit. Akhirnya, penerbit itu tertarik untuk memperbanyak kumpulan cerpen yang kemudian diberi judul Petualangan Ramya itu. Isinya cerita-cerita dan pengalaman pribadi Ramya sehari-hari.

Kesukaan Ramya menulis memang bukan datang tiba-tiba. Sebab, di keluarga Marcapada, menulis menjadi hal wajib yang dilakukan sejak kecil.

Ada satu kebiasaan yang selalu dilakukan keluarga Marcapada. Yaitu, menyurati semua anggota keluarga setiap minggu. Karena anggota keluarga Marcapada terdiri atas lima orang, tiap satu orang harus menulis empat surat.

Ramya yang merupakan anak tertua, harus menulis surat berisi ucapan terima kasih dan pujian untuk kedua adik dan orang tuanya. Mengetahui kebiasaan tersebut, saudara sepupu Ramya memberikannya setumpuk kertas. "Kasihan kertasnya daripada nggak dipakai," ujar Ramya.

Melihat kertas menumpuk tersebut, mulailah Ramya menuliskan setiap aktivitas yang dilakukan. Meski hanya cerita aktivitas sehari-hari, Ramya memiliki tokoh yang diberi nama Anabelle yang juga seusia dengannya. Dengan gayanya sendiri, Ramya mencoba bercerita tentang Anabelle dan segala tingkah lakunya. Tokoh fiktif ini murni hasil imajinasi Ramya.

Dalam perkembangannya, Ramya mulai membuat kisah lebih bebas. Dia tak lagi berkutat dengan kejadian yang dialami, tapi jauh mengeksplorasi imajinasinya secara bebas.

Dari imajinasinya itu, terbitlah beberapa buku lagi. Misalnya, buku berjudul Dunia Es Krim yang bercerita tentang seorang gadis kecil yang terjebak ke dalam dunia penuh es krim. Petualangan sang gadis cilik untuk terbebas dari jebakan es krim dia ceritakan dengan menarik, khas anak kecil. Buku lainnya berjudul My Piano, My Best Friend yang bercerita tentang seorang gadis kecil yang memiliki teman baik sebuah piano yang bisa berbicara. Juga bukunya berjudul Magic Crystal yang berisi tentang kisah kristal ajaib.

Semua kisah yang dia tulis itu memang tak lepas dari aktivitas Ramya sehari-hari. Dia gemar makan es krim dan main piano. Dari kegemaran itu, gadis kelas lima SD ini mengembangkannya menjadi sebuah kisah yang penuh dengan warna-warni dunia anak.

Cerita pendeknya memang tak hanya dalam bentuk buku. Beberapa di antaranya sempat dimuat media cetak ibu kota. Kebiasaannya membaca yang diperkenalkan ayahnya sejak kecil membentuk tulisannya sedemikian rupa. Bahkan, ketika kali pertama bukunya diterbitkan, sang penerbit tak bisa langsung percaya.

"Ini tulisan sudah jadi, tidak mungkin anak SD bisa buat ini," ujar Marcapada menirukan kata-kata sang penerbit ketika itu.

Menurut Marcapada, Ramya berkenalan dengan buku sejak masih bayi. "Saya kasih buku, walaupun digigit-gigit tidak apa-apa," ujarnya.

Ketika Ramya sudah bisa mendengar dan tertarik dengan cerita, setiap sebelum tidur, Marcapada dan istri berusaha mendongengkan sebuah cerita pengantar tidur. Cerita itu dikarang sendiri oleh Marcapada dan istri. Banyaknya cerita kadang membuat sang ayah lupa ketika ditagih untuk menceritakan kembali apa yang pernah didongengkan. "Saya sering lupa dengan cerita saya sendiri," ujarnnya.

* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi Rabu, 22 April 2009
[+baca-]

Sabtu, 18 April 2009

Haryoto Kunto: Menjaga Arwah Bandung dengan Buku

Oleh Muhidin M Dahlan

Kunto memang tak seterkenal Charles Prosper Wolff Schoemaker—dosen arsitek Belanda dan sekaligus dosen Soekarno sewaktu kuliah di ITB Bandung. Nama Schoemaker sama terkenalnya dengan Herman Thomas Karsten yang tercetak di balik dinding-dinding tua bangunan bersejarah masa silam Indonesia.

Bedanya, “kekuasaan” Karsten merentang di banyak kota seperti Semarang, Bandung, Batavia, Magelang, Malang, Buitenzorg, Madiun, Cirebon, Jatinegara, Yogya, Surakarta, dan Purwokerto, sementara Schoemaker “hanya” menguasai Bandung Raya. Tangan dingin Schoemaker masih bisa dilihat di Gereja Kathedral di Jln. Merdeka, Gereja Bethel di Jln. Wastukencana, Masjid Cipaganti, Bioskop Majestic, Hotel Preanger, Gedung Asia Afrika, dan Gedung PLN Bandung.

Tapi Kunto tahu bagaimana mengawetkan bangunan tua itu menjadi narasi yang berdenyut. Disusunnya dua buku yang kemudian menjadi sangat terkenal dan terlengkap yang berkisah tentang narasi Bandung pada sebuah masa lewat: Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (1984) dan Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986). Dua buku itu adalah dua album kolase; sepasang mata yang terus menjaga warisan Bandung dari aksi pemugaran pemerintah kota yang kerap berpikiran pendek dan cekak. Sepasang album itu juga yang kemudian menahbiskan nama Kunto sebagai “juru kunci” kota yang pernah bernama Negoriij Bandoeng.

Alumnus jurusan Tata Pembangunan Daerah dan Kota (Planologi) ITB ini memang menjadi “alamat” bagi siapa saja yang ingin mengetahui hal-ihwal Bandung pada masa lewat. “Gelar istimewa” ini diperolehnya justru karena ia penggila buku-buku sejarah, terutama ihwal perkotaan.

Hingga ia wafat pada 4 September 1999 di usianya yang ke-59, Kunto telah menjadikan rumahnya sebagai gudang dari 30 ribu judul buku, 50 set ensiklopedia, dan ratusan judul makalah yang dipungutnya sepanjang hayat dikandung raga sejak usia 7 tahun. Koleksi Kunto umumnya buku berbahasa Inggris (45%), sekira 35% berbahasa Indonesia, dan sisanya berbahasa Belanda. Dan kebanyakan koleksi itu tergolong antikuariat karena usianya sudah lebih dari seabad, seperti karya Dr FJ Veth, Dr F de Haan, HA van Hien, Dr HH Juynboll, Clive Day, Dr FDK Bosch, Dr B Schrieke, W Ruin Mees, Dr J Gonta, maupun CC Berg.

Minat Kunto atas buku-buku antikuariat ihwal Bandung itu membuncah justru dipicu energi negatif yang dihembuskan oleh perpustakaan-perpustakaan publik yang dikelola ambtenaar (pegawai negeri) yang tak becus mengurusi buku. Betapa prihatinnya Kunto, misalnya, dengan nasib perpustakaan Gedung Sate Bandung. Sebelumnya, perpustakaan ini adalah perpustakaan teknik terlengkap se-Asia Tenggara. Tapi kenangan itu tinggallah puing karena semua buku antikuariatnya sudah lenyap.

Tak usah juga ditanya perpustakaan kotamadya. Hanya dua lembar saja yang ditemukan Kunto yang bercerita soal sejarah Bandung.

Keprihatinan itu yang kemudian menyalakan semangatnya. Mesti ada daya maksimum yang menyelamatkan Bandung dari kepunahan historisnya. Seorang diri dikerahkannya daya kecintaannya yang meluap-luap untuk menyusur sehasta demi sehasta sumber-sumber yang berkisah tentang Bandung. Dana yang tak seberapa dalam tabungan keluarga dikurasnya habis-habisan untuk berkelana mencari buku. Sampai-sampai istrinya mengeluh. Jika ditegur sang istri, dengan diplomatis ia selalu menjawab: "Sudahlah Mah, nanti juga kan kembali lagi uangnya, dari tulisan Bapak di koran. lagipula buku bisa untuk amal ibadah bagi orang yang perlu."

Niat baik dan kegigihan tanpa pamrih khas relawan selalu bersambut. Dari cicilan tulisannya tentang Bandung di masa lewat di harian Pikiran Rakyat, simpati masyarakat yang peduli Bandung bermunculan. Bahkan kerap buku-buku antikuariat datang sendiri karena si empu buku yakin Kunto layak dipercaya untuk mengurus dan mengawetkannya.

Di depan rumahnya, museum pengawetan itu kini berdiri. Justru setelah Kunto tiada. [dikutip dari pelbagai sumber]


[+baca-]

Selasa, 20 Mei 2008

Rian Hamzah, Mengayuh Minat Baca dari atas Sadel

Sepeda mini abu-abu berkeranjang merek Polygon itu sudah kusam. Di beberapa bagian bahkan tampak agak ringkih. Berbeda dengan sepeda lainnya, buku-buku memenuhi keranjang dan boncengannya. Bendera merah-putih pada sebilah kayu dipasang di boncengan sepeda itu.

Pemiliknya, Rian Hamzah, 34 tahun, menamainya Perpustakaan Keliling Sepeda Pintar. Sehari-hari Rian mengamen dengan membaca puisi di kendaraan umum. Sambil “bekerja”, ia menggunakan sepeda yang dibelinya awal tahun lalu seharga Rp 500 ribu itu untuk menularkan kegemaran membaca kepada anak jalanan. Saban hari ia mengayuh sepeda dari halte ke halte, dari lampu merah ke lampu merah, membawakan bacaan kepada anak-anak itu.

Jumlah yang ia bawa tak banyak, kurang dari 50 buku dan majalah sekali angkut. Rute tetapnya Jatinegara, Pramuka di Jakarta Timur, Proklamasi, Imam Bonjol, hingga Bundaran Hotel Indonesia di jantung Jakarta. "Jalan-jalan itu biasa saya lewati," kata penduduk Jatinegara itu, Rabu lalu. Di rute itu ia sudah punya pelanggan. Tapi tak jarang ia bersepeda sampai ke Cibitung, Bekasi.

Menikmati koleksi Sepeda Pintar itu tentu saja gretong, tanpa bayar. "Mereka mau membaca saja sudah syukur," ujar lulusan Sekolah Pembangunan Pertanian di Sumedang, Jawa Barat, itu. Tapi ia mengaku tak kesulitan mendapatkan penggemar. Sepedanya kerap memancing keingintahuan anak jalanan.

Yang paling digemari bocah-bocah itu bacaan yang bergambar. Ada juga yang melihat-lihat buku umum dan menanyakan isinya kepada Rian jika tak paham. Meski sebenarnya berminat, mereka paling lama membaca sekitar 15 menit, saat lampu hijau. Kalau lampu merah menyala, mereka melempar lagi bacaan ke sepeda.

Rian memulai perpustakaan kelilingnya dari Sanggar Teater Alam Kita di Kampung Melayu Kecil, Jakarta Timur, lima tahun lalu. Di sanggar itu ia dan beberapa temannya kerap bertukar bahan bacaan. Makin lama buku dan majalah yang terkumpul makin banyak. "Lalu terpikir kenapa nggak dibawa keliling pas lagi ngamen." Dengan berkeliling, buku dan majalahnya bisa dinikmati lebih banyak pembaca. Tapi tak semua koleksi dibawa berkeliling, sebagian di sanggar.

Rian membeli sebagian besar bahan bacaan itu dengan uang hasil mengamen puisi, mendongeng, atau honor bermain teater. Untung, istrinya tak pernah memprotes dan malah mendukung. "Yang penting dapur tercukupi," ujar ayah dua anak itu.

Ia kerap dijanjikan bantuan jika diundang mendongeng di acara-acara Pemerintah DKI Jakarta. Tapi bantuan tak pernah datang. Proposal permintaan bantuan bukunya juga tak pernah disetujui. Satu-satunya yang memberinya bantuan sekitar 200 buku adalah seorang ibu, istri polisi. Ada buku, juga majalah. Kebanyakan bergambar, tentang rambu lalu lintas. ENDRI KURNIAWATI


* Digunting dari Harian Koran Tempo Edisi 21 Mei 2008
[+baca-]

Sabtu, 17 Mei 2008

Para 'Pesohor' Publik Ngomongin Buku

Sejumlah figur publik mengungkapkan judul buku memberi pengaruh besar kepada mereka tentang paham kebangsaan.

Satu abad kebangkitan nasional seperti menjadi keniscayaan untuk sebuah selebrasi besar-besaran di sekujur negeri. Diskusi dan seminar digelar, serangkaian acara dirancang, lintasan sejarah kembali dikaji ulang: benarkah bangsa ini sudah betul-betul bangkit seperti diikhtiarkan sejak seratus tahun silam?

Tempo secara acak menghubungi sejumlah figur publik dari kalangan musisi, penyanyi, atlet, dan pekerja profesional untuk mengetahui buku apa yang membuat mereka lebih melek tentang wawasan keindonesiaan. l Yophiandi Kurniawan

SHERINA MUNAF
Penyanyi

Sherina bersyukur bahwa sekolahnya mewajibkan pembacaan karya sastra klasik, seperti Belenggu karya Armijn Pane. "Banyak ide progresif sekaligus kritik terhadap diri sendiri dalam buku itu," katanya seraya menyebut kumpulan puisi Joko Pinurbo sebagai karya yang membuatnya "berpikir".

Namun, buku yang diakuinya membuka wawasannya tentang kebangsaan adalah Burung-Burung Manyar karya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Dengan fasih, mantan penyanyi cilik ini bisa mengurai plot karya Romo Mangun tersebut dengan detail, termasuk tokoh yang ragu apakah Indonesia akan lebih baik seandainya merdeka dari Belanda atau tidak. "Sekarang pun kondisinya hampir sama," katanya. "Indonesia masih dijajah. Memang bukan fisik, melainkan globalisasi yang menyerang gencar," ujar murid kelas III SMP British International School, Jakarta Selatan, ini.

Tak baca chick-lit lazimnya para pelajar sekarang, Sher? "Aku sudah banyak baca komik, jadi tak baca chick-lit lagi," katanya tangkas.

DITA AMAHORSEYA
Profesional

Dita Amahorseya, Vice President Corporate Affairs Head Citibank, memiliki klub buku bersama teman-teman ekspatriatnya. Setiap anggota wajib memberi rekomendasi buku tertentu yang harus dibaca. "Dan harus dalam bahasa Inggris," katanya.

Namun, bukan buku-buku dalam bahasa Inggris, apalagi yang ditulis sastrawan Barat, yang membantunya memahami problem kebangsaan, melainkan buku-buku karya kakeknya, Sutan Takdir Alisjahbana, dan pengarang angkatan 1930-an lainnya. "Mereka berpikir maju sekali untuk zaman itu," katanya seraya mencontohkan Layar Terkembang sebagai karya yang menginspirasi persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.

Kini Dita menilai Laskar Pelangi karya Andrea Hirata menjadi contoh inspirasi yang bisa dibangun untuk Indonesia ke depan. "Memang tak seheboh karangan Abdul Muis, Armijn Pane, kakek saya, Pram, atau Mochtar Lubis," katanya. "Tapi masak kita melihat nama-nama itu terus yang bukan potret masa kini, Indonesia modern?"

ADE RAI
Atlet

Ajaib. Semangat keindonesiaan I Gusti Rai Agung Kusuma Yudha justru muncul saat ia membaca biografi Bruce Lee, jagoan kungfu pencipta aliran jeet kune do. Lee berjuang hingga bisa menjadi orang Asia yang menaklukkan hati publik Amerika. "Sebelum Lee, Asia tak dianggap di Amerika, walau dia lahir di Amerika," ujar Ade Rai--nama populernya.

Menurut Ade, yang dilakukan Bruce Lee dalam banyak kisah biografinya, antara lain Bruce lee: Biography karya Robert Clouse dan The Bruce Lee Story yang ditulis sendiri oleh sang legenda, membuat dirinya ikut terpantik untuk mengikuti cara Lee dengan menunjukkan kebesaran Indonesia di luar negeri.

Caranya? Sama seperti Lee, yang melakukannya dengan dana terbatas, Ade pun memilih tak mengeluh dengan dana yang cekak. "Yang penting mengefisienkan dana supaya tampil di publik internasional, bukan mengeluhkan minimnya dana," katanya sembari menyayangkan citra Indonesia yang kini terpuruk di mata internasional.

GIRING NIDJI
Penyanyi

Di Bawah Bendera Revolusi akan selalu diingat Giring Ganesha Djumaryo, vokalis grup Nidji, sebagai penyemangat untuk membuktikan dirinya bisa berkontribusi terhadap nama Indonesia. Buku yang sering diceritakan ayahnya saat ia kecil dulu itu membuatnya tertarik untuk mengetahui lebih jauh sosok proklamator Indonesia, Soekarno. "Ternyata beliau hebat sekali," ujar Giring.

Dengan memimpin negara yang masih muda, menurut Giring, Soekarno sudah membuat Indonesia sejajar dengan negara adidaya, seperti Uni Soviet dan Amerika Serikat, pada 1950-an. Bahkan ide Soekarno membuat persatuan negara Asia-Afrika sulit ditemukan tandingannya. "Terlepas dari kekurangannya dalam menjalankan ekonomi," tuturnya.

Kini, sebagai mahasiswa jurusan hubungan internasional di Universitas Paramadina, Jakarta, bacaan favorit Giring tentu bertambah. Salah satunya buku yang berkait dengan pemikiran Henry Kissinger. "Orang-orang yang bervisi seperti inilah yang sulit dicari dalam jajaran politikus sekarang," katanya. Bagaimana kalau dijadikan tema lagu saja, Ring?

* Digunting dari Harian Koran Tempo Edisi 18 Mei 2008
[+baca-]

Empat Kutubuku Nongkrong di Kafe

Luangkan waktu sejenak untuk mengamati sekeliling Anda, terutama di tempat-tempat keramaian seperti mal, kafe, atau selasar pusat belanja. Kerumunan massa tenggelam dalam keasyikan memencet tombol telepon seluler atau memelototi layar komputer jinjing. Membaca buku? Di tengah kepungan peranti digital seperti sekarang? "Emang gue pikirin!," jerit manja penyanyi Maia Estianty dalam sebuah lagu yang berkumandang dari sepotong sudut kafe, seolah-olah memberi jawaban spontan.

Masih dalam kaitan bulan buku, Tempo mengunjungi sejumlah tempat publik secara acak. Hasilnya? Sejumlah kutu buku, species yang tahan banting di segala zaman, ternyata masih ditemukan. Alhamdulillah. Mereka ada di setiap cuaca. Bukan cuma di tempat-tempat yang nyaman untuk membaca, juga di tempat cuci kendaraan. Mereka mungkin bukan figur yang kita kenal. Tapi sungguh, ini bukan sebuah kisah tentang pepesan kosong. Apa saja yang mereka baca?Yophiandi Kurniawan

Hesti Wiriatmadja
Gagap tapi Berkhotbah

Membaca dan Hesti Wiriatmadja, 32 tahun, adalah dua sisi dari sebuah koin. Di mana pun, kapan pun, buku novel detektif James Patterson, atau jurnal kehidupan seorang rohaniwan, selalu tersedia di dalam tasnya. Saat dipergoki Tempo di kafe Starbucks, Kemang, alamak, Reporting Manager Federasi Internasional Perkumpulan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah itu terlihat seperti di rumah sendiri. Duduk selonjoran separuh berbaring. "Ini memang gaya favorit saya," ujarnya seraya memperlihatkan The Anointing karya Benny Hinn, seorang pendeta.

Kekagumannya pada jurnal hidup sang rohaniwan, menurut Hesti, karena buku itu menjelaskan bahwa Hinn "bertemu" dengan Sang Pencipta, bahkan seakan-akan berbicara tatap muka. "Dia seorang gagap, tapi bisa berkhotbah, bagaimana bisa menjelaskan itu?" tutur alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini. Dia "menemukan" Hinn lewat sebuah acara kesaksian di gereja. Selisik punya selisik, rupanya Hinn lumayan sering datang ke Indonesia. Klop. Maka Hesti pun dengan cepat menjadi pengagum baru Pak Pendeta. Satu buku Hinn lainnya sudah masuk jalur antrean untuk segera dibaca: Good Morning Holly Spirit.

Iwan Sulistiawan
Banyak tapi Biasa

Iwan Sulistiawan, 39 tahun, punya cara cespleng untuk mengusir rasa bosan saat menunggu sepeda motornya dicuci: membaca. Bukan berita di koran, atau cerpen, melainkan novel seperti Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang, pengarang perempuan yang tinggal di Surabaya. Novel ini pernah dipentaskan Iwan di kampus tempatnya mengajar, Sekolah Tinggi Bahasa Asing LIA (Lembaga Indonesia Amerika), di kawasan Pengadegan, Jakarta Selatan. Siapa peserta teaternya? Ternyata para mahasiswanya sendiri yang memanggil Iwan dengan nama singkat: Bung.

Nah, Februari lalu dia kembali mementaskan Perempuan Kembang Jepun pada sebuah acara ulang tahun mailing-sastra di Jakarta. "Tapi saat itu saya baca novel ini dengan cepat," ujar magister kajian wilayah Amerika dari Universitas Indonesia ini. Saat ini koleksinya karya fiksinya sudah ratusan judul. "Tapi itu bukan hal hebat. Biasa saja karena memang saya butuhkan untuk mengajar sastra," ujar dosen creative writing ini sambil tertawa. Diam-diam Iwan ternyata juga penulis cerpen yang cukup produktif. Sejumlah cerpennya pernah muncul di harian The Jakarta Post. "Saya memang lebih syur menulis dalam bahasa Inggris," katanya.

Astri Wulandari
Kera tapi Ganteng

Lain Hesti, lain Astri Wulandari. Meski sama-sama suka nongkrong di kafe, tempat favoritnya adalah di Oh la la, Sarinah, pada pagi hari. "Sepi, enak banget buat baca," katanya memberi alasan. Kalau sudah begitu, karyawan staf hubungan masyarakat Visi Anak Bangsa tersebut bisa lupa waktu karena larut dalam karya-karya penulis favoritnya: Seno Gumira Ajidarma.

"Kepiawaian Seno mengemas rincian tempat dan tokoh yang ditampilkan itu membuat kisah sangat hidup," ujarnya memberi alasan. Ia, misalnya, mengaku kepincut habis-habisan pada Hanoman, yang digambarkan Seno dalam Kitab Omong Kosong. "Walaupun digambarkan berfisik kera, saya membayangkannya ganteng sekali," katanya terkakak-kakak.

Dipo Siahaan
Lambat tapi Misterius

Di sebuah kafe di Plaza Senayan, Tempo bersirobok dengan Dipo Junjungan Siahaan, 29 tahun. Pria bertubuh tonjang ini terlihat larut dalam alur No Reason for Murder yang sedang di tangannya. "Ini karya novelis Jepang, Ayako Sono," ia menjelaskan. "Tempo ceritanya lambat lazimnya novel-novel Jepang, tapi asyik karena cara pengemasan misteri berbeda dengan para penulis Barat," ujar Program Officer The Japan Foundation, Jakarta, ini.

Saat ini novel Jepang yang sudah dikoleksi Dipo sekitar 30 judul. Pengarang Jepang favoritnya adalah Haruki Murakami, sastrawan yang konon termasuk sebagai kandidat peraih Nobel Sastra 2007. "Novel-novel Murakami lebih condong bernuansa Barat, meski unsur Jepang modernnya masih terasa," ujarnya.

* Digunting dari Harian Koran Tempo Edisi 11 Mei 2008
[+baca-]

Sabtu, 22 Maret 2008

Habiburrahman El Shirazy, Penulis Novel "Mega Bestseller" Ayat-Ayat Cinta

Sebuah karya bisa mengubah seseorang dari bukan siapa-siapa menjadi siapa dengan "S" besar (baca: terkenal, Red). Kini, siapa tidak kenal novelis Habiburrahman El Shirazy?

Lewat karyanya, Ayat-Ayat Cinta (AAC), saat ini dia menjadi salah seorang novelis yang cukup ternama di negeri ini. Kang Abik, demikian dia biasa disapa, sebenarnya bukan penulis baru. Cukup banyak novel yang telah ditulis dan diterbitkannya. Rata-rata karyanya bernuansa agamis sesuai background-nya sebagai santri.

Sebelum AAC yang melambungkan namanya, Kang Abik menulis Bercinta untuk Surga, Di Atas Sajadah Cinta, Pudarnya Pesona Cleopatra, Dalam Mihrab Cinta, dan Ketika Cinta Bertasbih jilid satu dan dua.

Bahkan, karya AAC telah menarik hati sutradara muda berbakat Hanung Bramantyo untuk menyuguhkannya dalam karya sinematrogarafi. Hasilnya, film AAC dibintangi beberapa artis terkenal, seperti Fedi Nuril, Rianti Catwright, Saskia Mecca, dan Mellisa Putri.

Film AAC laku keras di masyarakat. Tak kurang dari 2,5 juta orang telah menonton film tersebut. Bukan hanya remaja, film itu juga ditonton orang-orang terkenal di negeri ini. Sebut saja, mantan Presiden RI B.J. Habibie harus antre tiket demi menonton film tersebut.

Kekuatan AAC memang terletak pada jalinan cerita. Kemelut percintaan antara mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Al-Azhar, Kairo, Mesir, dengan empat wanita itu, ternyata, membuat orang tak kuasa membendung air mata. "Isinya biasa saja kok. Ceritanya juga biasa. Tidak ada yang istimewa dalam novel ini," ujar Kang Abik merendah saat berdiskusi di konter toko buku Gramedia, Ambarukmo Plaza, Jogjakarta, Sabtu (15/3).

Bukan hanya filmya yang laku keras. Novel yang diterbitkan 2005 itu juga menjadi best seller dalam waktu cukup singkat. Hingga saat ini, lebih dari 450 ribu eksemplar terjual di pasaran.

Yang juga membanggakan, novel tersebut ternyata tidak hanya menggebrak di Indonesia. Di negara jiran, seperti Brunei, Malaysia, dan Singapura, novel itu sangat digemari. Bahkan, novel AAC telah dijadikan karya sastra perbandingan di salah satu peruguran tinggi (PT) di Malaysia.

Bagi Kang Abik, "keriuhan" yang ditimbulkan AAC itu tidak seperti orang membalikkan tangan. Dia harus melewati lorong panjang nan sepi.

Kang Abik mengenal dunia tulis-menulis sejak anak-anak. Dia belajar menulis mulai di bangku SD. Pria kelahiran 30 September 1976 tersebut tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren. Karena itu, wacana pesantren sangat kental dalam pemikirannya.

Dia merupakan lulusan pesantren di Mranggen, Demak, Jawa Tengah. Di pesantren itulah, bakat menulis mulai terasah. Dia banyak belajar syi’ir-syi’ir Arab dan ilmu balaghoh (sastra Arab, Red) yang mengasah kemampuannya menuangkan ide dalam tulisan.

"Itu mulanya saya berkenalan dengan sastra. Kemudian, terdukung ketika belajar di madrasah program khusus di Surakarta. Di sana saya mendirikan teater bersama beberapa teman. Saya sebagai penulis skenario dan sutradara," ceritanya.

Selanjutnya, bakat sastranya terus terasah saat belajar di Al Azhar University, Kairo, Mesir. Di sana, dia banyak mempelajari karya dan literasi karya ulama terkenal dari berbagai dunia. "Banyak yang saya dapat saat saya belajar di Mesir," tuturnya.

Sepulang dari Mesir, dia meneruskan hobi di bidang sastra. Kang Abik menulis beberapa cerpen yang kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku yang berjudul Kisah-Kisah Islami. Selain menulis, Kang Abik mengajar di Madrasah Aliyah Program Keagamaan (MAPK) MAN 1 Jogjakarta. "Pada waktu itu, gaji saya hanya Rp 100 ribu," ungkapnya.

Namun, sebuah kecelakaan yang terjadi pada 2003 menjadi titik balik hidupnya. Saat akan pulang ke rumahnya di Semarang, dia mengalami kecelakaan di Magelang. Kaki kanannya patah sehingga dia tidak bisa mengajar lagi.

Saat sakit itulah, Kang Abik menumpahkan waktu untuk menulis novel. "Saat itulah, saya menulis Ayat-Ayat Cinta dalam kondisi yang memang saya tidak bisa ke mana-mana. Siang malam saya nulis novel ini," katanya.

Dia mengaku inspirasi AAC itu berasal dari ayat Alquran Surat Al-Zuhruf ayat 67. Dalam surat tersebut, Allah SWT berfirman bahwa orang-orang yang saling mencintai satu sama lain pada hari kiamat akan bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa.

"Jatuh cinta dan saling mencintai tetap akan bermusuhan juga pada hari kiamat, kecuali orang yang bertakwa. Jadi, hanya cinta yang bertakwa yang tidak mengakibatkan orang bermusuhan. Itu yang kemudian menjadi renungan saya. Saya pengin juga menulis novel tentang cinta, tapi yang sesuai dengan ajaran Islam, yang menurut saya benar," ungkapnya.

Kang Abik mengakui, setiap karyanya merupakan perpaduan antara sastra dan pesantren. Dia banyak mengambil literasi dan rujukan karya ulama terdahulu. "Rujukan saya adalah karya para ulama dulu. Pedoman menulis saya adalah Alquran. Dengan Alquran, Insya Allah orang akan selamat dan sukses," tuturnya.

Lalu, apa kiat suksesnya dalam menulis karya sastra? Pertama, harus punya niat yang kuat. Kedua, berani menulis. "Banyak orang yang punya niat tapi tidak berani menulis. Kiat lainnya adalah menulis, menulis, dan menulis," sarannya.


Siapkan Kelanjutan AAC

Kehebohan novel dan film Ayat-Ayat Cinta (AAC) tidak membuat Kang Abik besar kepala. Dia mengaku belum puas dengan hasil karyanya itu. Demikian pula karya filmnya yang dibesut sutradara Hanung Bramantyo.

"Ada beberapa pesan dalam novel yang tidak muncul di film," katanya ketika ditanya alasan merasa tidak puas. "Saya juga merasa ada beberapa pemain yang kurang pas memerankan karakter. Sebab, setelah saya tanya, ternyata belum pernah membaca novelnya," lanjutnya.

Ganjalan serupa dia rasakan saat membaca kembali novelnya. Bahkan, Kang Abik sangat ingin mengoreksi bagian-bagian dalam novel dengan setting cerita di Mesir itu.

"Kalau ditanya puas atau tidak, saya jawab belum. Saya justru ingin memberedeli novel ini dan menyempurnakan," ujar Kang Abik.

Menurut dia, banyak desakan dari pembaca yang ingin mengetahui kelanjutan cerita di novel dengan tokoh Fahri dan Aisha itu. "Banyak yang meminta saya menulis kelanjutannya dan membawa sosok Fahri ke Indonesia sehingga tidak mengawang-awang di Mesir," tuturnya.

Dia sedikit membocorkan novel barunya itu. Alur akan dimulai saat Fahri membawa istrinya, Aisha, pulang kampung. Fahri mengajak sang istri hidup di kampung dan tinggal di rumah berdinding bambu.

Bahkan, untuk buang hajat, Aisha harus menggali tanah di belakang rumah. "Cerita selanjutnya si Aisha tidak bisa tidur karena ghedeg (dinding bambu, Red) rumah suaminya jarang-jarang dan banyak nyamuk lagi," ceritanya.

Kang Abik mengungkapkan, karyanya itu bukan sesuatu yang luar biasa. Dia mengatakan, semua orang bisa berkarya seperti dirinya. Bahkan, bisa melebihi karya yang dihasilkannya.

"Asal mau mencoba dan nggak takut mencoba, bisa menghasilkan karya yang baik. Kalau para mahasiswa terus bisa berkarya, Indonesia akan maju," tuturnya.

Menurut dia, dengan menulis novel, orang bisa menuangkan ide maupun pesan yang akan disampaikan. Pesan itu, lanjut dia, dapat memberikan manfaat bagi para pembaca sehingga bisa menjadi benteng moral yang kuat dalam menghadapi perkembangan dunia.

Karena itu, cinta dalam novel-novelnya bukan sekadar cinta. "Cinta hanyalah kemasan agar kisah dalam buku ini menjadi indah (menarik, Red)," tegasnya.


Menulis Melawan Pornografi

Dunia tulis-menulis, tampaknya, akan mengambil bagian terbesar dalam perjalanan hidup Kang Abik. Sukses novel Ayat-Ayat Cinta kian menggelorakan gairah untuk terus berkarya.

Lulusan Al Azhar University, Kairo, Mesir, itu bahkan menargetkan bisa menghasilkan karya minimal 400 buah. "Saya ingin meneladani para ulama terdahulu, yakni bisa menulis empat ratus karya sebelum meninggal. Saya harap bisa terwujud di bawah bimbingan Allah SWT," ungkap alumnus pesantren Mranggen, Demak, itu.

Bapak berputra dua tersebut mengakui bahwa caranya berdakwah memang melalui media tulisan. Menurut dia, tulisan bisa membuat orang sadar dengan kondisi dan realitas masyarakat.

"Saya mengkritik lewat karya sastra. Lewat karya inilah, orang tersadar akan kondisi dan realitas yang terjadi," ujarnya.

Selain itu, tujuannya menulis adalah untuk melawan maraknya pornografi. Saat ini, tidak sedikit buku atau majalah yang menjurus dan mengarah pada eksploitasi pornografi sebagai upaya meraih keuntungan. "Nah, lewat karya sastra yang bermutu, pornografi akan terkikis dengan sendirinya," tuturnya.

Terkait dengan pemilihan tema cinta dalam karya-karyanya, Kang Abik mengaku itu merupakan pilihan sadar. Menurut dia, manusia diciptakan dan hidup dengan cinta.

"Cinta itu seperti makan dan minum, sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Jadi, akan selalu menjadi topik yang menarik dan diminati," katanya.

Hanya, tema cinta tidak akan mengungkung kemerdekaannya untuk memilih tema-tema lain. Suami Muyasarotun Saidah itu juga ingin mengangkat tema keteladanan dan kepahlawanan.

Kang Abik mengaku tertarik pada sosok Bung Tomo. Bahkan, belum lama ini dia datang ke Surabaya, Jawa Timur, untuk mendengarkan pidato Bung Tomo sebelum perang melawan Belanda pada 10 November 1945.

"Pidato tersebut sangat menyentuh. Bagaimana seorang anak muda yang minta izin kepada ibunya untuk maju perang.

Saya yakin ketika ini diangkat menjadi novel akan lebih heboh daripada Ayat-Ayat Cinta," tegasnya. (syukron muttaqien/jpnn/ib)

* Digunting dari Harian Jawa Pos Edisi Ahad 23 Maret 2008
[+baca-]

Senin, 17 Maret 2008

Nh Dini, Novelis Spesialis Cerita Kenangan

Satu-satunya perempuan pengarang Indonesia yang masih sangat produktif sampai berusia 72 tahun (Jumat, 29 Februari 2008), siapa lagi jika bukan Nh Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin). Setahun yang lalu, dalam peluncuran cerita kenangan La Grande Borne di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang, tidaklah berlebihan apabila Prof Eko Budihardjo, Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah sekaligus mantan rektor Undip, khusus membacakan sebuah puisi yang dipersembahkan kepada Nh Dini dan merasa tertantang dan menantang para dosen sastra, karena jumlah bukunya masih sangat jauh di bawah angka karya-karya Nh Dini. Dini telah menerbitkan 33 buku (31 di antaranya karangan asli) dalam bentuk kumpulan cerpen, novel, biografi, cerita kenangan, dan novel terjemahan.

Dari novel-novelnya ada sebelas cerita kenangan yang menarik untuk dibaca ulang oleh para mahasiswa Fakultas Sastra yang ingin meneliti mata air (meminjam istilah almarhum Prof Th Sri Rahayu Prihatmi) karya-karyanya. Di samping itu, di tengah-tengah berondongan sinetron Indonesia yang penuh teriakan, umpatan, dan horor yang dijejal-jejalkan di ruang keluarga kita oleh stasiun televisi swasta, membaca kembali cerita kenangannya serasa mengail di atas sampan dengan semilir angin dan gelombang. Sembari menanti datangnya ikan yang terpancing, kita disuguhi deskripsi panorama alam dengan sangat detail, sosio-budaya keluarga Jawa yang kental, berikut kisahan sepihak tokoh-tokoh perempuan tentang masa lalu yang mengalir hadir sangat lancar, nyaris tanpa riak, dan tahu-tahu kita sudah berhenti, serta diharap melakukan pelayaran kembali pada cerita kenangan berikutnya. Atau, dengarkan kesaksian Prof Teeuw (1989: 193-194), Dini menulis dengan suara yang sangat tertahan, sangat lancar dan ringan, serta enak dibaca. Tokoh-tokoh wanitanya sederhana dan lembut, memiliki harga diri yang kuat, penyegan, sopan, lembut, tanggap terhadap kebaikan dan kelembutan, tetapi terguncang, dan jijik terhadap kekerasan, serta berpihak pada segala yang benar dan layak menurut ukuran-ukuran Jawa.

Secara kronologis, cerita kenangan ini dapat diklasifikasikan menjadi masa kecil (Sebuah Lorong di Kotaku (1978), Padang Ilalang di Belakang Rumah (1979), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1979); masa remaja (Sekayu (1981), Kuncup Berseri (1982), Kemayoran (2000); dan dewasa (Jepun Negerinya Hiroko (2001), Dari Parangakik ke Kampuchea (2003), Dari Fontenay ke Magallianes (2005), La Grande Borne (2007), serta untuk sementara diakhiri dalam Argenteuil (2008). Betapa tebalnya jika cerita kenangan ini disatukan, paling tidak akan mencapai 3.500 halaman.

Dini mengawali kisah masa kecilnya di sebuah rumah yang teduh, sebagai putri bungsu keluarga Jawa, pasangan Saljowidjojo dan Kusaminah. Sejak kecil sifat tokoh ’aku’ ini suka berterus terang, berani, bahkan tatkala saudara-saudaranya berebut sisa makanan dari kakek Kiai Wiryobesari yang konon mengandung tuah, dengan entengnya ’aku’ kecil ini menganggapnya sebagai sesuatu yang memuakkan (Sebuah Lorong di Kotaku, hal 52 dan 59). Pada masa penjajahan Jepang, Dini kecil mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan dan mengerikan. Ia kaget dengan munculnya lima serdadu Jepang yang tidak sopan, dengan suara gaduh membabat bilah bambu dan tanaman yang menjadi pagar rumahnya (Padang Ilalang di Belakang Rumah). Jatuhnya penguasa Jepang dan disusul mendaratnya tentara Sekutu memunculkan peristiwa-peristiwa yang menyedihkan: kekurangan makanan, musim yang kering, keadaan yang memprihatinkan, dan fitnah yang diderita ayahnya yang menyebabkannya masuk tahanan dan menderita sakit (Langit dan Bumi Sahabat Kami).

Sementara itu, setelah remaja, ia tak suka diatur oleh lawan jenisnya. Ini tampak ketika salah seorang temannya ”menasihati” agar dia tidak naik sepeda laki- laki, tidak mengenakan celana panjang seperti laki-laki, tidak memotong rambut, dan sebagainya (Sekayu, hal 87). Di sekolah pun ia termasuk gadis yang menjunjung harga dirinya sebagai perempuan, peka perasaannya, dan bahkan berani ’menantang’ gurunya yang melecehkan muridnya (Kuncup Berseri). Meninggalnya sang ayah justru menantang Dini menjadi remaja yang kreatif. Karya kreatifnya bukan hanya terbatas mengisi siaran sandiwara secara rutin di RRI Semarang, remaja ini mengawali debutnya sebagai penulis cerpen Pendurhaka yang diterbitkan di majalah sastra Kisah, dan yang kelak diterbitkan dalam kumpulan cerpen Dua Dunia. Masa remajanya diakhiri dengan kelulusannya dari SMA, bekerja sebagai pramugari GIA, dan dipinang Yves Coffin, seorang diplomat Perancis (Kemayoran).

Beberapa tahun sebelum menikah ia banyak berkorespondensi dengan HB Jassin Dalam Surat-Surat 1943-1983 (1984: 139) terdapat surat Jassin tertanggal 31 Agustus 1957 yang mengomentari karya-karya awalnya, dan problem dirinya, ”Saya mengerti Saudara masih terikat segala macam ikatan, tapi kalau terus mengikat diri, kapan akan dewasa sebagai pribadi? Kedewasaan pribadi seorang pengarang sangat diperlukan. Saudara kelihatannya takut akan pengalaman. Akhirnya hanya sampai pada fantasi, rasa- merasa, duga-dugaan, bayang- bayangan yang sentimental, tidak berpijak di atas tanah. Begitu juga sifat-sifat karangan Saudara. Sangat kurang pengalaman, fantasi yang banyak, perasaan dijadikan dasar, terasa sedikit sentimental….”

Apa yang dikatakan Jassin masih bermunculan dalam cerita kenangan sejak Jepun Negerinya Hiroko sampai Dari Fontenay ke Magallianes. Pernikahannya dengan Yves Coffin, Konsul Perancis di Kobe, Jepang, ternyata menjadi titik awal kerunyaman yang terus-menerus dipaparkan dalam cerita kenangan berikutnya. Harga dirinya sebagai perempuan diuji saat ia mengidam makan apel berkulit merah sebagai sarapan paginya. Suaminya berujar ketus, ”Kalau begini terus-terusan aku akan menjadi miskin, karena setiap hari kau harus kubelikan satu buah impor yang mewah!” (hal 30). Ia juga terganggu dengkur suaminya, dan kebiasaan Yves mendengarkan musik dengan sangat keras (hal 93). Kalau pembantu rumah tangganya berbuat kesalahan, suaminya langsung membentak dan berteriak memarahinya dengan suara yang keras. Akibatnya, begitu banyak pembantu yang datang dan pergi (hal 116).

Kecemburuan menyeruak pada saat piknik, suami dan kedua tamunya itu asyik memotret, tidak memerhatikan anak dan istrinya. Kesabaran tokoh aku meledak saat ia dan bayinya harus duduk di jok belakang, bukan di depan bersama suaminya (hal 209).

Kesebalan terus berlanjut saat menghadiri penyerahan piagam di Fukuoka. Resepsi dimulai pukul enam sore, mereka berdua memasuki ruang yang telah penuh tamu pukul tujuh kurang lima menit. Ia gemetar, hampir menangis tatkala dengan entengnya sang suami berbisik kepada tuan rumah, ”Maafkan kami. Istri saya mendapatkan kesulitan membikin sanggul. Maklum, di sini tidak ada salon yang dapat membantunya ...” (hal 229). Di samping itu, novel Namaku Hiroko ternyata ditulis secara kucing-kucingan. Dikerjakan saat suaminya berada di kantor. Suaminya akan marah-marah kalau melihat istrinya sedang menyelesaikan novelnya (hal 326).

Dalam cerita kenangan berikutnya Dari Parangakik ke Kampuchea, Dini semakin intens mengisahkan bagaimana perilaku seorang suami dari Barat terhadap istrinya yang berasal dari Timur. Sikap suaminya yang jauh berubah membuatnya semakin tertekan. Apalagi ketika ia harus menyesuaikan diri dalam keadaan yang serba kekurangan di Perancis. Keluh kesah dan problematika pernikahannya terakumulasi dalam Dari Fontenay ke Magallianes. Ia banyak melukiskan perasaannya tentang peristiwa liburan, tinggal bersama dengan satu keluarga sahabat Perancis dalam satu rumah, berbagai makanan yang disajikan berikut rasanya, kehamilan keduanya yang tak terduga dan tak diharapkan, dan ... perselingkuhan yang menggetarkan dengan Bagus sang kapten (hal 115-117). Dalam La Grande Borne, Dini nyaris sudah pisah ranjang dengan suaminya. Hubungan suami istri yang sudah membusuk dari dalam ini, ditambah penyakit yang nyaris merenggut nyawanya, dan sesekali masih melanjutkan hubungannya dengan Bagus, Dini seolah menemukan pencerahan kembali pada spiritualisme Timur, dengan menjalani lelaku seperti yang dikenal dalam adat Jawa. Dan perselingkuhan yang menggetarkan ini pun menjadi terpupus di ujung, saat Dini menyatakan pengin berpisah dengan suaminya, Bagus keburu meninggal karena kecelakaan (Argenteuil, hal 35).

Masih banyak yang dapat dibaca dan dipetik manfaatnya tentang bagaimana si tokoh ’aku’ mengurus perceraiannya, mulai menata kehidupannya sendiri, dan hidup terpisah dari anak bungsunya, Pierre Louis Padang, yang ketika itu baru berumur 8 tahun, dan anak sulungnya yang bernama Marie-Claire Lintang yang mengikuti ayahnya. Dini akhirnya berpisah dengan suaminya, Yves Coffin, pada 1984, dan mendapatkan kembali kewarganegaraan RI pada 1985 melalui Pengadilan Negeri Jakarta. Dan, bagaimana kisah-kisah Dini setelah ia kembali jadi warga negara Indonesia, kita tunggu saja kelahirannya dalam tahun-tahun mendatang.

Betapapun banyak kritikus yang menyoal bahwa Nh Dini sebagai pengarang yang terus- menerus menyuarakan kemarahannya kepada kaum laki-laki (Budi Darma), ’kebawelan yang panjang’ (Putu Wijaya), atau karya-karya Dini hanya terfokus pada masalah pribadi tokoh-tokohnya, dan sulit untuk melakukan perubahan yang mendasar pada situasi yang ada (Tineke Hellwig, 1994); Nh Dini adalah satu dari sedikit perempuan pengarang yang penting di negeri ini. Karya-karyanya sangat representatif bagi banyak persoalan perempuan yang dikungkung oleh tradisi kebudayaan lelaki. Selamat ulang tahun yang ke-72 Eyang-Ibu Dini. Semoga panjang umur.

B Rahmanto Dosen Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma


Tidak Merasa Tua Menuju Usia 80


Ada dua perbedaan mencolok yang dirasakan perempuan novelis Nh Dini sewaktu memperingati hari ulang windu (8 tahunan) terakhir, yakni saat peringatan 8 windu atau 64 tahun dan 9 windu atau 72 tahun yang jatuh pada tanggal 29 Februari 2008 lalu. Perasaan takut, kaget menghadapi masa tua, tidak dirasakan Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, nama lengkap Nh Dini, di usianya saat ini. Perasaan itu justru muncul pada saat peringatan ulang tahun ke-64 pada tahun 2000 lalu.

"Sekarang saya 72 tahun, kok merasa lebih tenang. Yo wis-lah kalau tambah setahun yo ra po-po (ya tidak apa-apa),” ujar Dini. Perasaan lebih tenang dengan bertambahnya umur ini sudah ia sadari sejak memasuki usia 70 tahun.

”Yang kaget, justru sewaktu ulang windu sebelum ini, saat umur 64 tahun. Kaget saya! Rupanya saya sudah tua, tapi saya kok tidak merasa tua,” kata Dini menambahkan. Kala itu ada perasaan bersalah dan penyesalan dalam dirinya terhadap semua yang pernah ia lakukan sebelumnya. Bahkan untuk menebus kesalahan yang pernah ia jalani itu terbersit di pikirannya untuk bisa kembali ke zaman dulu dan mengulang semua hal yang pernah terjadi dengan hal-hal yang menurutnya lebih baik.

Rasa penyesalan dan bersalah tersebut telah berlalu justru dengan bergulirnya waktu. ”Ya sudah, dilakoni saja. Jadi, tidak ada perasaan sedih, ndak ada perasaan merasa tua menuju 80 tahun. Saya enggak merasa bahwa ini suatu beban, jalani saja satu langkah lagi ke depan,” papar Dini. Menurut Dini, situasi mirip seperti ini tergambar dalam bukunya terakhir yang diluncurkan bersamaan dengan peringatan 9 windu yang berjudul Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri.

”Ibu saya pernah membisikkan kata-kata yang membikinku sekali lagi ’pasrah’ sewaktu ada perasaan penyesalan yang mendalam dan menggugat keputusan Yang Kuasa karena sahabatku Anis meninggal: √©ling Ndhuk, √©ling! Apakah kita ini! Hanya manusia yang masing-masing diberi jatah dan ragam kehidupan menurut kuasa-Nya. Dia sudah memperhitungkan semua lakon dan usia setiap makhluk bagaikan penulis skenario andal,” kata Dini. Mendengar bisikan ibunya itu Dini akhirnya merasa harus menuruti garis hidupnya sendiri.

Bertambahnya usia ternyata tidak menyurutkan Dini untuk terus menulis dan menulis. Buku terakhirnya Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri yang kembali diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama merupakan kelanjutan dari rangkaian buku seri Cerita Kenangan sebelumnya. ”Jadi, ini bukan novel. Saya buat serangkaian seri kenangan yang pura-puranya tokoh utamanya saya,” jelas Dini. Ia juga menolak kalau Seri Kenangan disebut sebuah riwayat hidup atau otobiografi. Menurut Dini, Cerita Kenangan tidak bercerita melulu mengenai dirinya, melainkan juga tentang kejadian dan manusia-manusia di lingkungannya selama ia hidup yang mengandung arti suvenir atau kenangan.

Karya pertama seri Cerita Kenangan berjudul Sebuah Lorong di Kotaku (1986). Buku ini ditulis Dini sewaktu bekerja sebagai perawat Tuan Willm di kota Argenteuil, Perancis. Isinya bercerita mengenai berbagai peristiwa dalam perjalanan hidup Dini dan keluarganya di kawasan atau lingkungan di mana ia dilahirkan dan dibesarkan. Sebuah rumah di gang kecil yang pada kedua sisinya dialiri selokan dalam di pojok Kampung Sekayu di Kota Semarang, Jawa Tengah.

Berikutnya menyusul buku cerita kenangan lain seperti, Padang Ilalang di Belakang Rumah (1987), Langit dan Bumi Sahabat Kami (1987), Kuncup Berseri (1996), hingga yang terbit tahun 2007 berjudul La Grande Borne. Buku seri Cerita Kenangan yang sudah diterbitkan hingga saat ini seluruhnya berjumlah 11 buku, termasuk yang baru diterbitkan tahun ini Argenteuil, Hidup Memisahkan Diri (2008).

Argenteuil mengisahkan kehidupan Dini saat pertama kalinya hidup memisahkan diri lepas dari suaminya, Yves Coffin, seorang diplomat Perancis. ”Nah, ini merupakan periode hidup menyendiri lagi dalam berumah tangga,” kata Dini. Berbeda dengan karya sebelumnya, La Grande Borne, yang isinya penuh dengan kepedihan, pada Argenteuil Dini bisa lebih lancar dalam menuliskannya. ”Rasanya ada kepuasan hidup tanpa pendamping yang begitu menekan. Ya, ada semacam ...(menghela napas) lepas dari beban yang berat,” ujar Dini.

Periode Nh Dini memisahkan diri dari keluarga ini lantaran suaminya, Yves Coffin, mendapat tugas baru menjadi Konsul Jenderal Perancis di Detroit, Amerika Serikat. Hubungan suami istri yang semakin memburuk di antara keduanya pada saat itu membuat Dini memutuskan untuk tidak ikut ke AS. Hanya suami dan anak laki-laki bungsunya, Pierre Louis Padang, yang saat itu masih berumur 8 tahun yang berangkat ke Detroit, sementara ia dan putri sulungnya, Marie Claire Lintang, tetap tinggal di Perancis karena Lintang masih harus menyelesaikan sekolahnya untuk mendapatkan ijazah Bacalaureat.

Argenteuil adalah sebuah kota kecil yang letaknya kurang lebih 10 kilometer barat laut Perancis. Di sinilah Dini mulai kembali hidup sendiri dengan bekerja sebagai wanita pendamping (dame de compagnie) seorang laki-laki tua, Tuan Willm, di sebuah rumah besar yang sebelumnya pernah ditinggali Karl Marx. ”Hidup sendiri tapi tidak kesepian,” kata NH Dini. Lintang hanya di akhir pekan saja tinggal bersamanya karena Lintang harus tinggal di asrama.

Rasa pedih dan bosan hidup berumah tangga seperti yang diceritakan Nh Dini dalam La Grande Borne sudah tidak tampak dalam buku terbarunya ini. Kesedihan yang mendalam akibat ditinggal ’kekasih’-nya yang meninggal karena kecelakaan, yakni Maurice si Kapten Bagus, juga sudah hilang. Nh Dini justru merasa berbahagia karena ia akhirnya bisa bertemu dengan keluarga Kapten Bagus, bahkan mendapat kesempatan mengunjungi rumah masa kecil tempat kekasihnya dibesarkan.

Obsesi keliling dunia

Saat ini, Nh Dini menikmati masa tuanya dengan tenang di Wisma Lansia Langen Werdhasih di kaki Gunung Ungaran, 30 km sebelah selatan Kota Semarang. Ia di sana sejak akhir 2006. Raut wajahnya yang terlihat lebih muda seolah menyembunyikan usianya. ”Mungkin ini juga, karena ya, hidup tinggal menjalani saja. Memang banyak orang melihat saya kelihatan lebih muda, terutama kalau tidak melihat saya jalan. Soalnya, saya kalau jalan lebih pede (percaya diri) pakai teken (tongkat). Sudah dua tahun ini saya terkena osteoarthritis,” jelas Dini. Untuk mengatasi sakitnya itu, ia rutin mengonsumsi vitamin D, vitamin khusus untuk tulang rawan dan tusuk jarum.

”Saya sudah 30 tahun ini tusuk jarum ke Pak Tjiong di Jagalan. Saya dan dia bahkan sudah angkat saudara. Jadi, enggak perlu bayar, papar Dini sambil tertawa.

Hari-harinya kini masih dilewatkan dengan menulis buku serta sesekali diundang menjadi pembicara atau berceramah, baik di dalam maupun di luar negeri. Pada bulan November 2007 lalu, ia sempat mewakili Indonesia untuk menghadiri ”Jeounju 2007 Asia-Africa Literature Festival” di Korea Selatan. Naskah buku seri Cerita Kenangan periode setelah Argentieul yang diberi judul Dari Rue Saint Simon ke Jalan Lembang sudah ia selesaikan namun tidak akan diterbitkan dulu. ”Ada sekitar 200 halaman. Tapi karena ada dua atau tiga orang yang saya harus ganti namanya. Sebenarnya, orangnya sendiri enggak masalah, tapi lingkungannya yang mungkin belum bisa menerima. Jadi terpaksa saya lompati langsung ke Pondok Baca periode saya sudah tinggal kembali di Semarang,” jelas Dini.

Kendati sudah merasa lebih tenang menghadapi masa tua, masih ada kegelisahan dalam dirinya karena ia masih menyimpan dua obsesi yang belum tercapai.

”Pertama, saya kepengin keliling dunia ke berbagai universitas di dunia yang ada jurusan Sastra Indonesia. Saya ingin ketemu muka dengan mereka yang belajar Sastra Indonesia. Kenapa mereka mau belajar Sastra Indonesia. Atau paling tidak bisa keliling daerah-daerah di Indonesia, keliling ke SMA-SMA, dialog di aula dengan wakil murid-murid, sharing soal sastra, kenapa saya menggeluti sastra, dan sebagainya,” kata Dini.

Kegelisahan yang kedua adalah ia ingin pemerintah daerah atau perusahaan swasta ada yang mau memberi dana abadi untuk kesehatannya.

”Saya ingin hidup santai dan enggak perlu lagi menghitung duit terus untuk urusan kesehatan. Di Malaysia kan para pengarang juga mendapatkan hal itu dari pemerintah atau kerajaan,” tambah Dini.

Selain itu, ia juga gelisah melihat perkembangan dunia sastra di Tanah Air saat ini. Menurut Nh Dini, karya sastra anak muda sekarang cenderung dangkal. ”Mereka itu hanya memaparkan fisik saja, kedalamannya enggak ada,” tutur Dini. Hal ini disebabkan karena sastrawan-sastrawan muda sekarang kurang riset dan kurang bacaan.

”Orang muda kita ini membaca tidak, melihat ya... hanya melihat begitu saja, mendengar juga tidak, karena mereka hanya ingin omong sendiri. Cuma memuaskan diri saja. Akibatnya, deskripsinya enggak ada kedalaman, hanya tampangnya saja,” kata Dini menambahkan.(Anung Wendyartaka/ Litbang Kompas)


* Digunting dari Harian Kompas Edisi Pustakaloka Senin 17 Maret 2008
[+baca-]